Thursday, July 18, 2013

Aneka Tambang Cari Pendanaan US$ 1,6M untuk FeNi.

Aneka Tambang (Persero), Tbk (ANTM) telah mempersiapkan 3 skenario pendanaan bagi mega proyek pabrik Ferronikel (FeNi) di Halmahera Timur, Maluku Utara. Jumlah pendanaan mencapai US$ 1,6 miliar. Sampai Mei 2013, pembangunan EPC proyek ini sudah selesai 5% dan diestimasi akan memasuki tahap commissioning pada tahun 2015.

Ketiga skenario pendanaan tersebut adalah:
1. Mencari pendanaan proyek dari Export Credit Agency (ECA) di Eropa, terutama negara Skandinavia. Sekarang ini, pihak ECA sedang mengkaji kelayakan proyek untuk melihat apakah pendanaan itu feasible di tengah jatuhnya harga nikel.

2. Commercial funding diharapkan akan berasal dari konsorsium perbankan dari dalam dan luar negeri yang akan dipimpin oleh Bank Mandiri dan Deutsche Bank. Rencananya akan ada 7 bank yang ikut di dalam konsorsium.

3.  Untied program adalah pendanaan dari pembeli feronikel sendiri.

Proyek Feronikel di Halmahera Timur ini ditargetkan akan jadi proyek strategis perusahaan, yang akan memiliki kapasitas memproduksi 27.000 ton nikel/tahun dalam ferronickel. Groundbreaking proyek ini sudah sejak 30 November 2011.

Biaya tunai produksi feronikel diperkirakan US$ 8.800/ton, dan harga jual di sekitar US$ 17.000/ton. Biaya tunai dapat dikurangi dengan cara menggunakan cadangan Antam sendiri serta penggunaan tenaga listrik berbahan bakar batubara. Perhitungan laba kotor per tahun dari proyek ini adalah sekitar US$ 221,4 juta per tahun. Periode pengembalian proyek ini adalah lebih dari 7,2 tahun tergantung kepada biaya operasional.

Saat ini Antam memiliki tiga pabrik feronikel yakni pabrik FeNi I, FeNi II dan FeNi III. Kapasitas terpasang ketiga pabrik tersebut adalah 26.000 TNi dengan mengasumsikan beban puncak 42MW serta menggunakan umpan bijih nikel dengan kadar 2,38%. Meski demikian, untuk konservasi cadangan, Antam umumnya menggunakan umpan bijih dengan kadar rata-rata 1,8%-2,0% dan beban pabrik sekitar 38-40MW, sehingga total produksi ketiga pabrik feronikel berada di kisaran level 18.000-20.000 TNi.

AFN melihat bahwa ketiga skenario ini cukup feasible dengan kelemahannya masing-masing. Opsi pertama, ECA, mungkin merupakan yang paling feasible karena negara-negara di Eropa memang sedang mencari peluang investasi di tengah kesulitan finansialnya sendiri. Dengan ekspektasi imbal hasil yang relatif tinggi bagi mereka, ECA akan memiliki kepentingan untuk masuk ke proyek ini. Apalagi ada tendensi bahwa negara-negara Skandinavia mulai mengincar Indonesia untuk menempatkan dananya.

Akan tetapi ECA memiliki kelemahan karena kredit yang diberikan biasanya bersifat jangka pendek, dan harus mendapatkan garansi dari pemerintah negara debitur, dalam hal ini Indonesia. Kredit jangka pendek untuk pabrik yang breakevennya panjang akan membuat proposal ini ditolak.

Opsi kedua, adalah yang paling feasible mengingat bahwa Antam masih memiliki ruang untuk pendanaan dari utang. Tetapi apabila seluruhnya merupakan utang, maka tingkat leverage Antam akan langsung naik dan risiko pemegang saham bisa meroket.

Sementara opsi ketiga, untied program, mungkin akan sulit mengingat harga nikel yang masih mungkin jatuh lagi.



AFN memperkirakan kajian pendanaan untuk feronikel ini akan cukup memakan waktu lama, baik dari skenario pendanaan yang manapun juga karena harga nikel.Harga nikel diperkirakan akan naik tipis di rata-rata US$ 18.000- 21.000/ton- pada 2014, yang mencerminkan permintaan dan pasokan dunia terutama karena ekspektasi kenaikan permintaan dari Cina. Akan tetapi kenaikan harga ini diperkirakan belum akan membawa break even yang cepat kepada pabrik baru.

Namun harga batubara yang tetap tertekan karena tingginya pasokan, serta ekspektasi banyaknya pabrikan ferronikel di dunia yang tutup karena kerugian, akan membuat permintaan tetap tinggi, dan pada akhirnya memperbaiki harga ferronikel.


Sierad Produce Ekspansi ke Indonesia Timur

Sierad Produce, Tbk (SIPD), emiten pakan ternak, berencana ekspansi ke Indonesia Timur dengan membangun pabrik pakan ternak di Sulawesi pada 2014. Ekspansi ini bertujuan unutk meningkatkan pangsa pasar perusahaan di luar Pulau Jawa. Investasi yang dibutuhkan adalah Rp 30 miliar dengan kapasitas terbangun 20 ton per jam.

Di pulau Jawa, perusahaan juga tetap melakukan ekspansi. Tahun ini, dana yang dianggarkan adalah Rp 350 miliar untuk pembangunan 9 peternakan, 1 rumah petelur, serta mesin pengolahan makanan di Banten dan Jawa Barat.

Tahun 2012, perusahaan mencatat produksi pakan ternak sebesar 500.000 ton, sementara produksi Belfoods (makanan olahan) sebesar 600 ton per bulan.

Ke depannya, perusahaan mentargetkan produksi Belfoods akan sebesar 2.000 ton/ bulan. Ekspansi besar ini karena melihat bahwa konsumsi daging di Indonesia masih sangat rendah  yaitu 10 kg per kapita per tahun dibandingkan 30 kg/kapita/tahun di negara-negara tetangga.

Tahun 2013, target SIPD adalah tumbuh 27% menjadi Rp 5,5 triliun. Di kuartal I-2013, pendapatan perusahaan sudah mencapai Rp 1,11 triliun atau 20% dari target. 


AFN melihat bahwa langkah SIPD untuk ekspansi ke Indonesia Timur ini sangat baik melihat kompetitornya yang sudah lebih dulu ada di sana untuk mengambil peluang tersebut. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk (JPFA) misalnya sudah masuk ke Makasar, Pare-pare, dan Banjarmasin. Malindo Feedmill, Tbk (MAIN) sudah punya breeder di Pontianak dan Banjarmasin. Demikian pula dengan Charoen Pokphand Indonesia, Tbk (CPIN) yang sudah punya pabrik pakan ternak di Makasar.
Komparasi Kinerja Emiten Pakan Ternak Kuartal I-2013

Langkah ini makin baik lagi mengingat SIPD memiliki arus kas operasi yang besar, yaitu Rp 123,37 miliar pada triwulan I saja. Ekspansi  sebesar Rp 350 miliar pada tahun ini dapat dibiayai oleh arus kas operasional tersebut.

Akan tetapi SIPD masih dapat  memperbaiki kinerja profitabilitas yang masih terendah dibandingkan kompetitornya. Ini menyebabkan ROE-nya hanya 1,1%, sementara kompetitornya dapat memberikan 16-32% kepada pemegang sahamnya. Hal ini membuat PER SIPD sangat tinggi sementara PBVnya masih sangat rendah.

Pergerakan saham SIPD


Jakarta, 18 Juli 2013

Tuesday, July 16, 2013

Ace Hardware Buka Gerai Baru


Di dalam keterbukaannya kepada bursa hari ini, Ace Hardware Indonesia, Tbk (ACES) mengumumkan pembukaan gerai ke-83 di kota Bandung. ACES mentargetkan pada tahun ini akan membuka sekitar 15 gerai di seluruh Indonesia. Dengan demikian maka pada tahun ini ACES telah membuka 7 gerai baru setelah Summarecon Mall, Bekasi dan Jambi.


Gerai yang baru ini berlokasi di Bandung dan merupakan gerai kelima di kota Bandung. Luas gerai terbaru ini adalah 1.400m2.

Di dalam public expose terdahulu, perusahaan telah menyatakan akan membuka minimum 15 gerai baru dengan luas tambahan 30.000 m2. Sementara anak perusahaan, Toys Kingdom, akan membuka 5 gerai baru dengan luas tambahan 5.000 m2. Di tahun 2012, ACES telah membuka 23 gerai baru dengan tambahan 52.000 m2, dan Toys Kingdom 6 gerai baru dengan luas tambahan 5.000m2.

Pencapaian Same Store Growth (SSG) yang merupakan cerminan dari berupa pertumbuhan gerai-gerai tanpa memperhitungkan gerai-gerai baru adalah 11% di 2012.


Perusahaan yang memiliki kegiatan usaha penjualan ritel barang-barang kebutuhan rumah tangga dan lifestyle ini pada kuartal I/2013 membukukan kenaikan pendapatan 23,73% dari Rp709,5 miliar menjadi Rp877,88 miliar.

Namun, laba bersih perseroan pada tiga bulan pertama tahun ini menyusut 2,82% menjadi Rp 90,18 miliar dari periode yang sama tahun lalu Rp 92,8 miliar. Turunnya laba perseroan akibat meningkatnya beban pokok dari Rp372,42 miliar menjadi Rp460,53 miliar.

AFN melihat pertumbuhan ACES ini masih didukung oleh trend lifestyle konsumen di Indonesia serta kehati-hatian perusahaan di dalam pembukaan cabang-cabang baru. Selain itu, dukungan product support serta supply yang cukup dari induk perusahaan merupakan salah satu yang membuat perusahaan ini akan tetap solid pada jangka panjang.

Exploitasi Energi Cari Pendanaan Rp 1,8 T

Exploitasi Energi Indonesia, Tbk (CNKO), perusahaan yang bergerak bidang pertambangan, pengolahan dan perdagangan batubara di Kalimantan Selatan, mencari pendanaan  sebesar Rp 1,8 triliun. Rencananya pendanaan tersebut akan berupa utang untuk proyek pembangunan pembangkit tenaga listrik. Jumlah tersebut setara dengan 70% investasi yang mencapai Rp 2,5 triliun atau US$ 260 juta.

 Pembangkit listrik tersebut berlokasi di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah dan direncanakan akan dimulai pembangunannya pada pertengahan 2014. Dengan kapasitas 2x65 MW, listrik ini akan dijual kepada Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Perusahaan juga berencana mengoperasikan PLTU Rengat (2x7MW) dan PLTU Tembilahan (2x7MW) di Riau, pada kuartal 3 tahun 2014. Selain itu perusahaan juga tengah mengembangkan tambang batubara di konsesi miliknya yang terletak di Kalimantan seluas 400 ha. Rencananya, tambang itu akan berproduksi 48 juta ton.

AFN melihat bahwa keputusan mencari pendanaan eksternal bersifat utang bagi CNKO adalah cukup aman karena:
1. Tingkat leverage CNKO masih di bawah rata-rata. Rasio total liabilitas terhadap ekuitas CNKO masih di bawah 1, sementara rasio lancar masih 2,8x.

2. CNKO memiliki business model yang menarik, dimana perusahaan tidak hanya menambang batubara dan mencari pembeli di luar dan dalam negeri. CNKO menciptakan pasar batubara bagi dirinya sendiri dengan membangun pembangkit listrik yang akan menyerap produksi batubaranya. Dengan pertimbangan bahwa konsumsi energi di Indonesia masih sangat rendah, dan sebagian besar listrik akan dibangkitkan dengan batubara, maka model ini diperkirakan akan berlangsung efektif dalam jangka panjang.

Akan tetapi AFN ingin memberikan rambu-rambu bahwa CNKO merupakan perusahaan yang masih dalam tahap eksploitasi awal batubara dan juga dalam tahap pengembangan pembangkit listrik. Masih akan banyak catatan kerugian dan kebutuhan pendanaan yang masif dalam jangka pendek dan menengah.
Pergerakan harga saham CNKO




Monday, July 15, 2013

Wijaya Karya Tetap Memimpin BUMN Infrastruktur

Wijaya Karya, Tbk (WIKA)  masih tetap memimpin di antara BUMN infrastruktur yang sahamnya telah dimiliki publik, baik dari segi pertumbuhan maupun kinerja keuangan. Sampai dengan semester I-2013, PTPP dan WIKA telah mengantongi kontrak baru Rp 9,5T dan Rp 9T, sementara Adhi Karya, Tbk (ADHI) dan Waskita Karya, Tbk (WSKT) masing-masing sebesar Rp 4,5T dan Rp 4,7T.

PT PP telah mentargetkan angka Rp 19,7T untuk kontrak baru tahun ini yang berarti sudah tercapai 48%. Beberapa proyek besar yang telah diraih antara lain proyek Pelabuhan Krakatau Bandar Samudra-Cilegon, Jalan Tol Cikampek-Palimanan, Tunjungan Plaza V Surabaya, Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta Cengkareng, rel kereta api di daerah Sumatra Selatan, serta proyek EPC PLTGU Tanjung Uncang 120 MW. Dari luar negeri PTPP telah mendapatkan kontrak baru untuk Gleno Road di Tibar Timor Leste sebesar Rp264 miliar.

Pada semester I, WIKA memperoleh beberapa kontrak cukup besar berupa EPC pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) 200MW di Aceh dan proyek perluasan gedung terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. WIKA optimis sampai akhir tahun 2013, target kontrak baru sebesar Rp 20,76 T akan tercapai.

Sementara kontrak baru ADHI berasal dari tambahan pembangunan aprol terminal Soekarno Hatta senilai Rp473 miliar dan pembangunan pabrik CPO di Sumatra Utara sebesar Rp116 miliar. ADHI menargetkan kontrak baru sebesar Rp14,4 triliun pada 2013.

Pemain terbaru BUMN Infrastruktur, Waskita Karya, telah mentargetkan kontrak baru tahun 2013 mencapai Rp 17T. Artinya WSKT sampai tengah tahun baru dapat memperoleh kurang dari 30% target tersebut.

Baik dari sisi omset, aset, hasil usaha, WIKA masih menjadi pemimpin di antara saham-saham BUMN infrastruktur. Beberapa point positif yang didapatkan oleh WIKA adalah sebagai berikut:
Komparasi Kinerja BUMN Infrastruktur 1Q 2013 - kecuali perolehan kontrak baru
1. Aset WIKA terbesar dan paling produktif. Aset WIKA pada akhir Maret 2013 tercatat Rp 11,4T, sementara PTPP, ADHI dan WSKT tercatat Rp 9,3T, Rp 5,92T dan Rp 6,94T. Perputaran aset WIKA yang mencerminkan produktivitas asetnya sama dengan ADHI, yaitu 0,92x dan lebih tinggi daripada WSKT dan PTPP.

2. WIKA mampu membukukan kinerja profitabilitas yang lebih tinggi dari kedua peersnya, tercermin dari marjin serta ROE.

3. Kemampuan WIKA untuk membayar bunga jauh lebih tinggi daripada peersnya, walaupun rasio utang terhadap ekuitasnya lebih tinggi dibandingkan WSKT yang baru saja IPO.

4. Rata-rata hari piutang dan utang usaha WIKA adalah yang paling cepat, menunjukkan manajemen arus kas yang baik dibandingkan peersnya.

Terlepas dari rata-rata industrinya yang memang mahal, PER dan PBV WIKA sudah menunjukkan angka lebih tinggi daripada rata-rata IHSG, yaitu 20,50x dan 4,19x. Karenanya investor sebaiknya sedikit menahan diri dalam mengumpulkan saham-saham BUMN infrastruktur ini. Walaupun demikian, WIKA tetap mendapat rekomendasi BUY untuk jangka panjang.

Pergerakan saham BUMN Infrastrutur Positif