Tuesday, November 12, 2013

BI Naikan Suku Bunga, Apa yang Akan Terjadi Terhadap Ekonomi RI?

Jakarta, 13 November 2013 - Kemarin, Bank Indonesia secara tidak terduga menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 7,5%. Sejak Mei lalu suku bunga acuan telah naik 5 kali sebesar 175 bps. Dampak dari kenaikan ini berpotensi menekan pertumbuhan emiten di bursa efek dan juta pertumbuhan ekonomi Indonesia.

BI menaikkan suku bunga acuan kemarin pada level tertinggi sejak 4 tahun terakhir. BI juga menaikkan suku bunga fasilitas pinjaman BI (FASBI) menjadi 7,5%  dan fasilitas pembiayaan repo menjadi sebesar 5,75%. Ini semua adalah biaya pendanaan yang akan dirasakan langsung oleh debitur.

Menurut BI, kenaikan suku bunga ini memiliki beberapa tujuan:
1. Sebagai langkah antisipasi jika the Fed mengurangi program stimulusnya.
2. Dalam jangka pendek kebijakan ini diharapkan menekan defisit transaksi berjalan.
3. Dalam jangka panjang untuk menjaga inflasi tetap terkendali.

Neraca perdagangan RI tercatat defisit sebesar US$ 657 juta selama September 2013 dibanding Agustus lalu, Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) tercatat surplus hingga US$ 132,4 juta.

Sementara itu,  inflasi bulanan pada Oktober 2013 sebesar 0,09%. Kenaikan inflasi terjadi karena kenaikan harga barang konsumsi sebesar 0,55%. Namun inflasi tahunan tercatat sebesar  sebesar 8,32%. BI menargetkan inflasi hingga akhir tahun berada sedikit di bawah level 9%.

Sementara itu nilai tukar Rupiah kemarin bergerak melemah terhadap Dollar AS pada level 11.576 poin.

AFN melihat bahwa sejak awal tahun tekanan inflasi terjadi karena faktor penawaran, yaitu kenaikan bahan bakar minyak, dan bukan dari faktor permintaan yang berlebih. Karena itu AFN melihat bahwa intervensi terhadap inflasi akibat lewat kebijakan moneter menjadi kurang efektif.  Jika suku bunga naik, harga BBM belum tentu turun. Kebijakan menaikkan suku bunga cenderung efektif jika tujuannya menekan inflasi dari sisi permintaan.

AFN malah mengkuatirkan apabila memang inflasi dari sisi penawaran sedang terjadi, maka kenaikan suku bunga akan membuat ekonomi terkontraksi. Konsekuensinya, pasar tenaga kerja akan turun ke tingkat yang lebih rendah, daya beli berkurang dan harga turun.

Harapan kenaikan suku bunga BI akan menekan defisit pun masih diragukan AFN. Penyumbang terbesar defisit adalah dari komponen impor migas, sekali lagi, dengan menaikkan suku bunga belum tentu menekan defisit transaksi dari komponen migas. Kebutuhan migas nasional akan selalu naik sementara produksi migas nasional dalam tren penurunan.

Upaya kenaikan suku bunga dapat berdampak positif jika dilihat dari upaya untuk menumbuhkan ekspor dari sisi non migas. Dengan kenaikan suku bunga acuan BI, diharapkan penanaman modal asing akan masuk ke Indonesia yang menawarkan yield lebih. Setidaknya yield bebas risiko Indonesia lebih tinggi dari negara maju lainnya sehingga menarik bagi investor. Dengan masuknya invetasi asing diharapkan akan mendorong industri non-migas sehingga menutup defisit transaksi berjalan. Namun, hal ini baru akan terjadi dalam periode yang lama dan perlu didukung dengan perbaikan daya saing bisnis.

Di sisi lain dampak positif kenaikan suku bunga acuan BI ini akan mendorong investasi. Pemegang dana cenderung memarkirkan kasnya untuk investasi seperti deposito berjangka atau surat berharga lainnya. Diharapkan permintaan Rupiah akan tinggi dan mendorong penguatan nilai tukar Rupiah.

Tetapi, dampak kenaikan suku bunga BI ini akan dirasakan oleh sektor riil. Suku bunga pinjaman perbankan akan naik mengikuti kenaikan BI rate sehingga berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi. Usaha kecil atau menengah yang mengandalkan pendanaan dari perbankan berpotensi melambat karena lebih tingginya biaya keuangan.

Kenaikan ini juga akan menekan pertumbuhan ekonomi dari konsumsi rumah tangga. Jika suku bunga simpanan ikut naik, maka rumah tangga cenderung menyimpan kas dari pada membelanjakan untuk konsumsi. Mengingat bahwa PDB RI masih didominasi oleh sektor konsumsi maka secara makro kenaikan ini berpotensi menekan pertumbuhan PDB.

Tampaknya yang menjadi kekhawatiran BI adalah jika the Fed memangkas stimulusnya, setidaknya harus ada insentif lebih yang menarik investor asing untuk tidak menarik dananya di Indonesia. Salah satu insentif tersebut adalah dengan memberikan yield yang lebih tinggi lewat yield  bebas risiko sebesar 7%.

Namun, dampak dari kenaikan suku bunga acuan BI justru direspon negatif pasar modal kemarin, bahkan sampai hari ini.  Tercatat IHSG (12/11) diperdagangkan turun 61,08 poin (-1,37%) pada level 4.380,64 poin. Bahkan secara teknikal, IHSG telah menembus resisten jangka pendek 4.400 dan berpotensi turun dengan menguji level resisten 4.191 poin. IHSG diprakirakan bergerak pada kisaran 4.191 hingga 4.420 poin.

Monday, November 11, 2013

Adi Sarana Siapkan Capex Rp 900 Miliar Paska Pertumbuhan Laba 4 Kali

Jakarta, 11 November 2013 - PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) berencana menambah 4.000 kendaraan baru di tahun 2014 dengan anggaran sekitar Rp 900 miliar. Sampai dengan tahun ini, telah mengeluarkan Rp 542 miliar untuk penambahan aset tetap yang kebanyakan adalah kendaraan. Dengan sekitar 13.000 kendaraan yang ada, Adi Sarana mampu meningkatkan  laba bersihnya tahun ini sebesar 365,9%.

Adi Sarana mencatat
kan pendapatan tahun ini sebesar Rp 752,34 miliar, naik 31,73% dibandingkan tahun sebelumnya Rp 571,14 miliar. Tetapi laba bersihnya naik signifikan sebesar 365,9% menjadi Rp 60,05% dari sebelumnya Rp 12,89 miliar. Kenaikan ini dikarenakan penurunan beban keuangan paska IPO dan kenaikan pendapatan bunga dari deposito dana IPO.

Adi Sarana mencatatkan arus kas negatif untuk aktivitas operasi akibat pembelian kendaraan operasional besar-besaran. Tanpa pembelian itu, maka Adi Sarana memperoleh kas masuk sebesar Rp 420,56 miliar, cukup untuk membiayai ekspansi ke depannya.

Karena perdagangan saham ASSA yang jauh dari harga IPOnya, serta likuiditasnya yang terus turun, maka salah satu pemegang saham mayoritas Adi Sarana yaitu PT Daya Adicipta Mustika terus mengumpulkan saham ASSA. Sampai dengan akhir September 2013, Daya Adicipta tercatat memiliki 377 juta lembar, naik 132,25 juta lembar dari posisi bulan Juni.

AFN melihat beberapa hal positif dari Adi Sarana:
1. Pemilik mayoritasnya memiliki perhatian kepada sahamnya dan melihat bahwa ke depannya perusahaan ini memiliki masa depan yang menarik. Hal ini perlu diterima oleh pasar sebagai hal yang positif;
2. Pertumbuhan pendapatan dan laba bersih ditopang oleh kondisi industri yang memang makin kuat dan membutuhkan transportasi sewaan;
3. Manajemen cenderung bersikap hati-hati terhadap utang sehingga tingkat leverage walaupun tinggi, namun tidak membahayakan dan digunakan untuk kepentingan operasional.

Tetapi ada beberapa yang perlu ditengarai oleh investor:
1. Posisi piutang Adi Sarana yang tinggi dan meningkat seiring dengan peningkatan pendapatan memberikan sinyal bahwa Adi Sarana belum memiliki daya tawar yang kuat terhadap konsumennya;
2. Penambahan 4.000 kendaraan baru akan dilakukan pada kondisi ekonomi yang belum pasti dan dalam likuiditas ketat. Ini berpotensi akan meningkatkan biaya di masa depan.

Thursday, November 7, 2013

Kinerja Triwulan III Positif, Bank Jabar Banten Raih idAA-



Jakarta, 8 November 2013 – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten, Tbk (BJBR) baru saja mendapatkan hasil pemeringkatan untuk obligasinya VI dan VII. Kedua obligasi Bank Jabar Banten itu mendapat peringkat idAA- (Double A Minus) dengan outlook stabil. 



Sumber: Presentasi Perusahaan untuk Analyst Meeting 3Q2013
Beberapa hal yang mendasari dikeluarkannya peringkat tersebut adalah posisinya yang kuat di industri perbankan Indonesia, pasar captive yang dimilikinya di propinsi Jawa Barat dan Banten, serta kapitalisasinya yang kuat.  

Namun ada peringkat lebih tinggi tidak dapat diberikan karena tingkat kualitas kredit yang rendah, tercermin dari NPL yang tinggi, serta konsentrasi yang tinggi di dana pihak ketiga dari deposito yang berbiaya mahal.

Obligasi yang diperingkat adalah Obligasi VI Seri B Tahun 2009, Obligasi VII Seri A, B, C tahun 2011, senilai Rp 2,4 triliun. 

Obligasi VI Seri B akan jatuh tempo pada tanggal 10 Juli 2014 dengan nilai nominal Rp 400 miliar dan tingkat suku bunga yang diberikan tetap sebesar 12,50%. Obligasi ini dijamin dengan seluruh harga kekayaan Bank, bukan dengan jaminan khusus. 

Obligasi VII terdiri dari 3 seri (A,B,C) dengan total Rp 2 triliun. Seri A dengan nominal Rp 276 miliar akan jatuh tempo tanggal 9 Februari 2014 dan berbunga 9,2%. Seri B memiliki nominal Rp 601 miliar, jatuh tempo tanggal 9 Februari 2016 dan berbunga 10,2%. Seri C yang memiliki nominal terbesar yaitu Rp 1,12 triliun akan jatuh tempo tanggal 9 Feburari 2018 dan berbunga 10,4%. 

Kinerja triwulan III Bank Jabar Banten tercatat positif dengan pendapatan bunga bersih di Rp 3,6 triliun dan menghasilkan laba bersih Rp 1,1 triliun. Marjin pendapatan bunga (NIM) tinggi di 8% telah mendukung peningkatan laba bersih 15,9% ini. 

Sumber: Presentasi Perusahaan untuk Analyst Meeting 3Q2013
Kredit yang disalurkan Bank Jabar Banten mencapai Rp 44,1 triliun, dibiayai oleh dana pihak ketiga sebesar Rp 56,6 triliun. Sebagian besar kredit disalurkan pada segmen konsumer yaitu sekitar 63% atau Rp 27,87 triliun. NPL Bruto 2,5%, lebih tinggi daripada yang ditargetkan di kisaran 1,5-2,0%. 

Total aset tercatat Rp 75,9 triliun dan ekuitas Rp 6,44 triliun. Kasnya kuat di Rp 1,77 triliun.  Tingkat imbal hasil yang didapat pemegang saham adalah 23,5%, angka yang cukup tinggi.

Wednesday, November 6, 2013

Indofood Dirikan Perusahaan Pelayaran untuk Mengamankan Logistik, Posisi Keuangan Kuat

Jakarta, 7 November 2013 – PT Indofood Sukses Makmur, Tbk, mendirikan perusahaan baru di bidang pelayaran bernama Boga Indah Pte.Ltd. di bawah salah satu anak usahanya yaitu Pacsari Pte.Ltd. dengan modal US$ 100.000 atau ekuivalen sekitar Rp 1,1 miliar. Di Juli 2013 ini, Indofood juga sudah mendirikan 1 perusahaan pelayaran di bawah Pacsari dengan nama Sari Indah Pte. Ltd. yang bermodal awal juga US$ 100.000.

Sebelumnya, Indofood juga memiliki bisnis pelayaran melalui 6 anak usahanya, yaitu Pacsari Pte.Ltd, PT Pelayaran Tahta Bahtera,  PT Samudra Sukses Makmur, Fame Sea Enterprise Inc, Special Sky Investments, dan Bountiful Pro.Ltd. Pacsari berdomisili di Singapura, Tahta Bahtera dan Samudra di Jakarta, dan sisanya di Virgin Islands. Semuanya dimiliki oleh Indofood sebanyak 100%.

AFN melihat pendirian perusahaan ini merupakan salah satu upaya Indofood untuk mengamankan sistem logistiknya. Dengan makin bertambahnya produk yang dihasilkan serta area yang dilayani, maka logistik menjadi satu point yang makin krusial untuk menjaga pangsa pasar yang sudah berhasil diraih.

Apalagi dengan posisi kas Indofood yang sebesar Rp 14,99 triliun serta arus kas selama 9 bulan mencapai Rp 3,67 triliun, Indofood lebih dari mampu untuk menyisihkan sebagian dana untuk membangun unit bisnis baru.

Di dalam 3 triwulan ini, Indofood mencatatkan pertumbuhan penjualan 10,5% menjadi Rp 41,28 triliun. Grup Consumer Branded Products (“CBP”) terus menjadi kontributor utama dengan memberikan kontribusi sekitar 45% terhadap penjualan neto konsolidasi, sedangkan Grup Bogasari, Agribisnis, Distribusi dan China Minzhong Food Corporation Limited masing-masing memberikan kontribusi sekitar 26%, 20% , 8% dan 1%.
Namun laba bersih turun 38,9% menjadi Rp 3,67 triliun sehingga laba bersih per saham menjadi Rp 219/ lembar. Ini dikarenakan naiknya beban gaji, upah dan imbalan kerja karyawan serta utilitas, naiknya beban bahan baku, turunnya harga jual rata-rata pada Grup Agribisnis, kenaikan beban pengangkutan dan penanganan serta promosi dan periklanan dan kerugian karena selisih kurs.

Segera setelah pengumuman kinerja keuangan ini, harga saham INDF turun dari sebelumnya Rp 7.450 menjadi Rp 6.300 dan baru naik lagi ke level Rp 6.700. Dengan harga Rp 6.700, maka rasio P/E menjadi 23x dan rasio harga terhadap nilai buku (PBV) menjadi 2,6x.

Laba Selamat Sempurna Meningkat, Harga Saham Melonjak



Jakarta, 7 November 2013 – PT Selamat Sempurna, Tbk (SMSM) mencatatkan pendapatan yang stabil dan laba yang meningkat di Rp 1,66 triliun dan Rp 211,14 miliar di 9 bulan pertama ini.Harga sahamnya melonjak dari Rp 2.775 di penutupan 1 November menjadi sempat Rp 3.500 pada hari ini, atau naik 26% dalam 3 hari.

Selamat Sempurna pada awal tahun telah menetapkan target Rp 2,45 triliun untuk pendapatan dan Rp 264 miliar untuk laba bersih. Sampai 9 bulan ini, target pendapatan tercapai 68% sementara target laba bersih tercapai 72%.

 

Selamat Sempurna adalah manufaktur filter dan radiator untuk otomotif, termasuk di dalamnya selang rem, selang bensin, dan sebagainya. Selamat Sempurna juga mengekspor produknya ke lebih dari 100 negara di seluruh dunia.

Keempat entitas anak Selamat Sempurna adalah manufaktur di berbagai sparepart otomotif, termasuk filter, alat pengangkat dan komponen kendaraan, karet komponen kendaraan, dan suku cadang.

PT Greenwood Sejahtera, Tbk (GWSA) dan Selamat Sempurna memiliki hubungan terafiliasi dimana komisaris utama Greenwood adalah juga direktur dari Selamat Sempurna dan direktur utama Selamat Sempurna adalah juga komisaris Greenwood. Namun tidak ada kesamaan pemilik langsung mayoritas saham kedua perusahaan maupun kepemilikan saham satu sama lain.
 
Greenwood adalah pengembang TCC Batavia yang dirancang sebagai superblok 7 menara di atas lahan seluas 7,2 hektare (ha) yang mengusung  konsep “world class one stop living: working, living, and entertaining” yang menggabungkan aktivitas bisnis, hiburan, akomodasi, dan hunian dalam satu konfigurasi yang harmonis.

Berbeda dengan Selamat Sempurna, Greenwood mengalami penurunan kinerja pendapatan dan laba bersih cukup signifikan akibat belum selesainya menara yang baru.