Showing posts with label Agung Podomoro Land. Show all posts
Showing posts with label Agung Podomoro Land. Show all posts

Monday, July 21, 2014

Agung Podomoro Bukukan Penurunan Kinerja di Triwulan Kedua

Jakarta, 22 Juli 2014 – PT Agung Podomoro Land, Tbk (APLN) membukukan penurunan pendapatan dan laba bersih. Penurunan ini juga tampak pada marketing sales yang baru tercapai 37,8% sampai dengan semester-I ini.

Pendapatan Agung Podomoro tercatat turun 5,5% menjadi Rp 2,29 triliun. Penurunan terjadi karena penurunan penjualan apartemen, rumah tinggal, dan rumah toko. Penjualan apartemen turun 16% menjadi Rp 991,5 miliar. Penjualan rumah tinggal turun 66% menjadi Rp 139,9 miliar. Sementara itu pendapatan yang naik berasal dari penjualan rumah kantor dan pendapatan dari hotel.

Penurunan kinerja pada tahun ini juga tampak di marketing sales yang baru tercapai Rp 2,46 triliun dibandingkan target tahun ini senilai Rp 6,5 triliun. Marketing sales disumbangkan dari Harco Glodok, Orchard Park Batam, Podomoro City Extension, Borneo Bay Residences, Grand Taruma, Soho Pancoran, Metro Park Residence, Vimala Hills dan Podomoro City Deli Medan.

Laba bersih tercatat turun 20,6% menjadi Rp 1,09 triliun seiring dengan penurunan pendapatan serta kenaikan beban. Beban terbesar yang menekan pertumbuhan adalah beban-beban umum dan administrasi yang naik 28,9% menjadi Rp 341.86 miliar serta beban bunga yang naik 21,5% menjadi Rp 267.86 miliar.

Kinerja semester pertama mengindikasikan bahwa triwulan yang kedua ini merupakan masa yang sulit bagi Agung Podomoro karena perusahaan mencatatkan pertumbuhan baik pendapatan maupun laba bersih di di triwulan pertama. Sebagai catatan, pertumbuhan pendapatan di triwulan pertama adalah 2% dan pertumbuhan laba bersihnya 20,7%.


Laporan penurunan kinerja yang disampaikan pada tanggal 22 Juli ini didahului dengan kenaikan harga saham yang signifikan pada tanggal 16 Juli. Hal ini terjadi dengan likuiditas yang tinggi sehingga saham APLN kini bergerak pada level yang berbeda daripada sebelumnya.

Wednesday, November 27, 2013

APL: Target 2014 Dipangkas Setelah Akuisisi Lahan Rp 1,35 Triliun

Jakarta, 28 November 2013 - PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) hanya memproyeksikan pendapatan maupun laba bersihnya tumbuh sama dengan rata-rata industri yaitu sebesar 10%.  Selama tahun ini perusahaan telah melakukan akuisisi lahan senilai total lebih dari Rp 1,35 triliun.

APL mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 1% menjadi Rp3,48 triliun pada kuartal III 2013 dibandingkan tahun lalu. Penurunan pendapatan ini diikuti merosotnya laba bersih sebesar 5,4% menjadi Rp678,59 miliar.

Padahal di awal tahun APL mentargetkan pertumbuhan pendapatan 10-15%. Pencapaian target yang suboptimal ini disebabkan oleh suku bunga bank dan tingkat inflasi yang tidak diduga.

Kinerja pertumbuhan pendapatan dan laba akan semakin berat mengingat APL baru saja menerbitkan obligasi berkelanjutan tahap I untuk pengembanan usaha termasuk pembelian lahan.

Obligasi ini senilai Rp 1,2 triliun dengan kupon 9,25% per tahun dengan tenor 5 tahun. Apalagi sebanyak Rp 500 miliar belum digunakan, ini akan menambah beban perusahaan.

Sebelumnya, enam akuisisi dan pembelian lahan yang dilakukan perusahaan di tahun ini adalah sebagai berikut

1. APLN mengakuisisi 58% saham PT Menara Deli, pemilik Mall Deli Plaza senilai Rp 467 miliar. Dengan aksi ini APLN memiliki 5,2 hektare (ha) di pusat kota Medan, Sumatera Utara. Nantinya lokasi ini akan dibangun superblok.

2. APLN mengakuisisi 60% saham PT Simprug Mahkota Indah senilai Rp 221 miliar. APLN memiliki lahan seluas 1,6 ha di kawasan Simprug, Jakarta Selatan dari aksi tersebut. Lokasi ini akan dibangun kompleks apartemen.

3. APLN melalui anak usaha PT Pesona Gerbang Karawang mengakuisisi 99% saham PT Astakona Megahtama senilai Rp 107 miliar.  Dengan aksi ini APLN memiliki 63 ha lahan di Karawang, Jawa Barat. Lokasi ini akan dibangun kawasan industri.

4. APLN melalui anak usaha PT Pesona Gerbang Karawang mengakuisisi 99% saham PT Tatar Kertabumi senilai Rp 61 miliar. Dengan aksi ini APLN memiliki 5,5 ha lahan di pusat kota Karawang, Jawa Barat

5. APLN mendirikan PT Alam Makmur Indah dengan kepemilikan 70% saham. APLN membeli lahan industri seluas 216 ha di Karawang, Jawa Barat.

6. APLN melalui anak usaha PT Buana Surya Makmur membeli lahan seluas 27 ha di Bandung Selatan. Tidak dijelaskan berapa nilai pembelian lahan tersebut. 5 akuisisi itu senilai Rp 1,35 triliun.

Akuisisi dan pembelian lahan tersebut belum termasuk investasi yang dikeluarkan APLN untuk membangun proyek di masing-masing lokasi.

Akuisisi ini membuat total lahan yang dimiliki APL sebesar 960 ha.

Tuesday, August 20, 2013

Banyak Perusahaan Properti Akan Garap Kawasan Industri

Jakarta, 20 Agustus 2013 - Kebijakan Bank Indonesia (BI) mengenai Loan To Value (LTV) dan fokus Ditjen Pajak pada sektor properti dinilai akan meredakan kekuatiran bubble properti, namun juga menekan pertumbuhan properti khususnya perumahan di Indonesia. Antisipasinya, perusahaan properti mungkin akan beralih ke properti berjenis kawasan industri.

Pada 11 Juli 2013, Bank Indonesia mengumumkan bahwa pihaknya akan memberlakukan pengetatan LTV untuk kredit pemilikan rumah (KPR) serta apartemen kedua dan seterusnya, mulai September. Bank sentral menetapkan LTV 60% bagi pinjaman rumah kedua dan 50% untuk pinjaman rumah ketiga, dari sebelumnya 70% untuk seluruh KPR. Selain itu, bank akan dibatasi untuk memberi kredit yang digunakan untuk uang muka (down payments) pembelian rumah.

Selain itu Direktorat Jenderal Pajak juga menyatakan akan menggenjot penerimaan pajak pada tahun 2014 di sektor properti dan finansial. Ditjen Pajak belum menyatakan gambaran strateginya seperti apa, namun kemungkinan besar properti yang dimaksud adalah properti residensial. Ditjen Pajak mendapatkan target penerimaan pajak yang meningkat cukup besar dibandingkan target tahun 2013.

PT Agung Podomoro Land, Tbk (APLN) telah melakukan dua akuisisi lahan yang akan dikembangkan sebagai kawasan industri. Akuisisi pertama adalah lewat anak perusahaan, PT Alam Makmur Indah, atas lahan seluas 216 ha di Karawang, Jawa Barat. Total nilai transaksi mencapai Rp 502 miliar. Sebelumnya, Agung Podomoro juga melakukan akuisisi kawasan industri 342 ha di Karawang. Targetnya kedua kawasan ini akan digarap awal 2014 dengan harga Rp 1 juta per m2.

PT Modernland Realty, Tbk (MDLN), melalui anak usaha PT Prisma Inti Semesta, berencana mengembangkan kawasan industri Cikande, Serang, Banten, tahun ini. Total land bank perusahaan di Cikande sebesar 420 hektare per Maret, dari lahan terlisensi 2.050 hektare. Harga jual lahannya Rp 1,2 juta per m2 hingga Maret 2013.

PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan PT Gemilang Bentara Nusa yang memiliki kepemilikan penuh atas  PT Tjokrohandoko Tugu Estate pada 22 Maret 2013.Bekasi Fajar akan membeli tanah secara bertahap, dan akan meluncurkan fase pertama dari kawasan industri dan warehouse hub ini sebesar 400 ha.  Nilai akuisisi sekitar Rp 276 miliar.

AFN melihat bahwa perkembangan ini baik seiring dengan tingginya minat pemerintah untuk mengembangkan industri hilir. Perkembangan ini juga akan membuat kompetisi di kalangan sektor properti akan makin seimbang dan tidak didominasi oleh properti perumahan saja. Ke depannya, kita akan melihat makin banyak perusahaan-perusahaan pengembang yang diminati investor karena fokusnya di industri.
Indeks Properti Jatuh karena beberapa kebijakan yang mendapatkan sentimen negatif