Wednesday, March 5, 2014

MERCK Catatkan Kenaikan Laba 63%



Jakarta, 6 Maret 2014 – PT Merck, Tbk (MERK) catatkan kenaikan laba bersih 63% menjadi Rp 175,44 miliar didorong oleh kenaikan pendapatan serta pendapatan lain-lain. Walaupun demikian, rasio harga atas laba masih 25x sementara rasio harga atas nilai buku tinggi di 8,75 kali.

Pendapatan Merck tercatat Rp 1,19 triliun atau naik 28% dibandingkan tahun 2012 yang tercatat Rp 929,88 miliar. Kenaikan ini terdorong oleh penjualan produk farmasi ke Merck Serono yang naik 36% sebesar 36% menjadi Rp 549,68 miliar. Segmen kimia menyumbangkan kenaikan terbesar kedua yaitu 28% menjadi Rp 457,65 miliar.

Sebagian besar penjualan itu terjadi kepada pihak ketiga, yaitu sebesar Rp 1,13 triliun atau 95% dari total penjualan.

Sementara itu pendapatan lainnya perusahaan tahun ini tercatat positif Rp 579,92 juta dibandingkan tahun lalu yang minus sampai Rp 1,8 miliar. Ini mengangkat pertumbuhan laba bersih lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan.

Neraca Merck juga solid dengan kenaikan aset 22% menjadi Rp 696,95 miliar. Posisi kas kuat di Rp 182,23 miliar dan aset lancar Rp 588,24 miliar. Utang usaha kecil di Rp 73,93 miliar, sehingga rasio lancar kuat di 7,95x.

Rasio utang jangka panjang atas ekuitas hanya 0,07x dengan utang jangka panjang Rp 36,91 miliar dan ekuitas Rp 512,22 miliar.

Harga saham Merck tidak bergerak di Rp 200.000 dengan kapitalisasi pasar Rp 4,48 triliun. Rasio harga atas laba bersih (P/E) dan atas nilai buku (PBV) cukup tinggi yaitu di 25,54x dan 8,75x. 

Monday, March 3, 2014

Krakatau Steel Catatkan Rugi Bersih US$ 13,6 juta




Jakarta, 4 Maret 2014 – PT Krakatau Steel (Persero), Tbk (KRAS), penghasil baja yang sebagian besar penjualannya adalah ke pasar Indonesia, mencatatkan rugi bersih US$ 13,6 juta. Nilai kerugian ini lebih kecil dibandingkan tahun lalu, walaupun tertekan oleh turunnya pendapatan dan kerugian entitas asosiasi yang lebih besar.

Pendapatan perusahaan turun 9% menjadi US$ 2,08 miliar dari sebelumnya US$ 2,29 miliar. Penurunan sebagian besar dikarenakan turunnya penjualan baja ke pasar lokal yang memang merupakan kontributor utama pendapatan perusahaan. Penjualan lokal tercatat US$ 1,72 miliar, turun dari US$ 1,85 miliar di 2012. Sementara penjualan ekspor naik 26,5% menjadi US$ 34,82 juta.

Harga penjualan hot rolled coil (HRC)  turun hampir 15% ke US$666 per ton. Untuk memitigasi ini, perusahaan mendorong penjualannya menjadi 2,37 juta ton atau naik 3% dibandingkan 2,31 juta ton di 2012.

Penurunan pendapatan yang 9% ini sayangnya diiringi oleh penurunan beban pokok yang hanya 8,1%, sehingga laba kotor tertekan sampai 22% menjadi US$ 95,62 juta.

Penurunan pendapatan ditambah dengan kerugian entitas asosiasi sebesar US$ 12,29 juta, lebih tinggi dari tahun 2012 sebesar US$ 5,43 juta, makin menekan laba rugi perusahaan. Entitas asosiasi yang berkontribusi paling besar atas kerugian ini adalah PT Krakatau Posco yang memang belum beroperasi. Baru pada 22 Januari 2014, PT Krakatau Posco mengirim pelat baja perdana ke konsumen pertama, yaitu PT Sapta Sumber Lancar dan PT Intisumber Bajasakti sebesar 50 ton.

Total aset Krakatau turun 7% menjadi US$ 2,38 miliar dengan aset lancar sebesar US$ 1,10 miliar. Posisi kasnya di US$ 190,23 juta, dengan piutang US$ 276,17 juta. Utang jangka pendek cukup tinggi di US$ 1,14 miliar sehingga rasio lancarnya di bawah 1.

AFN melihat posisi neraca Krakatau Steel perlu diwaspadai, terutama di dalam kondisi ketat likuiditas. Rasio lancar di bawah 1, dengan rasio laba bersih sebelum pajak dan bunga dibagi beban keuangannya juga di bawah 1. Ini menunjukkan bahwa Krakatau Steel perlu waktu dalam pembayaran kewajibannya. 

Positifnya, perusahaan pada tahun 2013 telah menurunkan rata-rata hari piutang, utang usaha, dan persediaan. Ini mengurangi tekanan pada perputaran aset dan arus kas perusahaan.

United Tractors Catatkan Laba Bersih Per Saham Rp 1.296/ Saham




Jakarta, 3 Maret 2014 - Laba bersih per saham PT United Tractors, Tbk (UNTR) turun 16,33% menjadi Rp  1.296/ saham pada tahun 2013 dibandingkan dengan tahun 2012 lalu sebesar Rp 1.549/ saham. Penurunan laba bersih per saham ini terjadi karena penurunan pendapatan, namun penurunan biaya tidak secepat penurunan pendapatan sehingga hasilnya pun menekan laba bersih.

Perusahaan membukukan laba bersih sepanjang tahun 2013 senilai Rp 4,83 triliun atau turun 16,37% jika dibandingkan dengan tahun 2012 lalu sebesar Rp 5,78 triliun. Laba bersih tertekan dari penurunan pendapatan yang tercatat 8,83% menjadi Rp 51,01 juta selama tahun 2013 dibandingkan dengan tahun 2012 lalu sebesar Rp 55,95 triliun.

Penurunan pendapatan terbesar terjadi pada penjualan alat berat, sementara pendapatan dari jasa masih terjaga pertumbuhannya. Penjualan alat berat turun hingga 32,53% selama tahun 2013 menjadi Rp 17,83 triliun dibandingkan dengan tahun 2012 sebesar Rp 26,43 triliun. Penurunan ini terjadi baik pada penjualan alat berat untuk mesin konstruksi dan alat berat untuk pertambangan batubara.

Sebaliknya, pendapatan dari sektor jasa selama tahun 2013 mengalami pertumbuhan hingga 12,39% menjadi Rp 33,18 triliun, naik jika dibandingkan dengan tahun 2012 yang sebesar Rp 29,52 triliun.

Sayangnya ketika penurunan pendapatan terjadi cukup signifikan, biaya tidak turun dengan kecepatan yang sama. Penurunan beban langsung selama tahun 2013 hanya 8,67% atau lebih rendah dari penurunan penjualan sehingga mengakibatkan laba kotor juga turun hingga 9,54%. Tercatat beban langsung turun hanya sebesar Rp 41,50 triliun selama tahun 2013 lalu dibandingkan dengan tahun 2012 lalu sebesar Rp 45,43 triliun.

Sementara itu, beban usaha juga mengalami penurunan yang lebih rendah dan hanya sebesar 6,06% menjadi Rp 2,78 triliun dibandingkan dengan tahun 2012 lalu yang sebesar Rp 2,95 triliun sehingga laba usaha pun tertekan lebih signifikan. Hal ini mengakibatkan laba usaha United Tractors mengalami penurunan hingga 10,91% selama tahun 2013 menjadi Rp 6,74 triliun atau lebih rendah jika dibandingkan dengan tahun 2012 lalu sebesar Rp 7,57 triliun.


Meskipun laba tertekan, neraca United Tractors masih solid, ditunjukkan pertumbuhan aset hingga 14,04% menjadi Rp 57,36 triliun dibandingkan dengan tahun 2012 yang sebesar Rp 50,30 triliun. Pertumbuhan aset ini didorong oleh pertumbuhan aset lancar yang mencapai 26,15% atau sebesar Rp 27,81 triliun selama tahun 2013, terutama pada posisi kas yang naik 98,63% menjadi Rp 7,94 triliun.

Pembiayaan aset perusahaan masih didominasi dari sisi ekuitas yang senilai Rp 33,22 triliun atau lebih besar dari liabilitas yang senilai Rp 21,71 triliun yang menunjukkan kekuatan modal yang masih tinggi. Dengan leverage yang masih rendah ini, potensi untuk meningkatkan profitabilitas melalui pembiayaan hutang masih terbuka, namun perlu memperhatikan likuiditas perbankan dan kondisi industri pertambangan.

Arus kas yang dihasilkan dari aktivitas operasi tumbuh signifikan di tengah melambatnya industri. Tercatat arus kas dari aktivitas operasi naik hingga 93,77% menjadi Rp 12,22 triliun dibandingkan dengan tahun 2012 lalu yang sebesar Rp 6,31 triliun. AFN menduga pelemahan nilai tukar terhadap Rupiah bisa menjadi pendorong kenaikan arus kas ini karena penerimaan dengan Dollar sementara pembayaran kepada pemasok memakai Rupiah. 

Thursday, February 27, 2014

Laba Bersih Vale Indonesia Turun 43%, Strategi Efisiensi Biaya Belum Tercatat

 Jakarta, 28 Februari 2014 – PT Vale Indonesia, Tbk (INCO) mencatatkan penurunan laba bersih sampai 43% akibat penurunan pendapatan. Perusahaan telah menerapkan strategi efisiensi biaya yang walaupun belum tercermin pada pencatatan kinerja tahun ini, tetapi akan menguntungkan bagi perusahaan dalam jangka panjang.

Laba bersih kepada pemilik entitas induk turun 43% menjadi US$ 38,65 juta dari tahun 2012 sebesar US$ 67,49 juta. Ini mengakibatkan laba bersih per saham turun jadi sekitar Rp 47,43/ lembar dari sebelumnya Rp 67,90/ lembar. Penurunan laba bersih per saham hanya 30% karena efek kurs.

Pendapatan Vale sendiri turun hanya 5% jadi US$ 921,64 juta dari sebelumnya US$ 967,33 juta akibat harga komoditi yang terus tertekan. Di tahun 2013 perusahaan memproduksi 75.802 ton matte atau 7% lebih tinggi dari 2012. Namun harga rata-rata penjualan memang tertekan 12%  sehingga pendapatan turun.

Sisi positifnya adalah piutang turun cukup jauh yaitu sampai 41% menjadi US$ 65,90 juta dari sebelumnya US$ 112,64 juta. Kemungkinannya hal ini disebabkan karena banyaknya penjualan langsung (non kontrak) oleh perusahaan. Secara jangka panjang, hal ini kurang baik karena menjadi faktor destabilisasi pendapatan. Tetapi di kondisi ini, hal ini mengindikasikan bahwa Vale Indonesia tetap memiliki target pasar yang cukup untuk menyeimbangkan volatilitas harga.

Selain itu perusahaan juga telah melakukan berbagai strategi efisiensi biaya. Salah satunya yang paling signifikan adalah biaya pendapatan per metrik ton matte turun 7% jadi US$ 10.313/t dari US$ 11.091/t. Penurunan ini sebagian besar ditekan oleh penurunan biaya BBM dan pelumas, upah tenaga kerja, serta biaya kontrak dan jasa.

Penurunan biaya BBM dan pelumas disebabkan oleh harga beli PT Vale High Sulphur Fuel Oil (HSFO) yang lebih rendah 9% dibandingkan tahun lalu. Di semester kedua, perusahaan juga menyelesaikan konversi pengering ke tenaga batubara yang makin menekan kebutuhan BBM perusahaan.

 Walaupun belum tercermin secara signifikan dalam kinerja tahun ini, namun strategi ini akan menjadi salah satu penopang perusahaan dalam jangka panjang.

Neraca Vale Kuat, Saham Fluktuatif
Posisi kas Vale naik ke US$ 200,20 juta dibandingkan tahun 2012 di US$ 172,24 juta. Arus kas dari aktivitas operasional melompat jadi US$ 265,89 juta dari sebelumnya US$ 79,16 juta. Peningkatan ini karena kenaikan penerimaan dari konsumen dan penurunan pembayaran ke pemasok, serta lebih rendahnya pembayaran pajak penghasilan badan sekaligus adanya pembayaran kelebihan pajak sebesar US$ 40,16 juta.

Utang jangka panjang turun ke US$ 397,95 juta menyebabkan rasio utang turun menjadi 0,25x dan utang jangka panjang atas ekuitas turun jadi 0,23x. Ini juga membuat beban bunga turun jadi US$ 14,68 juta dari sebelumnya US$ 15,49 juta. Penurunan ini meringankan beban perusahaan.

Paska penerbitan laporan keuangan ini, harga saham INCO tidak mengalami perubahan berarti. Sementara itu, selama 6 bulan terakhir, kisaran harganya cukup lebar yaitu dari Rp 2.100 – 2.800/ lembar, dengan likuiditas yang lebih baik dibandingkan 1 tahun sebelumnya. Ini mengindikasikan keraguan investor tapi sekaligus pelaku pasar sudah merasa bahwa ini waktunya untuk naik. 

Rasio harga terhadap laba (PER) masih tinggi yaitu 50 kali, sementara rasio harga terhadap nilai buku (PBV) hanya 1,13 kali.

.