Tuesday, November 19, 2013

Nipress Melakukan PUT untuk Mendukung Ekspansi ke Aki Industri

 Jakarta, 18 November 2013 – PT Nipress, Tbk (NIPS) melakukan penawaran umum terbatas  (PUT) I sebesar Rp 260 miliar untuk pembangunan pabrik, pembelian mesin, dan modal kerja. Semuanya akan digunakan untuk mendukung upaya perusahaan ekspansi ke aki industri

PUT ini membuat kapitalisasi pasar NIPS akan berada di sekitar Rp 500 miliar. Kisaran harga yang ditawarkan adalah antara Rp 350-450 per saham.

PT Tritan Adhitama Nugraha sebagai pemegang saham mayoritas telah menyatakan kesanggupan untuk membeli Rp 130 miliar. Apabila Tritan mengambil semua hak ini, Tritan akan memiliki 45,5% saham Nipress. Kini Tritan memiliki 37,11%.

Dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan pabrik dan pembelian mesin senilai Rp 148,2 miliar, dan modal kerja senilai Rp 111,8 miliar. Pembangunan pabrik Nipress adalah untuk memasuki bisnis aki industri, di samping tetap mempertahankan pasarnya di aki mobil dan motor. Tahun ini, kontribusi aki industri terhadap total penjualannya melesat menjadi 28% dari 3,7% di tahun sebelumnya. Sedangkan kontribusi aki mobil menjadi menyusut menjadi 54%.

Aki industri merupakan bisnis yang menjanjikan untuk Nipress. Aki industri dibutuhkan terutama pada pembangkit listrik tenaga matahari dan tenaga air hidro yang makin meluas. Kemudian aki industri juga makin dibutuhkan dengan makin meningkatnya industri manufaktur mikro di daerah-daerah yang sering mengalami putus listrik.

Sampai dengan triwulan ketiga, Nipress mencatatkan pertumbuhan yang menarik dari sisi pendapatan dan laba bersih. Pertumbuhan pendapatan tercatat 41% menjadi Rp 684,68 miliar dan pertumbuhan laba bersih 97,5% menjadi Rp 31,24 miliar. Hal ini membuat ROE Nipress mencapai 17,9%. Karena Nipress adalah satu-satunya emiten produsen aki di BEI, maka tidak ada komparasi.

Monday, November 18, 2013

Permintaan Otomotif Naik, Pendapatan dan Laba Ban Tertekan


Jakarta, 18 November 2013 – Sektor otomotif melaporkan kenaikan permintaan di Oktober (y-o-y) 4,9% di tengah kondisi kenaikan suku bunga. Akan tetapi hal ini tidak tercermin dari pertumbuhan pendapatan emiten ban yang malah negatif pada tahun ini.

Setelah penjualan otomotif mencapai puncaknya di September akibat liburan panjang, permintaan di bulan Oktober sedikit turun bila dilihat per bulannya. Tetapi secara tahunan, terjadi kenaikan penjualan 4,9%  mencapai 1,02 juta unit selama 10 bulan ini. Angka ini kira-kira sudah 91% dari target tahunan.

Tapi pertumbuhan penjualan ini tidak terefleksi di dalam pertumbuhan pendapatan emiten ban. PT Gajah Tunggal, Tbk (GJTL) mencatatkan pertumbuhan pendapatan negatif (-2,9%) menjadi Rp 9,11 triliun. Sementara pendapatan PT Goodyear Indonesia, Tbk (GDYR) turun 5,3% menjadi Rp 1,19 triliun di triwulan II (laporan keuangan triwulan III belum terbit).

Satu-satunya yang mencatat pertumbuhan pendapatan positif adalah PT Multistrada Arah Sarana, Tbk (MASA) yang naik 0,5% menjadi Rp 2,91 triliun, tetapi mencatatkan laba bersih yang kecil yaitu Rp 14,71 miliar karena peningkatan biaya keuangan. Rasio P/E mencapai  168,60, yang tidak dapat diinterpretasikan karena laba bersih yang terlalu kecil. Padahal PBV masih lebih rendah dari 1, yaitu 0,75x.

Sampai saat ini Gajah Tunggal masih memiliki kapitalisasi pasar terbesar yaitu Rp 6,38 triliun, sementara Multistrada kedua terbesar dengan kapitalisasi Rp 3,31 triliun. Multistrada mempertahankan marjin EBITDA di 15,6%, tertinggi di antara semuanya, sementara ROE Gajah Tunggal masih terbesar di 4,8%.

Untuk masalah efisiensi, tingkat perputaran dan produktivitas, ketiganya relatif bersaing. Perbedaan yang tampak dari ketiganya adalah pada struktur modal, dimana Gajah Tunggal memiliki rasio liabilitas terhadap ekuitas terbesar, namun masih di atas standar minimum bila mengacu kepada rasio interest coverage (EBIT/ beban keuangan) yang 1,60x. Artinya Gajah Tunggal masih mampu memenuhi kewajiban bunganya dari laba sebelum pajak dan bunganya.

Friday, November 15, 2013

Siapkan Rp 700 Miliar dari Kas Internal, Surya Semesta Kembangkan Karawang

Jakarta, 15 November 2013 – PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) telah menyiapkan Rp 700 miliar dari kas internalnya untuk mengembangkan kawasan industri di Karawang. Sampai 30 September 2013, Surya Semesta mencatatkan posisi kas Rp 1,86 triliun dengan arus kas selama 9 bulan tercatat Rp 624,64 miliar. Pengembangan ini dapat dibiayai oleh arus kas operasional setahun perusahaan.

Surya Semesta bergerak di bidang pengembangan kawasan industri, kawasan komersial, jasa konstruksi dan perhotelan. Melalui PT Suryacipta Swadaya (SCS), Surya Semesta mengembangkan dan mengelola Suryacipta City of Industry (Suryacipta) – kawasan industri seluas 1.400 hektar di Karawang.

Karawang memiliki potensi yang sangat tinggi di dalam investasi. PT Sharp Electronics Indonesia akan meningkatkan produksinya 2,5 kali lipat dengan mengoperasikan pabrik baru  di Karawang dengan nilai investasi Rp 1,2 triliun.  PT Firmenich Aromatics Indonesia juga menambah nilai investasi di Indonesia sebesar 33 juta dolar AS dengan pendirian pabrik baru Durarome.

Di kawasan industri Suryacipta sendiri, The New Energy and Industrial Technology Development Organization of Japan (NEDO) sudah menginvestasikan ¥ 3,5 miliar atau senilai Rp 350 miliar untuk proyek percontohan.

Seiring dengan pertumbuhan kawasan ini, perusahaan mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang cukup signifikan yaitu 26,03% menjadi Rp 3,35 triliun. Tetapi pertumbuhan pendapatan ini tidak diikuti oleh pertumbuhan positif laba bersih yang malah turun 11,75% menjadi Rp 486,02 miliar. Tapi rasio imbal hasil atas ekuitas masih cukup tinggi di 30,36%.

Sebelumnya, pada Oktober 2013,  Surya Semesta telah menerbitkan obligasi sebesar Rp 700 miliar, di mana hampir seluruh dana yang diperoleh yaitu Rp 630 miliar diperuntukkan penyertaan modal di SCS.

SCS juga baru saja meluncurkan Suryacipta Technopark, sebuah kawasan yang terdiri dari kelompok bangunan warehouse atau standard factory dengan luas totalnya 22 hektar. Pada penawaran perdana, perusahaan telah berhasil menarik PT  Mitsui Kinzoku Act Indonesia, sebuah perusahaan komponen otomotif. 

Target dari pemasaran Suryacipta Technopark yang dipersiapkan dengan standar internasional ini adalah Small Medium Enterprise Manufacturing atau pabrik berskala Usaha Kecil Menengah, Logistic Company dan Warehouse.


Saham SSIA bergerak fluktuatif di kisaran Rp 700 - 850 setelah turun dari harga rekornya di Rp 1.660 Mei lalu.

Thursday, November 14, 2013

Kebutuhan Bahan Baku Plastik Meningkat, Tak Mampu Diserap Produsen Domestik

Jakarta, 15 November 2013 – Kebutuhan akan plastik makin meningkat tajam, tampak dari impor bahan baku plastik tahun ini sudah mencapai US$ 1,8 miliar (estimasi) atau 1 juta ton. Tahun depan, angka ini diperkirakan akan meningkat 8-9%. Sementara itu produsen dalam negeri akan terpaksa menaikkan harga jualnya akibat depresiasi Rupiah dan mungkin kehilangan pangsa pasarnya.

Impor bahan baku plastik diperkirakan akan naik akibat kebutuhan plastik kemasan yang meningkat. Pemilu tahun 2014 diekspektasi akan mendorong omzet industri kemasan sampai Rp 62 triliun atau tumbuh 10% dibandingkan tahun ini, menurut Federasi Pengemasan Indonesia. Pertumbuhan ini paling akan dirasakan pada makanan dan minuman olahan. Sekarang saja kebutuhan kemasan air mineral dan susu semakin tinggi.

Pasar untuk bahan baku plastik tidak hanya diperuntukkan makanan dan minuman olahan, namun juga untuk karet sintetis yang sangat dibutuhkan oleh perusahaan ban.

Tanggal 5 November lalu, Manajemen PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) bersama dengan Compagnie Financière Michelin (Michelin) melakukan peresmian kerjasama untuk pabrik synthetic rubber (karet sintetis) yang dikelola oleh PT Synthetic Rubber Indonesia (SRI).  Pembangunan pabrik direncanakan akan dimulai pada awal 2015, dengan penyelesaian dan start-up ditargetkan pada awal 2017. Selanjutnya, SRI akan memproduksi bahan baku ban ramah lingkungan

Sayangnya, produsen domestik sendiri tidak mampu meningkatkan kapasitas terlalu banyak karena terbatasnya bahan baku yaitu etilena dan propilena serta pasokan nafta dari produsen petrokimia hulu. Akibatnya tingkat utilitas kapasitas domestik hanya 82%, belum optimal.

Chandra Asri adalah satu-satunya produsen ethylene dalam negeri dengan kapasitas 600 ribu ton per tahun dan prophylene 320 ribu ton per tahun. PT Pertamina memproduksi prophylene 325 ribu ton per tahun.

Produsen domestik juga mengalami kesulitan ketika Rupiah terdepresiasi karena 60% bahan baku masih impor, demikian pula dengan mesin pengemasan. Karenanya, walaupun pertumbuhan 2 emiten produsen bahan baku plastik naik 2,2% dan 6,2% untuk PT
Lotte Chemical Titan, Tbk (FPNI) dan Chandra Asri, tetapi keduanya masih mencatatkan kerugian.

Kinerja Chandra Asri tampak lebih baik dibandingkan Lotte Chemical yang memang sedang melakukan restrukturisasi internal. Dengan aset dan kapitalisasi pasar yang lebih tinggi, Chandra Asri mampu mencatat pertumbuhan pendapatan dan marjin laba kotor yang lebih tinggi, yaitu 6,2% dan 3,2% dibandingkan 2,2% dan 1,2%.

Tetapi rasio PBV Chandra Asri sudah di atas 1 yaitu 1,15x sementara Lotte Chemical baru 0,59x. Hal ini juga dikarenakan Lotte Chemical memiliki likuiditas perdagangan yang jauh lebih rendah daripada Chandra Asir.


Wednesday, November 13, 2013

Industri Kemasan Tahun 2014 Akan Mencapai Omset Rp 62 Triliun, AFN Rekomendasikan Berlina



Jakarta, 14 November 2013 – Pemilu tahun 2014 diekspektasi akan mendorong omzet industri kemasan sampai Rp 62 triliun atau tumbuh 10% dibandingkan tahun ini, menurut Federasi Pengemasan Indonesia. Pertumbuhan ini paling akan dirasakan pada makanan dan minuman olahan. Sekarang saja kebutuhan kemasan air mineral dan susu semakin tinggi.

Tahun ini, dua emiten kemasan plastik yaitu PT Berlina, Tbk (BRNA) dan PT Champion Pacific Indonesia, Tbk (IGAR) membukukan pertumbuhan pendapatan rata-rata 14,5% namun laba bersihnya turun 14 – 20% karena pelemahan nilai tukar rupiah.

Depresiasi rupiah membuat ongkos produksi membengkak karena sebanyak 60% bahan baku masih diimpor, terutama dari Timur Tengah. Mesin produksi juga masih diimpor karena industri mesin dalam negeri belum sanggup memproduksi. Impor mesin produksi kebanyakan dari negara-negara Eropa seperti Jerman dan Italia.

Berlina terutama memproduksi kemasan plastik untuk botol air minum, pasta gigi, sabun cuci dan sebagainya. Sementara Champion Pacific lebih banyak memproduksi kemasan untuk produk makanan dan produk non farmasi dari perusahaan non farmasi. Keduanya berada di pasar yang bertumbuh, karenanya mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang lebih tinggi daripada pertumbuhan industri yang tahun ini hanya di sekitar 8%.

AFN lebih menyukai Berlina daripada Champion Pacific karena beberapa alasan yaitu:
1.    Posisi kas dan arus kas dari aktivitas operasional lebih tinggi. Kas per saham Berlina adalah Rp 55/ saham atau sekitar 11% dari harga saham sekarang. Sementara kas per saham Champion hanya Rp 8,7/ saham atau sekitar 2,8% dari harga sahamnya. Di tengah masa pengetatan likuiditas dari perbankan, posisi kas menjadi faktor yang penting;

2.    Kinerja laba usaha Berlina lebih tinggi daripada kinerja Champion, yaitu 10,1% dibandingkan 8,7%. Demikian pula dengan ROE-nya di mana Berlina mencatat 13,5%, sementara Champion 11%;

3.    Marjin laba sebelum pajak Berlina memang lebih kecil dibandingkan Champion. Hal ini disebabkan oleh faktor leverage, di mana Berlina menggunakan utang jangka panjang sekitar sepertiga dari ekuitasnya dan Champion tidak sama sekali. Tetapi rasio utang dan kemampuan membayar Berlina masih jauh di atas batas minimal kemampuan

4.    Laba bersih Berlina kira-kira 13% dari harga sahamnya, sementara laba bersih Champion hanya 8%.

Walaupun demikian AFN melihat bahwa kedua saham ini sebaiknya hanya dimasuki oleh investor-investor dengan horison investasi jangka panjang karena likuiditas perdagangan sahamnya yang sangat rendah. Jumlah saham beredar yang memang tidak besar di pasar turut menekan kinerja likuiditas ini.