Monday, February 24, 2014

Laba Tower Bersama Naik 48%

Jakarta, 25 Februari 2014 – PT Tower Bersama Infrastructure, Tbk (TBIG) mencatatkan kenaikan laba bersih 48% menjadi Rp 260,19 miliar. Ini mencerminkan rasio harga atas laba (PER) 23,54 kali dengan rasio imbal hasil atas ekuitas (ROE) 31,3%.

Pendapatan Tower Bersama tercatat naik 57% menjadi Rp 2,69 triliun dari sebelumnya Rp 1,72 triliun. Kenaikan ini didorong oleh pertumbuhan pendapatan dari menara yang memang menjadi bisnis inti perusahaan.

PT Indosat, Tbk telah meningkatkan pendapatan sewa ke Tower Bersama sebesar 118% menjadi Rp 631,56 miliar dari sebelumnya Rp 289.51 miliar. Kenaikan ini diikuti oleh pendapatan dari PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) telah naik 106% menjadi Rp 739,19 miliar dari sebelumnya Rp 358,14 miliar.

Beberapa pelanggan yang juga berkontribusi dalam kenaikan pendapatan sewa perusahaan adalah PT XL Axiata, Tbk, PT Hutchison CP Telecommunications, dan PT Axis Telekom Indonesia. Sementara PT Smartfren Telecom, Tbk dan PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk malah menurunkan sewanya.

Sementara itu kenaikan laba bersih yang lebih rendah daripada kenaikan pendapatan disebabkan  oleh kenaikan beban keuangan menjadi Rp 726,74 miliar dari sebelumnya hanya Rp 467,48 miliar. Selain itu, rugi selisih kurs yang mencapai Rp 799,12 miliar juga menekan kinerja laba bersih.

Padahal, pada tahun 2013 ini tercatat kenaikan nilai wajar atas properti investasi  yang menjadi laba perusahaan. Tahun 2013 kenaikan itu tercatat Rp 781,16 miliar naik dibandingkan tahun sebelumnya Rp 258,54 miliar.

Dengan kinerja ini maka rasio imbal hasil atas ekuitas (ROE) mencapai 31,3%, naik dari tahun sebelumnya di 21,1%. Beberapa rasio marjin profitabilitas juga tercatat naik, yaitu marjin laba kotor, marjin EBIT dan marjin laba bersih.

Kenaikan ini didorong oleh peningkatan leverage. Hal ini terlihat dari peningkatan rasio utang jangka panjang atas ekuitas yang menjadi 2,68x dari sebelumnya 1,98x. Tingkat EBIT per beban keuangan juga turun sedikit menjadi 2,62x dari sebelumnya 2,95x.

Secara umum AFN melihat Tower Bersama adalah salah satu saham yang layak investasi karena beberapa hal:
1.    Secara fundamental perusahaan terus berkembang dan mencari peluang-peluang baru.
2.    Secara industri, telekomunikasi seharusnya memang terbagi dua antara penyedia jasa (seperti Telkom, Indosat, XL dan sebagainya) dengan penyedia infrastruktur (seperti Tower Bersama dan Sarana Menara). Tahapan yang kini dimasuki oleh perusahaan-perusahaan telekomunikasi tradisional (yaitu yang masih menggabungkan kedua segmen ini) sudah sangat ketat karena mereka harus bersaing di frekuensi serta di industri kreatif. Karenanya sub industri penyedia infrastruktur telekomunikasi makin akan terdorong baik ke depannya.



Thursday, February 20, 2014

Laba Bersih Jasa Marga Turun karena Kenaikan Upah



Jakarta, 21 Februari 2014 – PT Jasa Marga (Persero), Tbk mencatatkan pertumbuhan pendapatan tetapi penurunan laba bersih karena kenaikan beban pemeliharaan jalan tol, beban konstruksi dan pelayanan pemakai jalan tol.

Pendapatan Jasa Marga naik 13% menjadi Rp 10,29 triliun di akhir tahun 2013 dari sebelumnya Rp 9,07 triliun. Kenaikan ini terutama terjadi pada pendapatan konstruksi yang naik 18% menjadi Rp 3,96 triliun di tahun  2013.  Pendapatan dari segmen konstruksi adalah kontributor kedua terbesar dari pendapatan Jasa Marga. Sementara itu pertumbuhan dari tol sendiri hanya 4% menjadi Rp 5,83 triliun dari sebelumnya Rp 5,58 triliun.


Sementara itu beban pemeliharaan jalan tol 30% menjadi Rp 1,14 triliun dari sebelumnya Rp 882,25 miliar. Beban ini berkontribusi sebesar 15% terhadap total beban usaha.

Selain itu yang juga berkontribusi terhadap penurunan laba adalah kenaikan beban konstruksi sebesar 18,2% menjadi Rp 3,91 triliun. Beban konstruksi adalah beban terbesar di dalam beban usaha yaitu 51%.

Beban lainnya yang naik tinggi adalah beban pelayanan kepada pemakai jalan tol, yang naik 74% menjadi Rp 481,74 miliar dari sebelumnya hanya Rp 276,51 miliar.

Hasilnya, laba bersih turun 17% menjadi Rp 1,34 triliun atau Rp 196,52/ saham dari sebelumnya Rp 1,60 triliun atau Rp 235,60/ saham.

Posisi kas juga turun jadi Rp 3,51 triliun dari sebelumnya Rp 4,30 triliun. Sementara total aset naik 15% menjadi Rp 28,37 triliun karena kenaikan hak pengusahaan jalan tol sebesar 20% menjadi Rp 22,3 triliun.

Liabilitas jangka pendek turun 26% menjadi Rp 4,92 triliun, sementara liabilitas jangka panjang naik 51% menjadi Rp 12,58 triliun. Kenaikan liabilitas jangka panjang ini didorong oleh kenaikan utang bank sebesar 75% menjadi Rp 5,32 triliun serta kenaikan utang obligasi sebesar 37% menjadi Rp 5,14 triliun.

Kinerja marjin laba usaha turun jadi 25,9% menjadi 32,8%, sementara kinerja marjin laba bersih turun jadi 13,0% dari 17,7%. Imbal hasil atas ekuitas (ROE) turun jadi 14,4% dari 18,6%.

AFN melihat bahwa penurunan kinerja ini lebih disebabkan oleh kenaikan upah yang cukup tinggi di tahun ini. Hal ini tidak akan terulang di tahun depan. Namun, tahun depan memiliki risiko kenaikan biaya lainnya yaitu biaya pemeliharaan jalan tol mengingat karena banyaknya bencana yang terjadi pada awal tahun 2014 ini telah merusak sebagian jalan tol milik Jasa Marga. Perusahaan juga telah berjanji untuk mengganti kerusakan kendaraan akibat lubang, yang mana akan menimbulkan biaya baru bagi perusahaan. 



PUT I Garuda Tidak Menarik


Jakarta, 21 Februari 2014 – PT Garuda Indonesia (Persero), Tbk (GIAA) akan melakukan penawaran umum terbatas (PUT) yang pertamanya  dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). Jumlah saham yang ditawarkan adalah 3,23 miliar lembar saham, atau setara dengan  14,22% saham yang beredar sekarang. Nilai penawaran ini akan mencapai Rp 1,48 triliun – Rp 1,61 triliun.

Melalui PUT  I ini setiap pemegang saham 701.409 lembar berhak mendapatkan 100.000 lembar rights (HMETD). Tiap lembar rights memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli 1 lembar saham dengan harga Rp 460 – 500 per lembar.

Rencananya perusahaan akan menggunakan 80% dari dana yang diterima Rp 1,18 – 1,29 triliun untuk pengembangan armada baru berjenis B737 Series, B777 series, A330 series dan A320 series. Sisanya sebesar 20% akan digunakan untuk modal kerja dalam bentuk pembayaran sewa pesawat.

AFN melihat bahwa penawaran umum ini, yang paralel dengan aksi perusahaan untuk menjual saham Citilink-nya, memberikan indikasi sebagai berikut:
1.    Garuda ingin fokus kepada pengembangan segmen premium dengan didukung merek serta proses bisnis yang baik
2.    Garuda ingin ekspansi kepada rute-rute yang lebih banyak dan lebih profitabel.

Akan tetapi menurut AFN penawaran saham ini kurang menambah nilai pemegang saham karena hal-hal berikut ini:
1.    Kemampuan Garuda untuk menghasilkan laba dari pendapatannya menurun, dilihat dari kinerjanya tahun 2013. Padahal tahun 2013 ini adalah tahun dimana jumlah wisatawan tertinggi sejak tahun 1993, yaitu 13,52% sampai dengan Juni. Seharusnya kinerja pariwisata secara umum ini dapat dikonversikan menjadi laba oleh Garuda.
2.    Dengan target pasar yang premium, seharusnya kenaikan beban-beban seperti beban bahan bakar dan beban tiket, dapat dibebankan kepada penumpang (passthrough). Kenyataan bahwa  Garuda tidak mampu melakukan passthrough menunjukkan bahwa positioning Garuda di pasar premium adalah lemah.
3.    Harga saham Garuda telah mengindikasikan rasio P/E sebesar 1075 kali, artinya pemegang saham sekarang baru dapat memperoleh kembali modal investasinya setelah 1075 tahun dengan laba ini. Dengan efek dilusi, jangka waktu ini akan makin panjang.
4.    Arus kas operasional perusahaan tidak cukup untuk pemeliharaan pesawat. Garuda mencatatkan arus kas dari aktivitas operasional US$ 139,03 juta  sementara kas yang digunakan untuk dana pemeliharaan pesawat mencapai US$ 235,31 juta di tahun 2013. Peningkatan posisi kas yang terjadi adalah karena pinjaman jangka panjang yang diperoleh perusahaan. Ini tidak akan mampu untuk mempertahankan perusahaan dalam jangka panjang.

Wednesday, February 19, 2014

Bank BNI Outperform pada 2013, Namun Tidak pada 2014?

Jakarta, 19 Februari 2014 - Dalam pernyataannya di depan analis, Gatot Suwondo, Direktur Utama Bank BNI, tampaknya pesimis melihat kinerja Bank BNI dan industri perbankan secara keseluruhan dengan hanya menargetkan laba bersih Bank BNI pada kisaran 2 digit. Padahal tahun 2013, Bank BNI membukukan kenaikan laba hingga 28,57% dan pertumbuhan kredit hingga 24,85% atau lebih tinggi daripada rata-rata industri.

Gatot juga mengemukakan bahwa Bank BNI selama tahun 2014 akan menjaga perolehan marjin bunga bersih di atas 6% dengan fokus pada peningkatan perolehan CASA dan saat ini posisi marjin bunga bersih BNI pada level 6,11% yang menunjukkan kenaikan dibanding tahun 2012 di tengah pembatasan kredit perbankan.

Untuk meningkatkan CASA, Bank BNI akan mengadakan produk repoint sebagai pengganti hadiah lewat undian untuk meningkatkan CASA.

Target laba bersih Bank BNI ditetapkan pada kisaran 2 digit pada 2014 dengan pertumbuhan kredit yang lebih rendah daripada tahun 2013 atau bahkan sedikit lebih rendah dari rata-rata industri. Tahun 2014 ini diprakirakan pertumbuan kredit rata-rata industri perbankan sebesar 15% hingga 17%.
Selain itu, Gatot juga mengemukakan, bahwa terkait ketatnya likuiditas, Bank BNI akan melakukan kerjasama dengan bank di luar negeri dengan memanfaatkan lima cabangnya yang ada di luar negeri jika diperlukan untuk memperoleh dana yang lebih murah.
2013, Bank BNI Outperform

Bank BNI membukukan kinerja outperform dengan kenaikan laba hingga 28,50% selama tahun 2013 menjadi Rp 9,05 triliun dibandingkan dengan tahun 2012 lalu sebesar 2012 sebesar Rp 7,05 triliun dengan didorong oleh kenaikan pendapatan bunga bersih hingga 23,28% dan kenaikan pendapatan operasional dan jasa perbankan yang naik hingga 18,05%.

Tercatat pendapatan bunga bersih Bank BNI naik menjadi Rp 19,06 triliun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 15,46 triliun dengan didorong oleh kenaikan kredit.
Kredit dan pembiayaan syariah meskipun pada industri perbankan diprakirakan akan turun seiring kebijakan BI, namun Bank BNI justru membukukan pertumbuhan hingga  24,85% menjadi Rp 250,45 triliun dibandingkan dengan tahun 2012 sebelumnya yang mencapai Rp 200,62 triliun. Pertumbuhan kredit  Bank BNI bahkan masih dominan di antara pertumbuhan portofolio aset Bank BNI lainnya.

Kredit Bank BNI masih didominasi oleh kredit korporasi yang mencapai 44,8% atau senilai Rp 112,23 triliun atau tumbuh 55,4% dibandingkan tahun 2012 yang hanya sebesar Rp 72,224 triliun. Sementara itu, kredit mikro hanya sebesar 15,3% atau sebesar 38,41 triliun atau tumbuh 10,1% dibandingkan dengan tahun 2012.

Pendapatan operasional perbankan, sebagai penyumbang laba Bank BNI, tercatat selama 2013 naik menjadi sebesar Rp 9,78 triliun dibandingkan tahun 2012 lalu sebesar Rp 8,29 triliun dengan didorong oleh keuntungan transaksi spot derivatif dan komisi transaksi keuangan  yang masing-masing sebesar Rp 1,19 triliun dan Rp 3,51 triliun.

Sementara itu, dari sisi beban operasional Bank BNI tercatat hanya naik 16,67% menjadi sebesar Rp 17,62 triliun dan dengan kenaikan yang lebih rendah dari pertumbuhan pendapatan sehingga mendorong laba bersih naik lebih tinggi.

Kualitas kredit 2013 membaik
Dalam artikel sebelumnya pada semester pertama 2013, meskipun kredit tumbuh tetapi saat itu kualitas kredit menurun dengan ditunjukkan oleh kenaikan NPL. (http://fundamental-saham.blogspot.com/2013/07/laba-bersih-tumbuh-302-namun-kredit.html). Namun, pada periode 2013 ini kredit bermasalah Bank BNI menunjukkan penurunan.

Tercatat kredit bermasalah sebesar Rp 5,20 triliun atau turun 5,22% dibandingkan dengan tahun 2012 lalu sebesar Rp 5,48 triliun hanya untuk bank saja tanpa memperhitungkan pembiayaan lain.
Hampir semua segmen kredit (korporasi, kosumer dan bisnis medium) membukukan penurunan non performing loan (NPL), tetapi untuk segmen UMKM justru tercatat naik menjadi 5,32% dibanding sebelumnya 5,30%.

Selama tahun 2013, kredit bermasalah bertambah hingga Rp 2,84 triliun dengan kredit yang dihapus buku sebesar Rp 3,13 triliun. Baik penambahan kredit bermasalah baru maupun yang dihapus buku relatif lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang masing-masing sebesar Rp 2,95 triliun dan RP 3,17 triliun.

Sementara itu, dari sisi rasio pengembalian kredit bermasalah atau coverage ratio menunjukkan kenaikan menjadi 128,5% dibandingkan dengan tahun 2012 lalu sebesar 123%.

Rasio kinerja 2013 membaik
Tercatat NIM Bank BNI masih menunjukkan pertumbuhan atau naik menjadi 6,11% dibandingkan dengan tahun 2012 sebesar 5,93% hal ini seiring dengan pertumbuhan kredit dan pertumbuan pendapatan bunga bersih.

Kenaikan NIM ini tidak lepas dari beban biaya bunga (cost of fund) yang hanya naik 2,03% selama 2013 dibandingkan dengan 2012 lalu dengan didorong bertambahnya perolehan dana murah oleh Bank BNI sehingga dapat menekan cost of fund. Hal tersebut ditunjukkan pada rasio CASA (current account saving account) sebesar 67,05% atau naik dari sebelumnya 66,00%.

Tercatat dari dana pihak ketiga yang dihimpin Bank BNI, giro naik 20% menjadi Rp 88,13 triliun sementara tabungan naik 11,19% menjadi Rp 107,51 triliun, disisi lain deposito hanya tumbuh 8,05% menjadi Rp 86,99 triliun.

Imbal hasil atas ekuitas (ROE) naik menjadi 22,47% dibanding tahun 2012 lalu sebesar 19,99% dengan biaya operasional dibanding pendapatan operasional (BOPO) turun menjadi 67,09% dari tahun 2012 lalu sebesar 70,09%.

Namun, CAR Bank BNI tercatat turun menjadi 15,09% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 16,67%. Kenaikan CAR ini naik seiring dengan pertumbuhan kredit  yang lebih tinggi dari pertumbuhan modal Bank BNI sendiri.

Dengan penurunan CAR tersebut, rencananya pada tahun depan, Bank BNI akan melakukan right issue untuk memperkuat permodalan.

Dari sisi harga saham, saat ini price earnings ratio (PER) Bank BNI pada kisaran 8,13 kali bahkan lebih rendah daripada industri perbankan dan dengan price to book value sebesar 1,60 kali, juga lebih rendah diantara bank-bank besar. Ini mengindikasikan bahwa potensi untuk tumbuh masih ada.

Bagaimana Bank BNI kedepan?
AFN melihat kinerja Bank BNI secara fundamental meskipun outperform, namun pertumbuhannya masih di bawah bank-bank besar lainnya sehingga masih sulit untuk bersaing tiga bank lainnya yang membukukan aset jauh di atas Bank BNI yaitu, Bank Mandiri, Bank BRI dan Bank BCA.

Jika ketiga bank terbesar lainnya mempunyai pasar khusus misalnya, Bank BRI yang fokus pada kredit mikro yang menawarkan marjin tinggi, Bank Mandiri yang merupakan  bank investasi dan juga sebagian membiayai proyek-proyek pemerintah dan Bank BCA yang dikenal sebagai bank transaksional dengan jaringan yang luas. Sementara Bank BNI belum memiliki fokus bisnis dan masih terlalu terdiversifikasi bahkan  cenderung bertarung pada pangsa pasar yang sama seperti Mandiri dan BCA.

Jika digambarkan dengan matrik Pareto, di mana grafik sebelah kiri, menunjukkan beberapa Bank yang memiliki jumlah dana pihak ketiga yang kemudian disalurkan untuk kredit atau pembiayaan lain yang lebih kecil namun beberapa Bank memiliki tingkat pengembalian atau return on equity yang tinggi, semakin berada pada grafik kiri bagian atas semakin efisien kinerja bank tersebut atau memiliki profitabilitas tinggi.

Di sisi lain dengan jumlah nasabah yang besar akan linier dengan return on equity yang tinggi maka menunjukkan bank tersebut berkinerja efisien, yaitu dapat menekan biaya rendah sehingga profitabilitasnya tinggi.

Jika dilihat dari perbandingan pada bank-bank besar yang terdaftar di Bursa tersebut, Bank BNI berada pada matrik di tengah-tengah. Ini menunjukkan bahwa Bank BNI tidak berada pada positioning yang tepat dalam hal market share.

Berbeda dengan Bank BNI, nasabahnya masih di bawah Bank BCA dan Bank Mandiri begitu pula dengan retun on equity-nya juga masih di bawah ketiga bank tersebut. Kesimpulannya ketiga bank terbesar lainnya masih berkinerja lebih baik dari pada Bank BNI.