Monday, March 17, 2014

Harga IPO Wika Beton Wajar di Rp 590

Jakarta, 18 Maret 2014 – PT Wijaya  Karya Beton, Tbk (akan berkode: WTON) menawarkan Rp 590/ lembar untuk saham baru yang akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia tanggal 3 April 2014. AFN melihat bahwa harga ini wajar melihat dari rasio P/E 2014 yang masih 16x dengan PBV 2x. Selain itu, harga tersebut wajar mengingat pertumbuhan laba yang akan diperoleh Wika Beton dalam 2015 - 2016.

Anak perusahaan terbesar dari perusahaan konstruksi infrastruktur terbesar, PT Wijaya Karya (Persero), Tbk (WIKA) ini menawarkan 2,05 miliar lembar saham baru atau 23,47% dari modal ditempatkan. Dengan harga Rp 590, maka dana yang diharapkan akan diterima oleh perusahaan adalah Rp 1,21 triliun.

Perusahaan memproyeksikan pencapaian laba sebesar Rp 311 miliar pada 2014. Target tersebut mengalami peningkatan dibandingkan realisasi laba tahun lalu sebesar Rp 240 miliar. Bila target ini tercapai, maka harga Rp 590 mencerminkan rasio P/E 16,5x atau masih setara dengan P/E IHSG .

Pengunaan dana IPO ini akan AFN bagi menurut lamanya dana tersebut dapat menghasilkan pendapatan bagi perusahaan:
  1. Langsung dapat meningkatkan pendapatan:
    • Sekitar 19,4% atau Rp 234,12 miliar  untuk pengembangan usaha jasa yaitu pembelian alat pancang inner boring dan penambahan alat post tensioning, dimana jasa saat ini sudah berkontribusi 0,8% dari total pendapatan perusahaan;
    • Sekitar 3,2% atau Rp 38,62 miliar untuk pembentukan unit perbengkelan (mould maker);
    • Sekitar 15%  atau Rp 181,02 miliar akan digunakan untuk tambahan modal kerja.
  2. Dapat meningkatkan pendapatan dalam 1-2 tahun ke depan:
    • Sekitar 18,5%  atau Rp 223,26 miliar untuk pengolahan quarry material alam di Cigudeg, Donggala, Boyolali dan Lampung Selatan yang kini masih dalam tahap eksplorasi;
    • Sekitar 39,5% atau Rp 476,70 miliar untuk pembangunan pabrik baru di Lampung Selatan, Pasuruan dan Kalimantan Timur yang masih dalam tahap perencanaan pembangunan;
    • Sekitar 19,5% atau Rp 235,33 miliar untuk penambahan kapasitas pabrik existing di pabrik Sumatera Utara, Lampung, Bogor, Karawang, Majalengka, Boyolali, Sulawesi Selatan dan cetakan produk.

Pada tahun 2014, perusahaan berencana membangun pabrik baru di Lampung Selatan di atas tanah
seluas ±66 Ha yang dilengkapi dengan prasarana jetty untuk bongkar muat produk jadi, serta dilengkapi dengan tersedianya material alam yang dibutuhkan untuk menjamin pasokan material alam. Pada tahap awal, kapasitas produksi pabrik baru tersebut direncanakan sebesar 100.000 ton per tahun. Pada tahun yang sama Entitas Anak Perseroan membangun pabrik baru di daerah Cilegon dengan kapasitas 50.000 ton per tahun di atas lahan seluas 3 Ha.

Di samping itu pada tahun 2014, perusahaan juga berencana membangun jalur produksi baru di
Pabrik Pasuruan II di atas tanah seluas 4,2 Ha dengan kapasitas terpasang sebesar 100.000  ton per tahun dan pembangunan pabrik baru di Kalimantan Timur secara bertahap untuk mendukung pemasaran di daerah Kalimantan bagian Timur, Utara, Tengah  dan Selatan.


Untuk pengembangan pasar, Wika Beton akan mengembangkan produk baru berupa tiang pancang berdiameter besar, pengembangan produk selain tiang pancang dan pengembangan area pasar. Sedangkan untuk internal perusahaan akan dilakukan efisiensi.

Di sektor minyak dan gas, ada kebutuhan mengganti struktur dari baja menjadi beton pracetak serta penggunaan tiang pancang dari beton pracetak dengan diameter hingga 2000 mm untuk kebutuhan jetty pada laut dalam. Sedangkan pengembangan pasar di Sulawesi melihat adanya proyek pembukaan akses jalan di Sulawesi serta perluasan dan penambahan pelabuhan.

Dengan melihat kapan pendapatan akan meningkat sebagai hasil dari IPO bulan ini, maka AFN memprediksikan bahwa pertumbuhan laba tahun 2015 dan 2016 dapat lebih tinggi dari 25%.

Sunday, March 16, 2014

Bank Jabar Banten’s profit increased 15.11% up to Rp 142 per share



PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten, Tbk (BJBR) booked an increasing earnings per share of Rp 142 in 2013 compared to the previous year of Rp 123,  pushed by significant rise of the net interest incomes and the operational revenues. At market closing on Friday (14/3), Bank Jabar Banten’s share was Rp 1,045 (0,97%) with price to earnings ratio (PER) at 7.36 times or below than the market and banking PER around at 18.3%.
 
The bank’s interest income increased by 19.68% to Rp 8.13 trillion in 2013, rose from Rp 6.80 trillion in 2012. This increase was due to higher of the bank’s credit.

With the cost of fund manageable and only rose by 6.70% to Rp 3.35, from Rp 3.14 trillion, net interest margin spiked significantly by 30.82% to Rp 4.78 trillion from Rp 3.66 trillion. 

The bank’s other operating revenues increased by 38.41% amounting to Rp 457.26 billion compared to last year of Rp 330.36 billion. It was dominated by fees and commission of the bank that hiked by 22.58% amounting as Rp 268.72 billion and recovery of loan write-off that increased by 85.13% amounting to Rp 136.14 billion.

Meanwhile, the operational income of the bank increased higher than the revenues. It made operational income slightly pressured and just rose by 23.44% amounting as Rp 1.75 trillion compared than last year as Rp 1.42 trillion.

Operational expenses rose by 35.88% valued at Rp 3.49 trillion compared than the year before at Rp 2,57 trillion caused by increasing of general and administrative expenses, salaries expenses, lost in marketable securities and impairment loses of financial assets.

General administrative expenses of the bank increased by 27.45% amounting as Rp 1.26 trillion compared to 2012 that was Rp 986.24 trillion. Salaries expenses hiked 30,87% up to Rp 1.27 trillion from Rp 967.34 billion, and impairment loses of financial asset rose by 52.72% to  Rp 616.07 billion from Rp 403.39 in 2012.

Despite the bank’s significant revenue growth, even above the industry projection by BI of 18% - 21%, the net income only increased by 15.11% or below of the industry at 17%-19% caused by inefficiency in managing operational expenses. 

The bank’s net profit just increased to Rp 1.37 trillion compared to Rp 1.19 trillion in 2012, with the return on equity slightly up to 26.76% from 25.02% in 2012.


Tiny growth in asset but loan was soaring
The bank’s asset just rose by 0.17% to Rp 70.96 trillion from Rp 70.84 in 2012, but loan and financing spiked to 27.66%.

Asset growth was restrained caused by decreasing assets that were placed at BI by 46.04% to Rp 6.12 trillion from Rp 11.34 trillion in 2012.  The placements in other bank also shrank by 29.87% to  Rp 1,14 trillion compared to 2012 at Rp 1.62 trillion and the  marketable securities that purchased under agreements to resell (reverse repo) was also recorded  released along as 2013 compared than the year of 2012 was booked by Rp 11.57 trillion.


An aggressive growth of loans and financing showed that the bank’s management chose to maintain the profitability rather than maintaining in asset qualities as indicated by the increase in non-performing loans even though faced with the challenge of liquidity. 

This may prove a challenge to the bank in the future.