Thursday, September 25, 2014

Pelemahan Rupiah dan Karakter Perusahaan Layak Investasi

Jakarta, 26 September 2014 - Sejak awal Agustus dan makin jelas pada awal September, Rupiah terus melemah terhadap dolar AS. Ada beberapa faktor yang ditengarai menjadi penyebabnya, baik internal maupun eksternal. Bagaimana investor harus memilih di tengah-tengah pelemahan seperti ini?

Sudah lima hari berturut-turut, Rupiah menetap di angka lebih dari Rp 12.000/dolar AS. Padahal di awal Agustus, Rupiah baru menyentuh Rp 11.533/dolar AS. Artinya selama hampir 2 bulan ini, Rupiah sudah melemah lebih dari 4%. Penyebab pelemahan ini berasal baik dari luar Indonesia, maupun dari dalam negeri.

Faktor luar yang tidak dapat ditentukan oleh Indonesia namun dapat diprediksi, adalah kenaikan suku bunga The Fed yang diperkirakan akan terjadi awal tahun depan. The Fed telah menyatakan hal tersebut sejak awal tahun ini, yaitu apabila indikator perekonomian Amerika terlihat membaik dan angka pengangguran menurun.

Langkah the Fed untuk menghentikan stimulusnya mendorong Bank Sentral Eropa dan Bank Sentral China juga bergerak untuk mempertahankan perekonomiannya masing-masing. Bank Sentral Eropa menyatakan akan tetap mengambil kebijakan moneter longgar sehingga inflasi dapat didorong sampai tetap di bawah 2%.  Likuiditas yang akan mengalir kembali ke Amerika akibat kenaikan suku bunga The Fed, dikuatirkan akan menekan pertumbuhan ekonomi Eropa apabila Bank Sentral Eropa tidak mengambil kebijakan tersebut.

Seiring dengan itu, Bank Sentral China juga memberikan sinyal akan melonggarkan kebijakan moneternya dengan cara menginjeksi dana stimulus kepada bank-bank terbesarnya. China akan mengambil keuntungan dengan melemahkan mata uang Yuannya untuk mendorong ekspor. Kebijakan ketiga bank sentral yang paling berpengaruh ini membawa dampak Rupiah yang makin melemah terhadap dolar AS.

Dari dalam negeri, pelemahan Rupiah juga disebabkan oleh defisit neraca perdagangan yang telah terjadi empat triwulan berturut-turut serta ekspektasi utang valas yang sedianya akan banyak jatuh tempo pada tahun ini. Selain itu penantian kabinet baru juga mempengaruhi kehati-hatian pelaku pasar di dalam membuat keputusan.

Tekanan nilai Rupiah ini diperkirakan akan terus berlangsung sampai tahun 2015 karena dorongan inflasi. Inflasi akan dipicu oleh pengurangan subsidi BBM yang telah diindikasikan oleh pemerintahan baru.

Kini yang lebih penting, di dalam situasi tekanan Rupiah ini, perusahaan-perusahaan mana yang masih menarik untuk diinvestasikan? Pertama adalah perusahaan-perusahaan yang tidak memiliki utang valas jangka panjang, sehingga dampak tekanan nilai Rupiah kecil. Kedua, adalah perusahaan-perusahaan yang sebagian pendapatannya adalah dari ekspor terutama yang pembayarannya dalam mata uang dolar AS, sehingga terjadi lindung nilai alami. Ketiga, adalah perusahaan-perusahaan yang bahan bakunya bukan impor tapi dari sumber-sumber domestik. 

Ke depannya, untuk mengurangi risiko ekonomi nasional, Bank Indonesia sedang mengkaji untuk membatasi utang sektor swasta berbasis valutas asing maksimal 70% dari aset. Porsi ini adalah porsi yang sangat moderat karena berarti bisa saja seluruh utang perusahaan berupa mata uang asing. Tetapi yang perlu diperhatikan dari kebijakan ini adalah intensi Bank Indonesia untuk meningkatkan pengawasan dan mendorong adanya strategi lindung nilai agar tidak terjadi lagi krisis moneter seperti tahun 1998.

Tuesday, September 23, 2014

Kinerja Timah Meningkat Seiring Defisit Permintaan Timah Global

Jakarta, 24 September 2014 - PT Timah (Persero) Tbk., (TINS) membukukan kenaikan kinerja keuangan dengan membukukan kenaikan laba bersih hingga 14,3% menjadi sebesar Rp 202,75 miliar dengan didukung kenaikan pendapatan hingga 10,8% y sebesar Rp 2,75 triliun setelah defisit permintaan timah di pasar global bertambah, walaupun secara volume penjualan menurun.

Defisit permintaan timah global tersebut membuat harga komoditas timah di pasar global mengalami kenaikan sehingga mendorong kinerja Timah (Persero), pada semester pertama tahun ini.

Diprakirakan defisit permintaan timah yang terjadi sejak tahun lalu tersebut masih berpeluang akan berlanjut hingga tahun depan seiring meningkatnya konsumsi timah global terutama untuk industri manufaktur elektronik dan kemasan makanan.

Sementara itu, penjualan Timah (Persero), secara volume lebih rendah dibandingkan tahun lalu hanya sebesar 9,7 ribu ton dibandingkan semester pertama tahun lalu sebesar 10,9 ribu ton, karena kebijakan pembatasan ekspor. Namun karena harga timah dunia yang menguat, nilai pendapatan PT Timah (Persero) Tbk tercatat tumbuh.

Berdasarkan kinerja operasional, Timah (Persero), masih dibayangi dengan tingginya biaya produksi. Beban produksi tercatat naik hingga 47,5% menjadi Rp 2,67 triliun dibandingkan dengan sebelumnya sebesar Rp 1,80 triliun dengan komponen bahan baku menjadi komponen biaya terbesar.

Biaya bahan baku tersebut yang merupakan komponen produksi naik hingga 98% menjadi Rp 1,43 triliun dibandingkan dengan tahun lalu sebesar Rp 718,84 miliar. Kenaikan biaya tersebut seiring kenaikan volume produksi  logam timah yang naik 12,42% menjadi 10,9 ribu ton dan produksi ore yang naik hingga 40,9% menjadi 14,4 ribu ton.  

Marjin laba kotor PT Timah (Persero), Tbk., tercatat meningkat menjadi 23,71% dengan laba kotor  naik menjadi Rp 651,93 miliar dibandingkan dengan sebelumnya dengan dengan marjin laba kotor 19,84% dengan nilai laba sebesar Rp 506,47 miliar.

Sementara itu, laba usaha PT Timah (Persero), Tbk., tercatat naik 53,9% menjadi Rp 359,76 miliar dengan didukung kenaikan beban usaha yang tidak lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan laba kotor.

Dari sisi rasio harga, price multiplier PT Timah (Persero) Tbk., masih relatif mahal dengan mencatatkan PER hingga 23,90 kali dengan PBV 1,24 kali. Nilai PER tersebut tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan pasar Indonesia dengan PER rata-rata tertimbang sebesar 21 kali, namun PBV lebih rendah dibandingkan PBV pasar indonesia sebesar 3 kali. Bahkan, jika dibandingkan dengan emiten timah di pasar global yang go public, Price multiplier Timah (Persero) Tbk., juga lebih tinggi dengan rata-rata PER emiten timah global sebesar 18,3 kali.

Namun, ASCEND melihat pendapatan perusahaan sepanjang tahun ini dan tahun depan cenderung meningkat akibat kenaikan harga karena minimnya ekspor dari Indonesia akibat kebijakan larangan ekspor minerba mentah dari pemerintah di awal tahun ini. Kenaikan harga akan mendorong kinerja bottom line sehingga harga saham di pasar masih berpeluang menguat.


Apalagi Timah (Persero) sudah mampu memproduksi logam timah (refined tin) hingga mencapai 10,8 ribu ton dalam semester pertama ini. Tahun depan diharapkan perusahaan sudah kembali memperoleh pendapatan dari pasar ekspor dengan nilai jual yang lebih tinggi. 

Monday, September 22, 2014

Bakrie Sumatra Plantations Hadapi Kemungkinan Default

Jakarta, 22 September 2014 – PT Bakrie Sumatra Plantations, Tbk (UNSP) mengakui belum melakukan pembayaran bunga, dan dapat menghadapi tuntutan gagal bayar apabila proses negosiasi tidak berhasil.

Di dalam laporan keterbukaannya kepada Bursa Efek Indonesia, Bakrie Sumatra menyatakan belum melakukan pembayaran bunga atas wesel bayar sebesar ekuivalen Rp 865,43 miliar pada 31 Maret 2014. Perusahaan telah menunjuk Bank of New York sebagai wali amanat, agen pembayaran dan pencatatan.

Wesel bayar tersebut digunakan untuk membiayai peningkatan investasi pada saham Agri International Resources Pte., Ltd, anak perusahaan, dan  dijamin oleh PT Bakrie Pasaman Plantations, PT Agrowiyana, PT Agro Mitra Madani, PT Huma Indah Mekar dan PT Air Muring, Entitas Anak.

Laporan keuangan semester I -2014 perusahaan belum disampaikan karena sedang melaksanakan audit eksternal. Namun dari laporan keuangan triwulan I-2014 perusahaan, tercatat utang jangka panjang yang jatuh tempo dalam waktu 1 tahun mencapai Rp 3,71 triliun, sementara pinjaman jangka panjang mencapai Rp 6,11 triliun. Angka ini sangat tinggi mengingat nilai buku ekuitas perusahaan hanya Rp 5,27 triliun, sementara pendapatannya hanya Rp 659,21 miliar.

Walaupun tanpa kondisi pasar yang sedang turun sebagaimana diklaim di surat sebelumnya, menurut ASCEND, Bakrie Sumatra tetap kesulitan untuk melaksanakan pembayaran utang. Perusahaan mencatatkan rugi Rp 186.740 pada triwulan I ini.

Perusahaan mengakui bahwa keterlambatan bayar ini dapat mengakibatkan perusahaan menghadapi event of default. Namun hal ini belum terjadi karena sampai saat ini perusahaan belum menerima notice event of default dari Bank of New York. Untuk mencegah hal ini terjadi, perusahaan sedang melaksanakan negosiasi.


ASCEND belum merekomendasikan Bakrie Sumatra di dalam portofolio investasi, terutama bagi investor jangka panjang, memiliki toleransi rendah pada kerugian, dan berbasis fundamental, walaupun harganya Rp 50. 

Sunday, September 21, 2014

Adhi Karya Jelaskan Penurunan Laba Bersih dan Arus Kas Negatif

Jakarta, 22 September 2014 – PT Adhi Karya (Persero), Tbk (ADHI) di dalam jawaban atas permintaan penjelasan Bursa Efek Indonesia, menjelaskan bahwa penurunan laba bersih yang dicatatkannya pada semester ini disebabkan oleh penurunan pendapatan serta meningkatnya beban pegawai. Sementara arus kas operasional tercatat negatif dikarenakan tahun lalu banyak mendapatkan uang muka.

Adhi Karya mencatatkan penurunan pendapatan 4,1% menjadi Rp 3,19 triliun, diiringi dengan penurunan laba bersih 12,5% menjadi Rp 55,91 miliar. Pendapatan bersih ventura bersama konstruksi (JO), yaitu pendapatan dari proyek-proyek yang dilaksanakan bersama dengan perusahaan lain, turun drastis menjadi hanya Rp 2,97 triliun dari sebelumnya Rp 46,37 triliun. Perusahaan menjelaskan penurunan tersebut dikarenakan telah selesainya banyak proyek-proyek JO terutama proyek Bandara Ngurah Rai Bali dan Bandara Sepinggan.

Perusahaan juga menyatakan adanya kenaikan beban usaha terkait beban pegawai akibat adanya penyesuaian pendapatan pegawai sebesar sekitar 36% untuk menyesuaikan pasar, merupakan salah satu faktor penurunan laba bersih. Beban usaha meningkat 24% menjadi Rp 144,32 miliar. Di dalam beban usaha tersebut, kenaikan terbesar adalah pada beban pegawai sebesar 30% menjadi Rp 77,5 miliar.

Sementara arus kas operasional perusahaan negatif sebesar Rp 1,14 triliun, lebih besar daripada tahun 2013 sebesar Rp 811,72 miliar. Hal ini dikarenakan penurunan penerimaan kas dari pelanggan sebesar 8,18% menjadi Rp 3,71 triliun, sementara pembayaran kepada pemasok relatif sama yaitu Rp 4,64 triliun.

Perusahaan menjelaskan hal ini dikarenakan tahun lalu banyak mendapatkan uang muka, sementara tahun ini turun. Perbandingan antara uang muka diterima dari pelanggan pada tanggal 30 Juni 2014 dan 2013 adalah Rp 649,68 miliar di 2014 dan Rp 828,08 miliar.

Strategi ke depannya, Adhi Karya akan mempercepat tagihan kepada pemberi tugas, mengupayakan penagihan terhadap piutang-piutang bermasalah, serta melakukan seleksi proyek-proyek baru dengan lebih baik terutama terkait uang muka.

Adhi Karya adalah satu-satunya BUMN infrastruktur yang mengalami penurunan pendapatan dan laba bersih. Saat ini, Adhi Karya adalah BUMN infrastruktur dengan nilai buku ekuitas dan kapitalisasi pasar terendah.


Hingga akhir Juni, perusahaan mengklaim telah berhasil memperoleh kontrak baru sebesar Rp3,5 triliun yang masih banyak didominasi oleh proyek-proyek gedung sebesar, jalan dan jembatan. Beberapa proyek tersebut adalah RSUD Kota Banjarbaru, proyek perkuatan Dermaga Tanjung Priok, proyek Jetty dan Coal Handling milik PT Pusri (Persero) Palembang.



Wednesday, September 17, 2014

Sasar Ekspor, Charoen Targetkan Pertumbuhan Kuat

Jakarta, 18 September 2014 – PT Charoen Pokphand, Tbk (CPIN) berniat meningkatkan lagi pertumbuhan pendapatannya dengan ekspor makanan olahan ke Timur Tengah, Singapura dan Kamboja. Semester ini perusahaan membukukan pertumbuhan pendapatan 20% didorong oleh penjualan pakan dan ayam olahan.

Sebelumnya perusahaan telah berhasil menembus pasar Jepang dengan produk makanan olahannya, terutama Karage. Selanjutnya Jepang akan menjadi tolok ukur untuk tiga pasar utama yang disasar oleh Charoen Pokphand adalah Timur Tengah, Singapura dan Kamboja.

Tahun ini Charoen menargetkan produksi mencapai 15 juta kg per minggu, naik 25% dari produksi tahun lalu dan didukung dengan pertumbuhan produksi ayam usia sehari (DOC) 20% per tahun. Kenaikan produksi ini adalah untuk mempertahankan pangsa pasar domestik maupun ekspornya.
 
Namun angka ini belum sepenuhnya tercapai di laporan keuangan perusahaan Juni 2014. Pendapatan perusahaan naik hanya 20% menjadi Rp 14,43 triliun, didorong oleh pertumbuhan pakan sebesar 26% menjadi Rp 10,79 triliun yang berkontribusi kepada total pendapatan sebesar 75%. Pertumbuhan ayam olahan baru sebesar 23% menjadi Rp 1,31 triliun.

Sementara ayam usia sehari tidak menunjukkan pertumbuhan karena penyaluran produksinya memang adalah kepada proses selanjutnya yaitu ayam olahan.

Laba bersih turun 18% jadi Rp 19,8 triliun karena peningkatan beban pokok pendapatan. Peningkatan beban ini mungkin terjadi di dalam satu tahun ini karena adanya transisi antara penjualan ayam usia sehari langsung kepada pihak ketiga kepada proses olahan selanjutnya untuk dijual sebagai ayam olahan.
 
Tekanan laba juga disebabkan oleh kenaikan gaji karyawan, promosi dan iklan, dan beberapa beban penjualan lainnya. Peningkatan ini ASCEND nilai wajar mengingat model bisnis yang berubah dari B-to-B menjadi B-to-C yaitu retail, membutuhkan investasi khusus dalam promosi dan logistik. Ke depannya, perubahan model bisnis ini diharapkan akan membawa kepada peningkatan profitabilitas perusahaan.


Pasar telah mengapresiasi langkah perusahaan ini dengan kenaikan harga yang signifikan, yaitu 12% dalam periode waktu 5 hari. Walaupun strategi bisnis perusahaan baik dan memiliki pemikiran ke depan, akan tetapi investor perlu hati-hati dengan kenaikan harga saham yang lebih tinggi lagi mengingat rasio harga atas laba (PER) sudah 28,09 kali dan rasio harga atas nilai buku (PBV) sudah 6,74 kali, lebih tinggi dari pasar dan rata-rata manufaktur produk konsumen.