Wednesday, June 26, 2013

Steel Pipe Tunda Ekspansi





Steel Pipe Industry of Indonesia (ISSP) menunda ekspansi pembangunan pabrik baru di Gresik yang ditargetkan sudah bisa berproduksi tahun ini. Penundaan ini dikarenakan target dana yang diperoleh pada saat IPO lebih kecil daripada perkiraan, yaitu Rp 855,5 miliar dibandingkan target lebih dari Rp 1 triliun.

ISSP terpaksa menurunkan belanja modal (capex) dari Rp 800 miliar menjadi hanya Rp 200 miliar. Walaupun tidak sesuai dengan target, tapi ISSP tetap akan memproduksi pipa kecil di pabrik Pasuruan. 

AFN melihat penundaan ekspansi ini sebagai hal yang kurang menguntungkan karena:
1. Arus kas dari aktivitas operasional ISSP cukup tinggi, jauh lebih tinggi daripada biaya keuangan hanya hanya sekitar Rp 40,49 miliar di triwulan pertama. Artinya arus kas tersebut dapat membiayai kekurangan dari IPO.


2. Tingkat leverage ISSP masih tergolong rendah dengan rasio DER 1,10x dari rasio utang 0,63x. Apalagi sebagian besar kewajiban ISSP adalah berupa liabilitas lancar.

3. ROE ISSP cukup tinggi ditopang oleh rasio marjin yang tinggi pula. Bila ekspansi dapat meningkatkan level profitabilitas perusahaan, maka penundaan ekspansi akan sayang disayangkan.

AFN melihat bahwa titik kelemahan ISSP ada di aspek-aspek operasional ketimbang finansial, yaitu:
1. Persediaan yang besar dimana sebagian besarnya adalah bahan baku dan barang jadi, membuat hari rata-rata persediaan sangat lama dan membebani perusahaan.

2. Hari rata-rata piutang sangat lama, 70,71 hari sementara hari rata-rata utang usaha hanya 4,04x. Setengah dari piutang ISSP sudah jatuh tempo. Ada selisih yang cukup tinggi yang membuat kas ISSP tertahan.

Karenanya akan jauh lebih baik bagi ISSP untuk mengelola kelemahan-kelemahan tersebut ketimbang menunda ekspansi.
Pergerakan saham ISSP

Informasi tentang IPO ISSP:

Dyviacom akan kembali ke pasar

Grup Salim dan Pieter Tanuri akan melepas 30% saham Dyviacom Intrabumi Tbk (DNET) melalui penawaran terbatas (private placement). Nilai transaksi diperkirakan mencapai US$ 300-500 juta atau ekuivalen Rp 2,94 - 4,9 triliun dengan harga penawaran berkisar antara Rp 1.100 - 1.250/ saham.

Pelepasan ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah saham publik yang setelah rights issue kemarin hanya tinggal 0,36% atau hanya 51,06 juta lembar. Jumlah ini memang terlalu sedikit dan tidak mendukung likuiditas saham di bursa efek. Akan tetapi dengan mekanisme private placement, tujuan peningkatan likuiditas mungkin tidak dapat tercapai karena biasanya pihak pembeli adalah strategic investor atau long-term investor.

AFN melihat bahwa pelepasan ini baik karena akan menambah likuiditas di pasar. Investor minoritas dapat memperoleh nilai tambah dari manajemen baru DNET dan visi baru perusahaan. Akan tetapi mekanisme private placement ini perlu diteliti supaya tujuan likuiditas tersebut tercapai.

Informasi singkat tentang PUT I DNET:
DNET melakukan rights issue sebanyak 14 milyar lembar saham dimana rasionya adalah 23 saham lama untuk 1.750 saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 500,-/ lembar. Pembeli siaga (standby buyer) adalah Hannawell Group Limited dan PT Buana Capital. Dengan rights issue ini maka saham yang beredar menjadi 14,18 miliar lembar.

Penggunaan dana adalah sebagai berikut:
- Sebesar 28,55% atau Rp 1,99 triliun digunakan untuk penyertaan saham pada Fast Food Indonesia Tbk (FAST) sebesar 35,84% dari total saham beredar
- Sebesar 30,45% atau Rp 2,13 triliun digunakan untuk penyertaan saham pada Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) sebesar 31,50% dari total saham beredar
- Sebesar 37,65% atau Rp 2,64 triliun digunakan untuk penyertaan saham pada Indomarco Prismatama.(IDM) sebesar 40,00%
- Sisanya 3,35% atau Rp 234,5 miliar untuk modal kerja perusahaan.

Tujuan rights issue ini adalah supaya Grup Salim dapat mengkonsolidasikan semua aset grup dalam sektor konsumsi kepada Dyviacom.

Struktur Kepemilikan anak perusahaan DNET