Wednesday, February 19, 2014

Bank BNI Outperform pada 2013, Namun Tidak pada 2014?

Jakarta, 19 Februari 2014 - Dalam pernyataannya di depan analis, Gatot Suwondo, Direktur Utama Bank BNI, tampaknya pesimis melihat kinerja Bank BNI dan industri perbankan secara keseluruhan dengan hanya menargetkan laba bersih Bank BNI pada kisaran 2 digit. Padahal tahun 2013, Bank BNI membukukan kenaikan laba hingga 28,57% dan pertumbuhan kredit hingga 24,85% atau lebih tinggi daripada rata-rata industri.

Gatot juga mengemukakan bahwa Bank BNI selama tahun 2014 akan menjaga perolehan marjin bunga bersih di atas 6% dengan fokus pada peningkatan perolehan CASA dan saat ini posisi marjin bunga bersih BNI pada level 6,11% yang menunjukkan kenaikan dibanding tahun 2012 di tengah pembatasan kredit perbankan.

Untuk meningkatkan CASA, Bank BNI akan mengadakan produk repoint sebagai pengganti hadiah lewat undian untuk meningkatkan CASA.

Target laba bersih Bank BNI ditetapkan pada kisaran 2 digit pada 2014 dengan pertumbuhan kredit yang lebih rendah daripada tahun 2013 atau bahkan sedikit lebih rendah dari rata-rata industri. Tahun 2014 ini diprakirakan pertumbuan kredit rata-rata industri perbankan sebesar 15% hingga 17%.
Selain itu, Gatot juga mengemukakan, bahwa terkait ketatnya likuiditas, Bank BNI akan melakukan kerjasama dengan bank di luar negeri dengan memanfaatkan lima cabangnya yang ada di luar negeri jika diperlukan untuk memperoleh dana yang lebih murah.
2013, Bank BNI Outperform

Bank BNI membukukan kinerja outperform dengan kenaikan laba hingga 28,50% selama tahun 2013 menjadi Rp 9,05 triliun dibandingkan dengan tahun 2012 lalu sebesar 2012 sebesar Rp 7,05 triliun dengan didorong oleh kenaikan pendapatan bunga bersih hingga 23,28% dan kenaikan pendapatan operasional dan jasa perbankan yang naik hingga 18,05%.

Tercatat pendapatan bunga bersih Bank BNI naik menjadi Rp 19,06 triliun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 15,46 triliun dengan didorong oleh kenaikan kredit.
Kredit dan pembiayaan syariah meskipun pada industri perbankan diprakirakan akan turun seiring kebijakan BI, namun Bank BNI justru membukukan pertumbuhan hingga  24,85% menjadi Rp 250,45 triliun dibandingkan dengan tahun 2012 sebelumnya yang mencapai Rp 200,62 triliun. Pertumbuhan kredit  Bank BNI bahkan masih dominan di antara pertumbuhan portofolio aset Bank BNI lainnya.

Kredit Bank BNI masih didominasi oleh kredit korporasi yang mencapai 44,8% atau senilai Rp 112,23 triliun atau tumbuh 55,4% dibandingkan tahun 2012 yang hanya sebesar Rp 72,224 triliun. Sementara itu, kredit mikro hanya sebesar 15,3% atau sebesar 38,41 triliun atau tumbuh 10,1% dibandingkan dengan tahun 2012.

Pendapatan operasional perbankan, sebagai penyumbang laba Bank BNI, tercatat selama 2013 naik menjadi sebesar Rp 9,78 triliun dibandingkan tahun 2012 lalu sebesar Rp 8,29 triliun dengan didorong oleh keuntungan transaksi spot derivatif dan komisi transaksi keuangan  yang masing-masing sebesar Rp 1,19 triliun dan Rp 3,51 triliun.

Sementara itu, dari sisi beban operasional Bank BNI tercatat hanya naik 16,67% menjadi sebesar Rp 17,62 triliun dan dengan kenaikan yang lebih rendah dari pertumbuhan pendapatan sehingga mendorong laba bersih naik lebih tinggi.

Kualitas kredit 2013 membaik
Dalam artikel sebelumnya pada semester pertama 2013, meskipun kredit tumbuh tetapi saat itu kualitas kredit menurun dengan ditunjukkan oleh kenaikan NPL. (http://fundamental-saham.blogspot.com/2013/07/laba-bersih-tumbuh-302-namun-kredit.html). Namun, pada periode 2013 ini kredit bermasalah Bank BNI menunjukkan penurunan.

Tercatat kredit bermasalah sebesar Rp 5,20 triliun atau turun 5,22% dibandingkan dengan tahun 2012 lalu sebesar Rp 5,48 triliun hanya untuk bank saja tanpa memperhitungkan pembiayaan lain.
Hampir semua segmen kredit (korporasi, kosumer dan bisnis medium) membukukan penurunan non performing loan (NPL), tetapi untuk segmen UMKM justru tercatat naik menjadi 5,32% dibanding sebelumnya 5,30%.

Selama tahun 2013, kredit bermasalah bertambah hingga Rp 2,84 triliun dengan kredit yang dihapus buku sebesar Rp 3,13 triliun. Baik penambahan kredit bermasalah baru maupun yang dihapus buku relatif lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang masing-masing sebesar Rp 2,95 triliun dan RP 3,17 triliun.

Sementara itu, dari sisi rasio pengembalian kredit bermasalah atau coverage ratio menunjukkan kenaikan menjadi 128,5% dibandingkan dengan tahun 2012 lalu sebesar 123%.

Rasio kinerja 2013 membaik
Tercatat NIM Bank BNI masih menunjukkan pertumbuhan atau naik menjadi 6,11% dibandingkan dengan tahun 2012 sebesar 5,93% hal ini seiring dengan pertumbuhan kredit dan pertumbuan pendapatan bunga bersih.

Kenaikan NIM ini tidak lepas dari beban biaya bunga (cost of fund) yang hanya naik 2,03% selama 2013 dibandingkan dengan 2012 lalu dengan didorong bertambahnya perolehan dana murah oleh Bank BNI sehingga dapat menekan cost of fund. Hal tersebut ditunjukkan pada rasio CASA (current account saving account) sebesar 67,05% atau naik dari sebelumnya 66,00%.

Tercatat dari dana pihak ketiga yang dihimpin Bank BNI, giro naik 20% menjadi Rp 88,13 triliun sementara tabungan naik 11,19% menjadi Rp 107,51 triliun, disisi lain deposito hanya tumbuh 8,05% menjadi Rp 86,99 triliun.

Imbal hasil atas ekuitas (ROE) naik menjadi 22,47% dibanding tahun 2012 lalu sebesar 19,99% dengan biaya operasional dibanding pendapatan operasional (BOPO) turun menjadi 67,09% dari tahun 2012 lalu sebesar 70,09%.

Namun, CAR Bank BNI tercatat turun menjadi 15,09% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 16,67%. Kenaikan CAR ini naik seiring dengan pertumbuhan kredit  yang lebih tinggi dari pertumbuhan modal Bank BNI sendiri.

Dengan penurunan CAR tersebut, rencananya pada tahun depan, Bank BNI akan melakukan right issue untuk memperkuat permodalan.

Dari sisi harga saham, saat ini price earnings ratio (PER) Bank BNI pada kisaran 8,13 kali bahkan lebih rendah daripada industri perbankan dan dengan price to book value sebesar 1,60 kali, juga lebih rendah diantara bank-bank besar. Ini mengindikasikan bahwa potensi untuk tumbuh masih ada.

Bagaimana Bank BNI kedepan?
AFN melihat kinerja Bank BNI secara fundamental meskipun outperform, namun pertumbuhannya masih di bawah bank-bank besar lainnya sehingga masih sulit untuk bersaing tiga bank lainnya yang membukukan aset jauh di atas Bank BNI yaitu, Bank Mandiri, Bank BRI dan Bank BCA.

Jika ketiga bank terbesar lainnya mempunyai pasar khusus misalnya, Bank BRI yang fokus pada kredit mikro yang menawarkan marjin tinggi, Bank Mandiri yang merupakan  bank investasi dan juga sebagian membiayai proyek-proyek pemerintah dan Bank BCA yang dikenal sebagai bank transaksional dengan jaringan yang luas. Sementara Bank BNI belum memiliki fokus bisnis dan masih terlalu terdiversifikasi bahkan  cenderung bertarung pada pangsa pasar yang sama seperti Mandiri dan BCA.

Jika digambarkan dengan matrik Pareto, di mana grafik sebelah kiri, menunjukkan beberapa Bank yang memiliki jumlah dana pihak ketiga yang kemudian disalurkan untuk kredit atau pembiayaan lain yang lebih kecil namun beberapa Bank memiliki tingkat pengembalian atau return on equity yang tinggi, semakin berada pada grafik kiri bagian atas semakin efisien kinerja bank tersebut atau memiliki profitabilitas tinggi.

Di sisi lain dengan jumlah nasabah yang besar akan linier dengan return on equity yang tinggi maka menunjukkan bank tersebut berkinerja efisien, yaitu dapat menekan biaya rendah sehingga profitabilitasnya tinggi.

Jika dilihat dari perbandingan pada bank-bank besar yang terdaftar di Bursa tersebut, Bank BNI berada pada matrik di tengah-tengah. Ini menunjukkan bahwa Bank BNI tidak berada pada positioning yang tepat dalam hal market share.

Berbeda dengan Bank BNI, nasabahnya masih di bawah Bank BCA dan Bank Mandiri begitu pula dengan retun on equity-nya juga masih di bawah ketiga bank tersebut. Kesimpulannya ketiga bank terbesar lainnya masih berkinerja lebih baik dari pada Bank BNI.



Monday, February 17, 2014

Laba Matahari Meloncat, Harga Saham Terangkat



Jakarta, 18 Februari 2014 – Harga saham PT Matahari Department Store, Tbk (LPPF) naik tinggi menjadi Rp 15.000 setelah mencatatkan kenaikan laba bersih 49,2% ke Rp 1,15 triliun.

Kenaikan laba bersih 49,2% ini didorong oleh kenaikan pendapatan sebesar 20%, penurunan beban keuangan menjadi hanya Rp 309,17 miliar dari sebelumnya Rp 451,51 miliar, serta penurunan beban pajak menjadi hanya Rp 373,46 miliar walaupun laba sebelum pajak penghasilannya naik.

Pertumbuhan pendapatan terutama ditopang oleh penjualan eceran yang naik 27% dari tahun lalu dan berkontribusi 60% terhadap total pendapatan. Tingginya permintaan dari kelas menengah yang menjadi target pasar Matahari adalah alasan di belakang pertumbuhan yang baik ini.

Pencapaian Same Store Sales Growth (SSSG) yaitu sebanyak 116 gerai di seluruh Indonesia pada tahun 2013 mencapai 12,1%. Sementara tahun ini Matahari membuka 9 gerai baru. Keduanya menjadi faktor pendorong pertumbuhan.


Total utang di tahun 2013 tercatat sebesar Rp 1,6 triliun atau turun dari akhir tahun 2012 di Rp 3 triliun. Perusahaan telah melakukan percepatan pembayaran sebesar Rp100 miliar di Januari 2014 dan merencanakan untuk kembali melakukan percepatan pembayaran utang bank pada tahun ini. Percepatan pembayaran ini juga telah menurunkan beban bunga menjadi Rp 309,17 miliar dari sebelumnya Rp 451,07 miliar di 2012.

Total ekuitas Matahari yang negatif juga membaik jadi negatif Rp 1,93 triliun di akhir tahun 2012 menjadi hanya negatif Rp 781,37 miliar.

Pencapaian ini membuat pasar mendorong harga Matahari menjadi Rp 15.000, harga rekor tertinggi yang pernah dicapainya.



Laba Bersih Timah (Persero) Melonjak 19% di Tengah Penurunan Pendapatan



Jakarta, 18 Februari 2014 – PT Timah (Persero), Tbk (TINS) melaporkan penurunan pendapatan 21% menjadi Rp 5,85 triliun, namun kenaikan laba bersih sebesar 19% menjadi Rp 515,08 miliar. Penurunan pendapatan dikarenakan mengikuti mekanisme perdagangan yang baru.

Walaupun turun, namun kinerja pendapatan perusahaan pada akhir tahun adalah lebih baik daripada pada penutupan kuartal tiga yang tercatat turun sampai 35%. Penurunan yang dikarenakan mekanisme ekspor yang harus melalui Bursa Komoditi Derivatif Indonesia (BKDI) telah memaksa perusahaan untuk menjual kepada pihak-pihak yang sudah menjadi anggota bursa saja. Tetapi dengan penambahan pihak yang masuk ke bursa, maka kuartal keempat ini lebih baik daripada sebelumnya.

Harga timah pada kuartal keempat juga lebih baik yaitu di US$ 23.400/mt dibandingkan sebelumnya di US$22.455/mt. Harga tersebut terbentuk di BKDI, dan diharapkan dapat menjadi daya tawar pemasok timah Indonesia di dunia.

Walaupun pendapatan turun, tetapi kinerja perusahaan tetap baik. Marjin laba kotor meningkat jadi 24,7% dari sebelumnya 17,3% di 2012. Marjin laba sebelum pajak dan bunga jadi 14,3% dari sebelumnya 5,9%. Imbal hasil atas ekuitas jadi 10,5% dengan laba bersih per saham naik ke Rp 102,4/ saham.

Kinerja ini didorong oleh penurunan biaya penjualan karena dapat menjual ke BKDI yang biayanya lebih efisien daripada menjual langsung kepada pengguna melalui tender. Selain itu rugi dari perusahaan asosiasi juga turun adalah karena belum diperpanjangnya kontrak karya PT Koba Tin yang telah berakhir 31 Maret 2013 yang yang selama 2 tahun berturut-turut telah menyebabkan kerugian.

Aktivitas operasi yang dihentikan dan menyebabkan rugi adalah karena PT Tanjung Alam Jaya yang dimiliki perusahaan melalui PT Tambang Timah dan PT Timah Investasi Mineral,  yang akan dijual kepada pihak lain namun masih di dalam proses perundingan.

Kinerja laba bersih yang lebih baik ini telah menggerakkan pasar sehingga harga TINS naik 7,7% dalam 1 jam pertama sesi pagi bursa ke Rp 1.535. Padahal 2 hari sebelumnya TINS juga sudah naik 5,5%.