Showing posts with label Dyviacom Intrabumi. Show all posts
Showing posts with label Dyviacom Intrabumi. Show all posts

Thursday, September 12, 2013

Fast Food Indonesia Bukukan Penurunan Laba Karena Kenaikan Beban Penjualan

Jakarta, 12 September 2013 - PT Fast Food Indonesia, Tbk (FAST) yang baru saja menyerahkan laporan keuangan yang tidak diaudit telah melaporkan penurunan laba di semester ini padahal pendapatannya tumbuh. Hal ini dikarenakan adanya kenaikan pada beban penjualan dan distribusi.

Laba bersih FAST tercatat Rp 49,01 miliar, turun 37,1% dibandingkan periode yang sama tahun 2012, Rp 77,86 miliar. Padahal pendapatannya tumbuh 10,9% menjadi Rp 1,85 triliun dari Rp 1,67 triliun di 2012. Akan tetapi kenaikan beban penjualan dan distribusi yang mencapai 17,3% serta kenaikan beban umum dan administrasi yang mencapai 18,7% menjadi penekan laba. Bersama-sama, keduanya mengikis 57% dari seluruh pendapatan yang diperoleh.

Sebagian besar kenaikan pada beban-beban ini diakibatkan oleh kenaikan beban gaji dan imbalan kerja sebesar 25,5%.Kenaikan ini disebabkan karena adanya kenaikan upah buruh minimal dan bukan karena bertambahnya unit-unit penjualan. Melihat hal ini maka AFN menyimpulkan bahwa tingkat laba yang mencerminkan ROE 9,9% ini akan konsisten.

Beberapa hal yang menarik bagi investor tentang FAST adalah:
1. Dengan makin konsumtifnya masyarakat Indonesia, dan makin berkembangnya trend untuk makan makanan cepat saji di kota-kota besar, maka prospek pasar FAST masih cukup besar;

2. Neraca yang solid mendukung pertumbuhan ke depan, dimana rasio lancar 1,60x dan rasio liabilitas terhadap ekuitas masih aman di 0,89x.

Tetapi ada pula tantangan FAST ke depannya:
1. Makin banyaknya kompetitor yang mengadopsi model penjualan FAST merupakan hal yang harus diwaspadai terutama pada daerah-daerah di mana FAST belum dapat mendominasi.

2. Penjualan FAST sangat tergantung kepada bagaimana kualitas pelayanan jasa diberikan serta lokasi.

3. Harga FAST sudah termasuk tinggi, dengan PER lebih dari 40 kali apalagi dengan kondisi penurunan laba yang mungkin akan konsisten, serta PBV lebih dari 4 kali.

FAST mungkin akan memiliki potensi untuk naik lagi apabila pemilik yang baru, PT Dyviacom Intrabumi, Tbk (DNET) memiliki rencana strategis untuk mengakuisisi bisnis-bisnis makanan cepat saji lainnya dan menjadikan FAST sebagai holding company dari waralaba makanan-makanan cepat saji. Akuisisi ini akan memberikan pertumbuhan anaorganik yang menguntungkan.

Thursday, July 4, 2013

Pieter Tanuri Lepas Saham MASA

Direktur Utama Multistrada Tbk (MASA), Pieter Tanuri menjual mengurangi jumlah sahamnya di perseroan, sebanyak 37.500.000 lembar saham dengan nilai Rp15 miliar.Pieter melepas sahamnya dengan harga Rp400 per lembar saham dan sudah dilakukan pada 26 Juni 2013 melalui PT Buana Capital. Demikian mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (4/7/2013) malam.

Setelah melepas sebagian sahamnya di MASA, Pieter saat ini hanya memiliki 237.500.000 lembar saham dari sebelumnya mengantongi saham MASA sebanyak 275.000.000 lembar atau 2,99% dari total saham MASA yang beredar di publik.
Perubahan Struktur Pemegang Saham MASA


AFN melihat bahwa langkah ini memberikan signal yang kurang baik bagi investor minoritas MASA karena:
1. Pieter Tanuri merupakan tokoh yang dianggap memiliki kompetensi untuk mengembangkan perusahaan, terutama dengan ide-ide dramatisnya untuk marketing. Konon, Pieter sebenarnya hanya mengembalikan saham kepada pemilik sebenarnya, Salim Group, setelah berhasil memperkuat perusahaan dan kini Pieter ditugaskan di proyek baru, yaitu Dyviacom Intrabumi, Tbk (DNET)

2. Kinerja operasional perusahaan memang sedang tersendat karena harga karet dunia yang sempat tinggi serta ekspor yang tertahan karena krisis ekonomi Eropa. Hasilnya, laba bersih yang kecil dan pertumbuhan melambat membuat arus kas dari aktivitas operasional sangat kecil.

3. Volatilitas Rupiah menyulitkan MASA untuk melakukan lindung nilai yang natural, sehingga sempat terjadi selisih kurs yang merugikan perusahaan.

Akan tetapi sebenarnya MASA masih memiliki potensi besar:
1. Perusahaan sudah mengeksplorasi pasar domestik dan sampai sekarang produk-produknya sudah mulai dikenal pasar umum dan bahkan beberapa telah menguasai ceruk pasar.

2. Tingkat leverage yang baik membuat MASA tidak terbeban dengan kewajiban keuangan yang besar.

3. Ekonomi dunia yang mulai stabil membuat permintaan belanja modal serta kendaraan menguat lagi, menimbulkan permintaan-permintaan baru terhadap produk-produk MASA.

Sebelumnya Pefindo telah memperkirakan di dalam risetnya bahwa pendapatan MASA tahun ini dapat mencapai Rp 3,44T, meningkat 11% dari Rp 3,01 T di tahun 2012. Sementara, laba bersih MASA diperkirakan akan sebesar Rp77 miliar pada akhir tahun ini, jauh dibandingkan Rp 2,75 miliar pada tahun 2012. 

Di kuartal I saja, MASA telah mencatatkan Rp 842,15 miliar pendapatan dan Rp 20,32 miliar. Kinerja ini ditopang oleh kinerja penjualan sebanyak 1,9 juta unit ban PCR (Passenger Car Radial) dan 1,1 juta unit ban MC (Motorcycle)


Wednesday, June 26, 2013

Dyviacom akan kembali ke pasar

Grup Salim dan Pieter Tanuri akan melepas 30% saham Dyviacom Intrabumi Tbk (DNET) melalui penawaran terbatas (private placement). Nilai transaksi diperkirakan mencapai US$ 300-500 juta atau ekuivalen Rp 2,94 - 4,9 triliun dengan harga penawaran berkisar antara Rp 1.100 - 1.250/ saham.

Pelepasan ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah saham publik yang setelah rights issue kemarin hanya tinggal 0,36% atau hanya 51,06 juta lembar. Jumlah ini memang terlalu sedikit dan tidak mendukung likuiditas saham di bursa efek. Akan tetapi dengan mekanisme private placement, tujuan peningkatan likuiditas mungkin tidak dapat tercapai karena biasanya pihak pembeli adalah strategic investor atau long-term investor.

AFN melihat bahwa pelepasan ini baik karena akan menambah likuiditas di pasar. Investor minoritas dapat memperoleh nilai tambah dari manajemen baru DNET dan visi baru perusahaan. Akan tetapi mekanisme private placement ini perlu diteliti supaya tujuan likuiditas tersebut tercapai.

Informasi singkat tentang PUT I DNET:
DNET melakukan rights issue sebanyak 14 milyar lembar saham dimana rasionya adalah 23 saham lama untuk 1.750 saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 500,-/ lembar. Pembeli siaga (standby buyer) adalah Hannawell Group Limited dan PT Buana Capital. Dengan rights issue ini maka saham yang beredar menjadi 14,18 miliar lembar.

Penggunaan dana adalah sebagai berikut:
- Sebesar 28,55% atau Rp 1,99 triliun digunakan untuk penyertaan saham pada Fast Food Indonesia Tbk (FAST) sebesar 35,84% dari total saham beredar
- Sebesar 30,45% atau Rp 2,13 triliun digunakan untuk penyertaan saham pada Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) sebesar 31,50% dari total saham beredar
- Sebesar 37,65% atau Rp 2,64 triliun digunakan untuk penyertaan saham pada Indomarco Prismatama.(IDM) sebesar 40,00%
- Sisanya 3,35% atau Rp 234,5 miliar untuk modal kerja perusahaan.

Tujuan rights issue ini adalah supaya Grup Salim dapat mengkonsolidasikan semua aset grup dalam sektor konsumsi kepada Dyviacom.

Struktur Kepemilikan anak perusahaan DNET