Thursday, August 14, 2014

Hotel Mandarine Catatkan Penurunan Pendapatan, Investasi Belum Memberi Hasil Nyata

Jakarta, 15 Agustus 2014 – PT

Hotel Mandarine Regency, Tbk (HOME), kembali mencatatkan penurunan pendapatan dan laba bersih pada semester pertama ini, setelah tahun 2013 berhasil meningkatkan pendapatan dan mencatat laba bersih. Pemilik Goodway Hotel ini menghasilkan pendapatan terbesarnya dari klub keanggotaan GVC yang mencapai 40% dari total pendapatan. Sementara itu arus kas investasi terus negatif dan belum memberikan pengembalian yang diharapkan.

GVC atau Goodway Vacation Club adalah sebuah sistem di mana pemilik kartu membayar di depan untuk mendapatkan sejumlah poin yang kemudian dapat ditukarkan dalam bentuk menginap gratis di berbagai hotel yang termasuk di dalam jaringan GVC.

Pendapatan dari klub keanggotaan GVC ini mencapai Rp 10,10 miliar atau naik 61% dibandingkan tahun sebelumnya. Kontribusi pendapatan ini mencapai 40% dari total pendapatan pada tahun 2014, dibandingkan sekitar hanya 23% di tahun 2013.

Hotel Mandarine memiliki rencana strategis untuk memperluas jangkauan area kerja GVC di Indonesia untuk meningkatkan pendapatan perseroan. Walaupun demikian, ASCEND melihat bahwa kelanggengan usaha GVC ini perlu dipertimbangkan dengan hati-hati karena dua faktor. Pertama, trend pembelian di depan untuk produk-produk penginapan masih belum besar di Indonesia, serta harus melalui suatu proses edukasi di masyarakat dulu. Kedua, banyaknya keluhan di media sosial mengenai sistem administrasi dan pemasaran produk GVC ini dapat memberikan tekanan besar terhadap penjualan produk ini di masa mendatang apabila tidak segera dikelola dengan baik.

Sementara itu, Goodway Hotel dan hotel-hotel lainnya yang dimiliki Hotel Mandarine kurang memiliki awareness di kalangan para travellers. Hal ini telah menekan pendapatan dari kamar serta makanan dan minuman  menjadi hanya Rp 14,79 miliar atau turun 22% dari Rp 18,98 miliar. Kontribusinya kini hanya 57% dari total pendapatan semester ini.

Perusahaan ini terus menerus membutuhkan investasi. Hal ini tampak dari arus kas keluar untuk investasi yang cukup besar selama 4 tahun berturut-turut. Walaupun rasio utang jangka panjang terhadap ekuitasnya masih cukup rendah karena sempat ada penawaran umum terbatas di akhir 2012, akan tetapi kenyataan bahwa arus kas bersih negatif terjadi setiap 2 tahun sekali memberikan gambaran bahwa investasi yang digulirkan tidak memiliki produktivitas pengembalian investasi sebagaimana diharapkan. 

Wednesday, August 13, 2014

Siloam Loncat ke Rp 15.000, Harga yang Terlalu Tinggi menurut ASCEND

Jakarta, 14 Agustus 2014 – PT Siloam International Hospitals, Tbk (SILO) meloncat 7,14% atau Rp 1.000 ke Rp 15.000 pada pembukaan pasar. Kenaikan ini merupakan kelanjutan dari kenaikan sebelumnya setelah sempat tertekan sampai ke Rp 14.000 dalam 1 hari kemarin. Harga itu terlalu tinggi, menurut analisis ASCEND. Harga wajarnya hanya di sekitar Rp 2.900.

Kemarin (13/8) harga saham Siloam bergerak anomali dengan likuiditas rendah. Dibuka pada harga Rp 15.050, dan ditutup di harga Rp 14.000 atau turun 7%. Hari ini (14/8) SILO dibuka langsung loncat ke Rp 15.000 untuk menutup pergerakan anomali kemarin dan melanjutkan penguatannya sejak awal tahun dari Rp 9.500.

Di semester pertama ini, Siloam mencatatkan pertumbuhan pendapatan 31% menjadi Rp 1,57 triliun dengan pertumbuhan laba bersih 156% menjadi Rp 44,56 miliar. Laba bersih ini mencerminkan laba bersih persaham Rp 38,54/ saham atau rasio harga per laba bersih (PER) sebesar 194,6 kali.

Dengan rasio per nilai buku (PBV) lebih dari 10 kali, harga Siloam ini termasuk sangat tinggi. Harganya yang wajar adalah di sekitar  Rp 2.900 yang mencerminkan PER 37 kali atau PBV 2 kali. Rasio PBV 2 kali cukup baik bila dibandingkan dengan kompetitornya di bidang perumahsakitan, PT Sejahteraraya Anugrahjaya, Tbk (SRAJ) yang mencatatkan PBV 1,6 kali namun mengalami kerugian.

Sebelumnya Siloam menyatakan akan mengejar pembangunan tiga rumah sakit di sisa tahun ini. Setelah beberapa waktu tertunda, Siloam memastikan akan membuka tiga rumah sakit baru di Medan, Kupang, dan Yogyakarta pada kuartal IV-2014 mendatang.

Sekretaris Perusahaan SILO, Budi Suharto mengatakan, sebenarnya ketiga rumah sakit itu
direncanakan dibuka pada kuartal II lalu, namun pembangunannya mesti mundur. "Tetapi
sekarang sudah hampir selesai dan dipastikan bisa beroperasi pada akhir tahun," jelasnya.


Sementara itu Siloam juga sedang membidik pertumbuhan lewat jalur anorganik, yaitu akuisisi rumah sakit lain. Hal ini dimungkinkan melihat kas Siloam yang cukup tinggi dan rasio solvabilitas yang masih rendah.

Saham PT Siloam International Hospitals, Tbk (SILO

Modern Internasional Tumbuh Didorong 7-Eleven

Jakarta, 13 Agustus 2014 – PT Modern Internasional, Tbk (MDRN) mencatatkan kenaikan pendapatan 17%, namun penurunan laba bersih 12%. Kenaikan pendapatan didorong oleh Gerai waralaba 7-Eleven.

Pendapatan dari gerai waralaba 7-Eleven (Sevel), yang dikelola oleh PT Modern Putra Indonesia, anak usaha Modern Internasional,  tercatat Rp 778,18 miliar selama 6 bulan pada 2014atau naik 53,3% dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Gerai Sevel menyumbang 61% dari total pendapatan Modern Internasional dengan jumlah gerai sekitar 160 buah. Pada periode yang sama tahun 2013, kontribusi Sevel hanya 50%.

Kinerja profitabilitas Modern Internasional juga terlihat membaik. Marjin laba kotor dari sebelumnya di bawah 40% kini 40,3% dengan imbal hasil atas ekuitas (ROE) 6%. Pasar juga cukup mengapresiasi kinerja emiten ini dengan memberikan rasio harga terhadap laba (PER) sebesar 43 kali dan rasio harga terhadap nilai buku (PBV) sebesar 2,56 kali.

Namun Modern harus lebih waspada terhadap pengelolaan arus kasnya. Dengan arus kas investasi yang besar, Modern harus mengelola supaya arus kas operasionalnya pun dapat mengejar. 



Sebelumnya Pengelola gerai 7-Eleven telah menyatakan tak berniat lakukan ekspansi ke kota-kota di luar Jakarta. PT Modern Sevel Indonesia sampai akhir tahun ini hanya ingin menambah gerai baru di wilayah Jakarta. Selain itu Sevel menjajaki  penjualan tiket maskapai-maskapai penerbangan di Indonesia. Hal ini sebagai upaya menambah jumlah mitra penjual (merchant) untuk meningkatkan penjualan services.

Strategi Modern Internasional lainnya di awal tahun untuk mempertahankan bisnisnya secara jangka panjang adalah:
  1. Mengembangkan format gerai baru untuk gerai yang telah beroperasi, dengan cara mengimplementasikan program-program baru dari makanan dan minuman segar.
  2. Memperkenalkan layanan-layanan yang bisa menambah kenyamanan konsumen, termasuk layanan digital kios, seperti pembelian tiket konser, pembayaran kartu telepon, tiket kereta api listrik dan pesawat serta pembayaran lainnya. Kemudian juga membuka layanan kerjasama dengan GOJEK, untuk melayani sistem delivery order. Ini juga jadi kesatuan dengan layanan CSR perseroan untuk memberdayakan tukang ojek. Kemudian layanan pemesanan taksi yang sudah dikerjasamakan dengan Blue Bird.
  3. Ekspansi dengan membuka gerai baru dengan format gerai lebih kecil yang membidik areal baru, termasuk di lokasi stasiun kereta api, apartemen dan mall atau pusat perbelanjaan.
  4. Melakukan kerjasama dengan JV dengan Warabeya Nichiko Co Ltd Japan dalam pengembangan keahlian untuk mengembangkan menu makanan segar, penambahan variasi, peningkatan kualitas dan memperbaiki kemasan.
  5. Fokus membangun fasilitas infrastruktur gudang dan pabrik makanan yang menunjang keberadaan dan pengembangan gerai 7-Eleven.
  6. Mengembangkan training center dan fasilitas lainnya yang mendukung rekrut karyawan serta dan pelatihan karyawan secara berkala.
  7. Melakukan pemasaran yang intensif melalui berbagai kegiatan promosi untuk meningkatkan jumlah gerai 7-Eleven di Indonesia.

Tuesday, August 12, 2014

Indeks Pertambangan Menguat Signifikan didorong Penguatan Harga Metal

Jakarta, 13 Agustus 2014 – Indeks Pertambangan menguat signifikan sejak akhir Juli sampai 8%  ke level 1.560. Penguatan harga metal dan mineral khususnya telah menjadi faktor utama penguatan ini. Beberapa emiten khususnya berkapitalisasi besar serta beberapa emiten tambang mineral kecil menunjukkan kenaikan harga yang signifikan.

Emas ditransaksikan menguat seiring dengan investor mencari aset yang aman di tengah ketegangan geopolitik di Ukraina, Irak, dan Gaza.

Sementara itu investor melihat bahwa kebijakan pelarangan ekspor mineral mentah sebaiknya diteruskan paska transisi pemerintah baru. Diteruskannya kebijakan ini dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap pemerintah, karena dana investasi telah digulirkan dan sumber daya telah diarahkan untuk membangun smelter.

R. Sukhyar, kepala direktorat jenderal batubara dan mineral, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, menegaskan kepada Bloomberg bahwa kedua pemerintahan – Presiden Yudhoyono dan presiden terpilih Joko Widodo – memiliki pandangan yang sama mengenai ekspor barang mentah. Karena itu kemungkinannya sangat besar bahwa kebijakan tersebut akan tetap dipertahankan.

Larangan ekspor ini telah menurunkan pasokan nikel Indonesia ke dunia tahun 2015 dari 29% ke hanya 8,9%. Kekurangan pasokan ini telah meningkatkan harga nikel ke titik tertinggi sejak 2012. Sejak awal tahun, harga nikel telah naik 56% menjadi US$ 21.625/metrik ton

PT Adaro Energy, Tbk (ADRO), PT Vale Indonesia, Tbk (INCO), PT Tambang Batubara Bukit Asam, Tbk (PTBA), PT Aneka Tambang, Tbk (ANTM) dan PT SMR Utama, Tbk (SMRU) mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan.


Harga saham PT SMR Utama, Tbk (SMRU)
Harga SMR Utama bahkan naik lebih dari dua kali lipat, padahal emiten tersebut masih mencatatkan kerugian masif karena berhentinya operasi tambang akibat harga yang masih terlalu rendah. 

Monday, August 11, 2014

Pendapatan Iklan Naik Terdorong Pemilu, Potensi Iklan Internet Tinggi



Jakarta, 12 Agustus 2014 – Pemilihan legislatif dan pemilihan presiden telah mendongkrak kinerja dan pendapatan iklan emiten-emiten terkait dengan industri iklan nasional. Padahal biaya iklan di sebagian besar perusahaan-perusahaan barang-barang konsumen (consumer goods) turun dibandingkan periode sebelumnya. Analisis Ascend juga menunjukkan bahwa iklan di internet memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi.

Kelima emiten terkait dengan iklan menunjukkan pertumbuhan di semester I- 2014. Pertumbuhan tertinggi diperoleh PT Visi Media Asia, Tbk (VIVA) dengan tingkat kenaikan 46,7% menjadi lebih dari Rp 1 triliun. Kenaikan ini didorong oleh kenaikan pendapatan dari iklan. Laba bersihnya juga berlipat ganda.

Pertumbuhan VIVA selama 2 tahun berturut-turut, yaitu 46,7% pada tahun ini dan 32,22% pada tahun sebelumnya, menunjukkan bahwa iklan di internet memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi.
Saham PT Surya Citra Media, Tbk (SCMA)

Kenaikan tinggi juga dialami oleh emiten yang memiliki ijin pertelevisian, yaitu PT Surya Citra Media, Tbk (SCMA) dan PT Elang Mahkota Teknologi, Tbk (EMTK) sebesar masing-masing 19,2% dan 18,3%.

Sementara itu emiten-emiten yang menyediakan jasa konsultasi desain dan penempatan seperti PT Mahaka Media, Tbk (ABBA) dan PT Fortune Indonesia, Tbk (FORU) mengalami penurunan laba bersih cukup signifikan walaupun pendapatan mereka meningkat.

Mahaka Media masih melaporkan laba bersih walaupun turun 81,9% karena kenaikan beban umum dan administrasi dan beban bunga. Beban umum dan administrasi yang naik paling besar adalah beban gaji dan tunjangan karyawan, transportasi dan telekomunikasi, serta honorarium tenaga ahli.

Saham PT Fortune Indonesia, Tbk (FORU)
Fortune Indonesia walaupun melaporkan kenaikan pendapatan lebih tinggi daripada Mahaka Media, tetapi sudah mencatatkan kerugian Rp 3,53 miliar. Kerugian tersebut terutama disebabkan oleh kenaikan beban bunga dan rugi selisih kurs.

Kenaikan pendapatan ini disebabkan oleh kenaikan iklan politik dalam masa persiapan pemilihan legislatif dan pemilihan presiden, karena beberapa emiten besar mencatatkan biaya iklan yang turun. PT Bentoel Internasional Investama, Tbk (RMBA), penghasil rokok, misalnya, mencatatkan beban iklan yang turun 17% menjadi hanya Rp 607,34 miliar. PT Mayora Indah, Tbk (MYOR), manufaktur makanan dan minuman, menurunkan biaya iklannya sampai 22% menjadi hanya Rp 436,52 miliar.


Dugaan ini juga dibenarkan Sigi Kaca Pariwara, perusahaan pengolahan data pengelola situs Adstensity.com, yang menyebutkan bahwa untuk pemilihan presiden saja, kedua calon menghabiskan sekitar Rp 186 miliar untuk iklan kampanye. Sementara iklan kampanye pemilihan legislatif lalu mencapai Rp 340 miliar. Jumlah ini hanya memperhitungkan 13 stasiun TV nasional, belum termasuk iklan di dunia maya.