Wednesday, March 19, 2014

Laba Bersih Bumi Serpong Naik, Neraca Kuat



Jakarta, 19 Maret 2014 - Laba bersih PT Bumi Serpong Damai, Tbk (BSDE) naik 109% menjadi Rp 2,69 triliun sementara laba bersih per saham naik jadi Rp 153,82/ lembar. Kenaikan laba ini didorong oleh kenaikan pendapatan sebesar 54%, kenaikan nilai tambah tanah yang dimiliki, serta kenaikan biaya-biaya yang lebih rendah daripada kenaikan pendapatan.

Pendapatan BDSE naik 54% menjadi Rp 5,74 triliun dari sebelumnya Rp 3,73 triliun. Kenaikan ini didorong oleh kenaikan penjualan tanah dan bangunan, terutama penjualan kepada kepada pihak berelasi. Transaksi yang signifikan adalah kepada PT. Bumi Pratama Wisesa sebesar Rp. 727 miliar, kepada PT. AMSL Indonesia sebesar Rp. 308 miliar dan kepada PT. Indonesia Internasional Expo sebesar Rp. 280 miliar. 

Laba kotor naik 75% menjadi Rp 4,17 triliun dari sebelumnya Rp 2,38 triliun. Marjin laba kotor naik menjadi 72,6% dari sebelumnya 63,9%. Kenaikan marjin laba kotor ini disebabkan oleh kenaikan nilai tambah dari tanah (dibeli secara historis pada harga rendah dan kini dapat dijual dengan harga jauh lebih tinggi). Kenaikan nilai tambah tanah ini merupakan hasil dari strategi jitu BSDE di dalam pengolahan lahannya.

Laba sebelum pajak dan bunga naik 95% menjadi Rp 3,48 triliun dari sebelumnay Rp 1,79 triliun. Beban bunga naik cukup tinggi ke Rp 198,69 miliar, namun rasio EBIT terhadap beban keuangan tetap tinggi di 17,5x. Artinya perusahaan memiliki kemampuan lebih dari cukup untuk membayar beban bunganya.

Laba bersih naik 109% menjadikan marjin laba bersih naik signifikan jadi 46,9% dari sebelumnya 34,5%. Imbal hasil atas ekuitas (ROE) naik menjadi 26,3% dari sebelumnya 16,2%.

Arus kas bersih tetap meningkat Rp 282,57 miliar. Arus kas operasional naik 146% jadi Rp 548,88 miliar dari sebelumnya Rp 222,68 miliar. Ini terutama berasal dari peningkatan kas dari pelanggan yang tercatat Rp 7,27 triliun atau naik 52% dari sebelumnya Rp 4,77 triliun.


Neraca kuat
Aset BSDE naik 35% menjadi Rp 22,57 triliun dari sebelumnya Rp 16,76 triliun. Kenaikan ini terutama terjadi pada Aset lancar yang mencapai 40% menjadi Rp 11,83 triliun dari sebelumnya Rp 8,44 triliun. Kenaikan pada aset lancar karena kenaikan investasi jangka pendek dan penyaluran dana mudharabah sebesar Rp 1,03 triliun untuk investasi jangka pendek dan Rp 255 miliar pada penyaluran dana mudharabah. Selain itu di aset tetap pun ada peningkatan terutama dari tanah belum dikembangkan menjadi Rp 7,25 triliun dari sebelumnya Rp 6,52 triliun dan pada properti investasi yang kini tercatat Rp 2,50 triliun dari sebelumnya Rp 681,39 miliar.

Utang jangka pendek dan jangka panjang tercatat naik, akan tetapi kenaikan ini tidak memberikan perubahan signifikan pada rasio leveragenya. Utang jangka pendek naik jadi Rp 4,44 triliun dari sebelumnya Rp 2,91 triliun; sementara utang jangka panjang naik jadi Rp 4,72 triliun dari sebelumnya Rp 3,32 triliun. Kenaikan utang jangka pendek terutama dikarenakan kenaikan utang bank jangka pendek yang kini mencapai Rp 1,33 triliun. Sementara kenaikan utang jangka panjang dikarenakan kenaikan utang obligasi yang kini tercatat Rp 2,73 triliun dari sebelumnya RP 990,25 miliar.

Rasio utang jangka panjang atas ekuitas naik sedikit, tetapi tidak signifikan bahkan tidak relevan, yaitu menjadi 0,46x dari sebelumnya 0,42x. Rasio utang atas aset naik menjadi 0,41x dari sebelumnya 0,37x. Rasio lancar jadi 2,67x dari sebelumnya 2,90x.

Kapitalisasi pasar Bumi Serpong tetap tertinggi di antara perusahaan properti lainnya. Pada penutupan 18 Maret 2014 tercatat kapitalisasi pasar Rp 29,48 triliun, mencerminkan P/E 10,95x dan PBV 2,88 x.

 

Laba Bersih Bukopin Naik, Kualitas Aset Membaik



Jakarta, 19 Maret 2014 – Laba bersih PT Bank Bukopin, Tbk selama tahun 2013 naik hingga 11,38%  menjadi sebesar Rp 929, 71 miliar. Kenaikan laba bersih ini didorong oleh pertumbuhan pendapatan operasional yang naik signifikan serta penurunan beban operasional.

Laba bersih Bank Bukopin selama tahun 2013 naik hingga 11,38% menjadi sebesar Rp 929, 71 miliar selama tahun 2013 atau menguat jika dibandingkan dengan tahun 2012 lalu yang tercatat sebesar Rp 830,49 miliar.

Tercatat pendapatan operasional mengalami peningkatan  hingga 18,37% selama 2013 menjadi sebesar Rp 785,70 miliar dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 663,75 miliar. Pendapatan operasional ini tumbuh didorong oleh kenaikan dari perolehan pendapatan provisi yang naik 9,37% menjadi sebesar Rp 548,30 miliar selama tahun 2013 dibandingkan tahun 2012 lalu yang sebesar Rp 501,32 miliar.

Beban operasional juga berhasil ditekan lebih efisien dan mencatatkan penurunan sebesar 0,18% selama tahun 2013 sehingga menunjukkan setiap aset yang dimiliki Bank Bukopin semakin produktif.

Sementara itu pendapatan bunga bersih yang merupakan salah satu komponen pendorong laba, justru tertekan seiring dengan meningkatnya beban bunga (cost of fund) akibat menipisnya likuiditas di pasar perbankan.

Pendapatan bunga bersih Bank Bukopin tercatat tertekan sebesar 0,73% menjadi Rp 2,44 triliun dibandingkan dengan tahun 2012 lalu yang tercatat sebesar Rp 2,46 triliun. Padahal pendapatan bunga justru masih menunjukkan pertumbuhan hingga 16,07% menjadi sebesar Rp 5,95 triliun pada tahun 2013 dibandingkan dengan tahun 2012 lalu sebesar Rp 5,17 triliun.

Namun karena beban bunga mengalami kenaikan maka pendapatan bunga bersih tertekan. Tercatat beban bunga (cost of fund) naik sebesar 31,58% selama tahun 2013 menjadi sebesar Rp 3,51 triliun dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar Rp 2,66 triliun. Kenaikan beban bunga ini seiring perebutan likuiditas di passar sehingga untuk menyerap dana pihak ketiga Bank Bukopin akhirnya menanggung bunga yang lebih tinggi.
 
Kualitas Aset Membaik
Aset produktif Bank Bukopin tercatat mengalami pertumbuhan hingga 4,45% menjadi sebesar Rp. 62,68 triliun  selama tahun 2013 dibandingkan dengan tahun 2012 lalu yang tercatat sebesar Rp 60,01 triliun.

Dari aset produktif ini, tercatat kredit yang disalurkan meningkat 6,42% menjadi Rp 48,45 triliun dan diiringi dengan penurunan non performing loan (NPL) gross menjadi sebesar 2,26% selama 2013 atau jika dibandingkan dengan tahun 2012 lalu sebesar 2,66%, sedangkan NPL netto sebesar 1,51% dibanding sebelumnya pada 1,56%.

Penurunan NPL tersebut mengindikasikan kualitas kredit semakin terjaga dan potensi kerugian dari penghapus bukuan kredit lebih kecil.
Secara nominal, kredit Bank Bukopin masih didominasi oleh kredit UKM dan kredit komersial yang tercatat masing-masing senilai Rp 19,05 triliun dan Rp 15,50 triliun. Sementara itu, kredit dari Bulog tercatat turun hingga 54,66% menjadi sebesar Rp 3,78 triliun dibandingkan dengan tahun 2012 lalu sebesar Rp 8,34 triliun.

Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) yang berasal dari tabungan dan giro (CASA) tumbuh moderat sebesar 5,06% menjadi sebesar Rp 23,25 triliun selama tahun 2013 atau lebih tinggi juka dibandingkan dengan tahun 2012 lalu yang tercatat sebesar Rp 22,13 triliun.