Tuesday, February 25, 2014

Pasarkan TiPhone A508, Tiphone Mobile ingin rebut 20% pasar ponsel

www.yangcanggih.com

Jakarta, 26 Februari 2014 - PT Tiphone Mobile Indonesia, Tbk (TELE) berencana meningkatkan pangsa pasar dengan meluncurkan produk baru TiPhone A508 dengan membidik 20% pasar ponsel kelas menengah ke bawah dimana sejauh ini Tiphone Mobile  mengklaim menguasai 35% pangsa pasar ponsel di Indonesia.

TiPhone A508 ini dibekali perangkat buatan Foxconn, sebagaimana Foxconn dikenal sebagai pemasok Apple, Inc dalam membuat berbagai macam produknya.

Ponsel jenis A508 diklaim menyamai iPhone 4S yang mempunyai prosesor dual core dengan kemampuan 1GHz dan kapasitas memori pengolah data atau RAM sebesar 512 MB dengan menggunakan sistem operasi berbasis Android. Ponsel ini rencananya akan dipasarkan  dengan harga hanya sebesar Rp 600 ribuan termasuk bundling data 12Gb oleh Telkomsel.

Namun, AFN melihat, hingga saat ini dominasi produk hardware seperti Samsung, Apple dan Blackberry masih menguasai sebagian besar pengguna ponsel di Indonesia. Meskipun bundling yang ditawarkan Tiphone Mobile cukup menarik, namun Tiphone Mobile dihadapkan dengan pertarungan pasar di kelas menengah ke bawah.

Pasar kelas menengah ke bawah saat ini didominasi oleh ponsel bekas dengan merk ternama seperti Samsung dan Blackberry atau ponsel rakitan kembali (repabrikasi) yang ditawarkan dengan harga yang lebih murah akan menjadi tantangan Tiphone Mobile.

Kinerja Tiphone 3Q2013
Tercatat Tiphone Mobile membukukan kenaikan laba bersih hingga 47,07% selama 9 bulan pada 2013 menjadi sebesar Rp 203,86 miliar dibandingkan dengan 2012 lalu sebesar Rp 138,62 miliar dengan kenaikan laba tersebut didorong oleh pertumbuhan penjualan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan beban langsung.

Tercatat penjualan Tiphone Mobile sebesar Rp 6,98 triliun atau naik 25,33% dibandingkan kuartal ketiga tahun 2012 lalu sebesar Rp 5,57 triliun dengan beban langsung yang tercatat naik 24,28% atau sebesar Rp 6,54 triliun dibandingkan dengan kuartal ketiga tahun 2012 sebesar Rp 5,26 triliun.
Sebagaimana didalam tabel, tercatat laba kotor naik lebih tinggi hingga  43,41% menjadi Rp 438,79 triliun dibandingkan kuartal ketiga 2012 lalu sebesar Rp 305,97 miliar.

Sementara itu, beban keuangan yang ditanggung Tiphone Mobile juga naik seiring jumlah hutang jangka pendek ke bank yang mencapai Rp 1,25 triliun. Beban keuangan naik 2 kali lipat pada periode kuartal ketiga 2013 dibandingkan dengan sebelumnya.

Monday, February 24, 2014

Laba Tower Bersama Naik 48%

Jakarta, 25 Februari 2014 – PT Tower Bersama Infrastructure, Tbk (TBIG) mencatatkan kenaikan laba bersih 48% menjadi Rp 260,19 miliar. Ini mencerminkan rasio harga atas laba (PER) 23,54 kali dengan rasio imbal hasil atas ekuitas (ROE) 31,3%.

Pendapatan Tower Bersama tercatat naik 57% menjadi Rp 2,69 triliun dari sebelumnya Rp 1,72 triliun. Kenaikan ini didorong oleh pertumbuhan pendapatan dari menara yang memang menjadi bisnis inti perusahaan.

PT Indosat, Tbk telah meningkatkan pendapatan sewa ke Tower Bersama sebesar 118% menjadi Rp 631,56 miliar dari sebelumnya Rp 289.51 miliar. Kenaikan ini diikuti oleh pendapatan dari PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) telah naik 106% menjadi Rp 739,19 miliar dari sebelumnya Rp 358,14 miliar.

Beberapa pelanggan yang juga berkontribusi dalam kenaikan pendapatan sewa perusahaan adalah PT XL Axiata, Tbk, PT Hutchison CP Telecommunications, dan PT Axis Telekom Indonesia. Sementara PT Smartfren Telecom, Tbk dan PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk malah menurunkan sewanya.

Sementara itu kenaikan laba bersih yang lebih rendah daripada kenaikan pendapatan disebabkan  oleh kenaikan beban keuangan menjadi Rp 726,74 miliar dari sebelumnya hanya Rp 467,48 miliar. Selain itu, rugi selisih kurs yang mencapai Rp 799,12 miliar juga menekan kinerja laba bersih.

Padahal, pada tahun 2013 ini tercatat kenaikan nilai wajar atas properti investasi  yang menjadi laba perusahaan. Tahun 2013 kenaikan itu tercatat Rp 781,16 miliar naik dibandingkan tahun sebelumnya Rp 258,54 miliar.

Dengan kinerja ini maka rasio imbal hasil atas ekuitas (ROE) mencapai 31,3%, naik dari tahun sebelumnya di 21,1%. Beberapa rasio marjin profitabilitas juga tercatat naik, yaitu marjin laba kotor, marjin EBIT dan marjin laba bersih.

Kenaikan ini didorong oleh peningkatan leverage. Hal ini terlihat dari peningkatan rasio utang jangka panjang atas ekuitas yang menjadi 2,68x dari sebelumnya 1,98x. Tingkat EBIT per beban keuangan juga turun sedikit menjadi 2,62x dari sebelumnya 2,95x.

Secara umum AFN melihat Tower Bersama adalah salah satu saham yang layak investasi karena beberapa hal:
1.    Secara fundamental perusahaan terus berkembang dan mencari peluang-peluang baru.
2.    Secara industri, telekomunikasi seharusnya memang terbagi dua antara penyedia jasa (seperti Telkom, Indosat, XL dan sebagainya) dengan penyedia infrastruktur (seperti Tower Bersama dan Sarana Menara). Tahapan yang kini dimasuki oleh perusahaan-perusahaan telekomunikasi tradisional (yaitu yang masih menggabungkan kedua segmen ini) sudah sangat ketat karena mereka harus bersaing di frekuensi serta di industri kreatif. Karenanya sub industri penyedia infrastruktur telekomunikasi makin akan terdorong baik ke depannya.



Thursday, February 20, 2014

Laba Bersih Jasa Marga Turun karena Kenaikan Upah



Jakarta, 21 Februari 2014 – PT Jasa Marga (Persero), Tbk mencatatkan pertumbuhan pendapatan tetapi penurunan laba bersih karena kenaikan beban pemeliharaan jalan tol, beban konstruksi dan pelayanan pemakai jalan tol.

Pendapatan Jasa Marga naik 13% menjadi Rp 10,29 triliun di akhir tahun 2013 dari sebelumnya Rp 9,07 triliun. Kenaikan ini terutama terjadi pada pendapatan konstruksi yang naik 18% menjadi Rp 3,96 triliun di tahun  2013.  Pendapatan dari segmen konstruksi adalah kontributor kedua terbesar dari pendapatan Jasa Marga. Sementara itu pertumbuhan dari tol sendiri hanya 4% menjadi Rp 5,83 triliun dari sebelumnya Rp 5,58 triliun.


Sementara itu beban pemeliharaan jalan tol 30% menjadi Rp 1,14 triliun dari sebelumnya Rp 882,25 miliar. Beban ini berkontribusi sebesar 15% terhadap total beban usaha.

Selain itu yang juga berkontribusi terhadap penurunan laba adalah kenaikan beban konstruksi sebesar 18,2% menjadi Rp 3,91 triliun. Beban konstruksi adalah beban terbesar di dalam beban usaha yaitu 51%.

Beban lainnya yang naik tinggi adalah beban pelayanan kepada pemakai jalan tol, yang naik 74% menjadi Rp 481,74 miliar dari sebelumnya hanya Rp 276,51 miliar.

Hasilnya, laba bersih turun 17% menjadi Rp 1,34 triliun atau Rp 196,52/ saham dari sebelumnya Rp 1,60 triliun atau Rp 235,60/ saham.

Posisi kas juga turun jadi Rp 3,51 triliun dari sebelumnya Rp 4,30 triliun. Sementara total aset naik 15% menjadi Rp 28,37 triliun karena kenaikan hak pengusahaan jalan tol sebesar 20% menjadi Rp 22,3 triliun.

Liabilitas jangka pendek turun 26% menjadi Rp 4,92 triliun, sementara liabilitas jangka panjang naik 51% menjadi Rp 12,58 triliun. Kenaikan liabilitas jangka panjang ini didorong oleh kenaikan utang bank sebesar 75% menjadi Rp 5,32 triliun serta kenaikan utang obligasi sebesar 37% menjadi Rp 5,14 triliun.

Kinerja marjin laba usaha turun jadi 25,9% menjadi 32,8%, sementara kinerja marjin laba bersih turun jadi 13,0% dari 17,7%. Imbal hasil atas ekuitas (ROE) turun jadi 14,4% dari 18,6%.

AFN melihat bahwa penurunan kinerja ini lebih disebabkan oleh kenaikan upah yang cukup tinggi di tahun ini. Hal ini tidak akan terulang di tahun depan. Namun, tahun depan memiliki risiko kenaikan biaya lainnya yaitu biaya pemeliharaan jalan tol mengingat karena banyaknya bencana yang terjadi pada awal tahun 2014 ini telah merusak sebagian jalan tol milik Jasa Marga. Perusahaan juga telah berjanji untuk mengganti kerusakan kendaraan akibat lubang, yang mana akan menimbulkan biaya baru bagi perusahaan. 



PUT I Garuda Tidak Menarik


Jakarta, 21 Februari 2014 – PT Garuda Indonesia (Persero), Tbk (GIAA) akan melakukan penawaran umum terbatas (PUT) yang pertamanya  dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). Jumlah saham yang ditawarkan adalah 3,23 miliar lembar saham, atau setara dengan  14,22% saham yang beredar sekarang. Nilai penawaran ini akan mencapai Rp 1,48 triliun – Rp 1,61 triliun.

Melalui PUT  I ini setiap pemegang saham 701.409 lembar berhak mendapatkan 100.000 lembar rights (HMETD). Tiap lembar rights memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli 1 lembar saham dengan harga Rp 460 – 500 per lembar.

Rencananya perusahaan akan menggunakan 80% dari dana yang diterima Rp 1,18 – 1,29 triliun untuk pengembangan armada baru berjenis B737 Series, B777 series, A330 series dan A320 series. Sisanya sebesar 20% akan digunakan untuk modal kerja dalam bentuk pembayaran sewa pesawat.

AFN melihat bahwa penawaran umum ini, yang paralel dengan aksi perusahaan untuk menjual saham Citilink-nya, memberikan indikasi sebagai berikut:
1.    Garuda ingin fokus kepada pengembangan segmen premium dengan didukung merek serta proses bisnis yang baik
2.    Garuda ingin ekspansi kepada rute-rute yang lebih banyak dan lebih profitabel.

Akan tetapi menurut AFN penawaran saham ini kurang menambah nilai pemegang saham karena hal-hal berikut ini:
1.    Kemampuan Garuda untuk menghasilkan laba dari pendapatannya menurun, dilihat dari kinerjanya tahun 2013. Padahal tahun 2013 ini adalah tahun dimana jumlah wisatawan tertinggi sejak tahun 1993, yaitu 13,52% sampai dengan Juni. Seharusnya kinerja pariwisata secara umum ini dapat dikonversikan menjadi laba oleh Garuda.
2.    Dengan target pasar yang premium, seharusnya kenaikan beban-beban seperti beban bahan bakar dan beban tiket, dapat dibebankan kepada penumpang (passthrough). Kenyataan bahwa  Garuda tidak mampu melakukan passthrough menunjukkan bahwa positioning Garuda di pasar premium adalah lemah.
3.    Harga saham Garuda telah mengindikasikan rasio P/E sebesar 1075 kali, artinya pemegang saham sekarang baru dapat memperoleh kembali modal investasinya setelah 1075 tahun dengan laba ini. Dengan efek dilusi, jangka waktu ini akan makin panjang.
4.    Arus kas operasional perusahaan tidak cukup untuk pemeliharaan pesawat. Garuda mencatatkan arus kas dari aktivitas operasional US$ 139,03 juta  sementara kas yang digunakan untuk dana pemeliharaan pesawat mencapai US$ 235,31 juta di tahun 2013. Peningkatan posisi kas yang terjadi adalah karena pinjaman jangka panjang yang diperoleh perusahaan. Ini tidak akan mampu untuk mempertahankan perusahaan dalam jangka panjang.