Thursday, October 2, 2014

Kinerja BW Plantation meningkat

Jakarta, 3 Oktober 2014 - Selama semester pertama lalu, PT BW Plantation, Tbk membukukan kenaikan laba bersih hingga 67,3% menjadi Rp 141,22 miliar yang didorong atas peningkatan penjualan dan kenaikan beban yang lebih rendah dibandingkan dengan peningkatan pendapatan.

Peningkatan harga komoditas sawit selama semester pertama tahun ini menjadi pada kisaran Rp 8,1 juta per metrik ton ikut mendorong pendapatan BW Plantation selama semester pertama tahun ini dibadingkan dengan tahun lalu pada kisaran Rp 7 juta per metrik ton.   

Di sisi lain, beban produksi juga meningkat dengan unit cost produksi CPO BW Plantation menjadi sebesar Rp 5,47 juta per metrik ton dibandingkan tahun lalu sebesar Rp 4,61 juta. Peningkatan produksi tersebut sejauh ini masih seiring dengan kenaikan hasil produksi CPO BW Plantations yang naik menjadi 74.167 metrik ton dibandingkan dengan tahun lalu sebesar 66.814 metrik ton.

Hasilnya, laba kotor BW Plantation tercatat mengalami pertumbuhan hingga 42,3% menjadi sebesar Rp 339,4 miliar dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar Rp 238,6 miliar dan  dengan marjin laba kotor yang menguat menjadi 45,6% dibandingkan tahun lalu sebesar 43,7%.

Sementara itu, laba usaha tercatat mengalami pertumbuhan hingga 51,46% menjadi sebesar Rp 224,8 miliar setelah beban usaha yang hanya mengalami kenaikan hingga 27,2% atau lebih rendah jika dibandingkan ddengan laba kotor.


Beban keuangan yang dibukukan BW Plantation masih relatif tinggi hingga mencapai Rp 44,8 miliar ada tahun ini seiring dengan obligasi yang dikeluarkan hingga senilai Rp 700 miliar dan hutang bank yang senilai hingga Rp 2,86 triliun.

Sebagai catatan, pada  semester kedua ini, Pefindo telah memberikan peringkat obligasi yang dikeluarkan BW Plantations dengan peringkat idBBB+ dengan jangka waktu hingga 1 Agustus 2015 tahun depan yang menunjukkan BW Plantations setidaknya masih masuk dalam investment rating.

Dengan meningkatnya laba atas entitas anak yang tahun ini mencapai Rp 8,14 miliar dan keuntungan dari selisih kurs dan pendapatan bunga lainnya yang lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, membuat laba bersih BW Plantation terdorong naik hingga 67,3%, meskipun beban keuangan masih tinggi.

Marjin laba bersih yang dibukukan tercatat sebesar 19,0% atau naik dari 15,5% pada tahun lalu dengan imbal hasil terhadap ekuitas tercatat sebesar 12,1%.

Wednesday, October 1, 2014

Tiga Pilar Tambah Modal untuk Besarkan Taro

Jakarta, 2 Oktober 2014- PT Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk (AISA) mengumumkan akan melaksanakan penambahan modal tanpa HMETD senilai Rp 658,35 miliar. Rencananya penambahan modal ini akan digunakan untuk penambahan mesin baru dan memperluas pabrik Taro di Jawa Tengah.

Emiten ingin memperluas kapasitas pabrik Taro seiring dengan rencananya memasukkan snack berbrand kuat ini ke Malaysia dan Cina. Dengan penambahan kapasitas, manajemen memperkirakan penjualan Taro akan berlipat ganda menjadi Rp 816 miliar dibandingkan sebelumnya sekitar Rp 360 miliar.

Selain itu perusahaan juga terus memperbesar lini usaha perkebunan melalui partisipasi publik dengan melepas 20 – 30% saham ke publik. PT Golden Plantations bergerak di bidang industri perkebunan kelapa sawit dengan aset per Juni 2014 sebesar Rp 1,18 triliun dan dimiliki sepenuhnya oleh Tiga Pilar sejak dibeli pada Maret 2014 dari pihak berelasi.  Segera setelah akuisisi tersebut, Golden Plantations melakukan penjualan atas beberapa anak perusahaan untuk konsolidasi internal.  

Saham baru yang akan dikeluarkan adalah 292,6 juta atau 10% dari jumlah saham beredar dengan harga Rp 2.250. Pembeli baru adalah Trophy 2014 Investors Ltd., sebuah private equity yang tidak diketahui manajemennya dan diperkirakan terafiliasi dengan private equity ternama, Kohlberg Kravis Roberts (KKR).  Sebelumnya Trophy telah termasuk di dalam jajaran pemegang saham AISA sebanyak 6,20%. Dengan peningkatan saham ini, maka Trophy akan memiliki lebih dari 15% dari saham emiten.

Saat ini publik memiliki 44,29% saham perusahaan, sementara pemegang saham mayoritas adalah tersebar di beberapa pemilik yaitu PT Tiga Pilar Corpora (14,38%), PT Permata Handrawati Sakti (10,12%), JP Morgan Chase Bank Non Treaty Clients (9,08%), Primanex Limited (8,14%), Primanex Pte Ltd (7,79%) dan Trophy Investors II Ltd (6,20%).

Sepanjang semester I tahun 2014 ini, emiten telah mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba yang signifikan. Pendapatan naik 37% menjadi Rp 2,45 triliun sementara laba bersih naik 29% menjadi Rp 172,96 miliar.

Beberapa produk yang menjadi andalan emiten adalah beras yang menyumbang 65% dari pendapatan, diikuti oleh mie kering  dan mie instan yang berkontribusi 15%, serta wafer stick dan snack ekstrusi menyumbang 10% dari pendapatan.


ASCEND merekomendasikan investor terus mencermati emiten ini karena memiliki potensi untuk bertumbuh. Akan tetapi saat ini harganya masih cukup mahal bila melihat kepada kapasitas kininya. Rasio harga terhadap laba (PER) mencapai 19,24 kali sementara rasio harga terhadap nilai buku ekuitas (PBV) sudah mencapai 3,08 kali.  Bandingkan ini dengan PER pasar di sekitar 16 kali dan PBV pasar di sekitar 1,5 kali. 


Monday, September 29, 2014

Pan Brothers Catatkan Kenaikan Laba Didorong Pendapatan Lain-lain

Jakarta, 30 September 2014 – PT Pan Brothers, Tbk (PBRX)  mengumumkan kenaikan laba bersih 34% menjadi US$ 6,91 juta didorong oleh kenaikan pendapatan bunga dan pendapatan lain-lain.  Selama beberapa tahun ke belakang, pendapatan dari penjualan Pan Brother terus meningkat, tapi laba bersihnya berfluktuasi.

Kenaikan pendapatan perusahaan hanya sebesar 2% menjadi US$ 162.89 juta. Kontributor utama perusahaan adalah penjualan ekspor, yaitu sebesar 93% atau US$ 151.62 juta. Sementara penjualan domestik hanya berkontribusi 7% atau US$ 11,36 juta.

Laba kotor meningkat lebih tinggi daripada pendapatan, yaitu 10% menjadi US$ 19,06 juta disebabkan karena penggunaan persediaan yang memiliki beban pokok lebih rendah karena dampak inflasi.

Sementara itu laba sebelum pajak naik sampai 37% menjadi US$ 8,35 juta  akibat adanya kenaikan pendapatan bunga sampai hampir 10 kali lipat menjadi US$ 2,35 juta dari sebelumnya US$ 0,24 juta. Kenaikan pendapatan lain-lain menjadi US 0,56 juta dari sebelumnya kurang dari 0,1 juta juga menjadi kontributor dalam peningkatan laba. Perusahaan juga diuntungkan oleh selisih kurs yang naik menjadi US$ 1,87 juta dari sebelumnya hanya US$ 1,34 juta akibat pelemahan Rupiah.

Imbal hasil atas ekuitas (ROE) perusahaan turun jadi 7,4% dari sebelumnya 10,9% akibat adanya peningkatan jumlah saham akibat adanya penawaran umum terbatas III sebanyak 3,39 miliar lembar.  Karena itu pula arus kas pendanaan melonjak menjadi US$ 120 juta, walaupun arus kas operasional negatif lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu US$ 20,49 juta.

Dana penawaran umum terbatas ketiga yang dilaksanakan oleh perusahaan akan digunakan sebagian besar untuk peningkatan kapasitas produksi dari entitas anak, yaitu PT Eco Smart Garment Indonesia untuk pembangunan pabrik di Jawa Tengah. Pembangunan pabrik ini rencananya akan menghabiskan US$ 70 juta dalam 3 tahun. Sisanya adalah untuk investasi sektor-sektor hulu dan hilir guna memperkuat posisi perusahaan di pasar serta untuk pendanaan modal kerja.

ASCEND ingin memberikan rekomendasi agar investor berhati-hati dengan emiten ini karena kinerjanya ke depan mungkin tidak sebaik jejak rekamnya. Hal ini terutama karena kuatnya persaingan dari negara-negara tetangga  yang juga fokus di dalam pengembangan tekstilnya seperti Vietnam, China dan Thailand. Sementara itu di dalam negeri sendiri, industri tekstil masih belum tertata sehingga sulit untuk bersaing dengan negara-negara berupah rendah dan ditopang kebijakan pemerintahnya.

Akan tetapi ASCEND juga ingin mengapresiasi Pan Brothers karena keberhasilannya keluar dari krisis tahun 1998 menuju kepada ekuitas yang positif bahkan mengembangkan usahanya dengan cara menjadi pemasok bahan baku bagi perusahaan-perusahaan lain serta menangani brand-brand ternama seperti Calvin Klein Jeans, Ralph Lauren Ltd., Lacoste SA., Prada SpA, Hugo Boss AG, Tommy
Hilfiger, Guess Inc,. dan lain-lain.




Tahun 2015 Waspada Terhadap Emiten Yang Banyak Berutang

Jakarta, 29 September 2014 – Ekonomi tahun 2015 akan diwarnai kenaikan suku bunga untuk membendung capital outflow akibat kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS, Fed Fund Rate (FFR). Apalagi pada tahun yang sama diperkirakan pemerintah yang baru terpilih akan mengurangi bahkan menghapuskan subsidi BBM. Kenaikan suku bunga ini akan memberikan dampak besar bagi emiten-emiten yang memiliki utang besar, baik dalam Rupiah maupun mata uang asing.

Sebelumnya ASCEND telah membahas tentang “Pelemahan Rupiah dan Karakter Perusahaan Layak Investasi” dalam artikel tertanggal 25 September. Di artikel tersebut ASCEND merekomendasikan untuk menghindari emiten-emiten yang memiliki utang besar di dalam valuta asing karena adanya potensi besar pelemahan Rupiah di tahun 2015 akibat inflasi yang sama. Di dalam artikel ini, ASCEND ingin meluaskan peringatan tersebut kepada semua emiten yang memiliki porsi utang besar di dalam struktur permodalannya.

Kita sedang menghadapi situasi yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelum krisis yaitu 2009 – 2012. Walaupun pertumbuhan ekonomi Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan negara-negara lainnya, akan tetapi tingkat pertumbuhan tersebut terus melemah. Mengutip perkataan Chatib Basri di dalam pidato pembukaan seminar international yang diadakan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tanggal 23 September yang lalu, kita sudah berada di dalam situasi yang normal. Artinya, jangan bergantung lagi kepada utang untuk mendorong pertumbuhan, karena pertumbuhannya dinormalisasi.

Secara teoritis, apabila tingkat pertumbuhan tinggi, maka struktur modal yang berat di utang lebih dapat diterima. Alasannya adalah karena pertumbuhan itu sendiri akan mampu untuk membayar bunga yang diminta oleh kreditur. Sebaliknya, apabila pertumbuhan flat bahkan negatif, jangan memberati laba dengan beban bunga.

Pemikiran ini pula yang harus diadopsi oleh investor ketika melakukan seleksi ulang terhadap portofolio investasinya di tahun 2015, yaitu emiten-emiten yang tidak memiliki utang besar. Di bawah ini adalah perusahaan-perusahaan non bank dan non multi finance yang memiliki rasio utang terhadap ekuitas lebih besar daripada 1,5 kali.

Apabila tingkat pertumbuhan perusahaan berpotensi tinggi secara konsisten selama beberapa tahun ke depan, maka struktur permodalan yang berat di utang masih dapat dijustifikasi. Namun tampak dari sebagian besar emiten yang termasuk di dalam daftar ini, hanya beberapa emiten yang memiliki tingkat pertumbuhan tinggi dan secara konsisten tinggi.

Beberapa  emiten dengan tingkat pertumbuhan yang secara konsisten tinggi adalah PT Centris Multipersada Prima, Tbk (CMPP), PT Benakat Integra, Tbk (BIPI), PT Pelayaran Tempuran Emas, Tbk (TMAS), PT Delta Dunia Makmur, Tbk (DOID), PT Ancora Indonesia Resources, Tbk (OKAS), PT PP (Persero), Tbk (PTPP), PT Sarana Menara Nusantara, Tbk (TOWR), dan


Sementara beberapa perusahaan yang baru saja IPO seperti PT Graha Layar Prima, Tbk (BLTZ), PT Dharma Satya Nusantara, Tbk (DSNG), dan PT Express Transindo Utama, Tbk (TAXI) belum memiliki jejak rekam atas konsistensi pertumbuhannya. 

Thursday, September 25, 2014

Pelemahan Rupiah dan Karakter Perusahaan Layak Investasi

Jakarta, 26 September 2014 - Sejak awal Agustus dan makin jelas pada awal September, Rupiah terus melemah terhadap dolar AS. Ada beberapa faktor yang ditengarai menjadi penyebabnya, baik internal maupun eksternal. Bagaimana investor harus memilih di tengah-tengah pelemahan seperti ini?

Sudah lima hari berturut-turut, Rupiah menetap di angka lebih dari Rp 12.000/dolar AS. Padahal di awal Agustus, Rupiah baru menyentuh Rp 11.533/dolar AS. Artinya selama hampir 2 bulan ini, Rupiah sudah melemah lebih dari 4%. Penyebab pelemahan ini berasal baik dari luar Indonesia, maupun dari dalam negeri.

Faktor luar yang tidak dapat ditentukan oleh Indonesia namun dapat diprediksi, adalah kenaikan suku bunga The Fed yang diperkirakan akan terjadi awal tahun depan. The Fed telah menyatakan hal tersebut sejak awal tahun ini, yaitu apabila indikator perekonomian Amerika terlihat membaik dan angka pengangguran menurun.

Langkah the Fed untuk menghentikan stimulusnya mendorong Bank Sentral Eropa dan Bank Sentral China juga bergerak untuk mempertahankan perekonomiannya masing-masing. Bank Sentral Eropa menyatakan akan tetap mengambil kebijakan moneter longgar sehingga inflasi dapat didorong sampai tetap di bawah 2%.  Likuiditas yang akan mengalir kembali ke Amerika akibat kenaikan suku bunga The Fed, dikuatirkan akan menekan pertumbuhan ekonomi Eropa apabila Bank Sentral Eropa tidak mengambil kebijakan tersebut.

Seiring dengan itu, Bank Sentral China juga memberikan sinyal akan melonggarkan kebijakan moneternya dengan cara menginjeksi dana stimulus kepada bank-bank terbesarnya. China akan mengambil keuntungan dengan melemahkan mata uang Yuannya untuk mendorong ekspor. Kebijakan ketiga bank sentral yang paling berpengaruh ini membawa dampak Rupiah yang makin melemah terhadap dolar AS.

Dari dalam negeri, pelemahan Rupiah juga disebabkan oleh defisit neraca perdagangan yang telah terjadi empat triwulan berturut-turut serta ekspektasi utang valas yang sedianya akan banyak jatuh tempo pada tahun ini. Selain itu penantian kabinet baru juga mempengaruhi kehati-hatian pelaku pasar di dalam membuat keputusan.

Tekanan nilai Rupiah ini diperkirakan akan terus berlangsung sampai tahun 2015 karena dorongan inflasi. Inflasi akan dipicu oleh pengurangan subsidi BBM yang telah diindikasikan oleh pemerintahan baru.

Kini yang lebih penting, di dalam situasi tekanan Rupiah ini, perusahaan-perusahaan mana yang masih menarik untuk diinvestasikan? Pertama adalah perusahaan-perusahaan yang tidak memiliki utang valas jangka panjang, sehingga dampak tekanan nilai Rupiah kecil. Kedua, adalah perusahaan-perusahaan yang sebagian pendapatannya adalah dari ekspor terutama yang pembayarannya dalam mata uang dolar AS, sehingga terjadi lindung nilai alami. Ketiga, adalah perusahaan-perusahaan yang bahan bakunya bukan impor tapi dari sumber-sumber domestik. 

Ke depannya, untuk mengurangi risiko ekonomi nasional, Bank Indonesia sedang mengkaji untuk membatasi utang sektor swasta berbasis valutas asing maksimal 70% dari aset. Porsi ini adalah porsi yang sangat moderat karena berarti bisa saja seluruh utang perusahaan berupa mata uang asing. Tetapi yang perlu diperhatikan dari kebijakan ini adalah intensi Bank Indonesia untuk meningkatkan pengawasan dan mendorong adanya strategi lindung nilai agar tidak terjadi lagi krisis moneter seperti tahun 1998.