Tuesday, December 2, 2014

Uji 4G, Saham Indosat Melejit

Jakarta, 3 Desember 2014 – PT Indosat, Tbk  (ISAT) telah melakukan uji coba layanan generasi keempat ponsel 4G LTE (long term evolution) dengan target komersialisasi pada kuartal pertama tahun depan. Diharapkan dengan komersialiasi 4G, Indosat akan mampu mencatatkan kembali pertumbuhan.

Perusahaan melakukan pengujian dalam 15MHz spektrum masing-masing di 800MHz dan 1,800MHz frekuensi. Menurut perusahaan, industri telekomunikasi telah berkembang dari era selular, wireless, hingga broadband, seperti kecepatan dan efektivitas layanan yang lebih tinggi. Menurut perusahaan, layanan super 4G LTE ISAT dapat diperluas hingga 185Mbps, meskipun, jika lalu lintas berat, kecepatan bisa turun menjadi sekitar 60Mbps-70Mbps. Sementara itu, Kementerian informasi dan komunikasi (Menkominfo) menyatakan akan memberikan lisensi komersial pada akhir tahun ini.

Sebelumnya pada 3 triwulan 2014, perusahaan yang dikuasai oleh Ooredoo Asia, Pte, Ltd ini mencatatkan pendapatan Rp 17,72 triliun turun tipis, 0,46% dari periode sebelumnya di tahun 2013, Rp 17,80 triliun. Penurunan tersebut terutama terjadi karena penurunan pendapatan di segmen selular sebesar 1,3% menjadi Rp 14,29 triliun. Sementara segmen ini adalah kontributor utama, 80% dari  pendapatan Indosat.

Nampaknya pengujian ini mendapat apresiasi yang besar oleh pasar. Saham Indosat dalam waktu 2 pekan telah naik 28% dari Rp 3.050 ke Rp 3.925. Kenaikan ini juga didorong oleh besarnya net buy asing pada tanggal 24-27 Desember yang totalnya sampai Rp 35,04 triliun. Padahal kinerja Indosat dilaporkan menurun pada tahun ini.

Tahun ini, sama seperti tahun 2013, Indosat mencatatkan rugi yang cukup besar, yaitu Rp 1,32 triliun akibat besarnya beban tetap yang harus ditanggungnya. Beban pendapatan tercatat Rp 17,22 triliun, sehingga menghasilkan marjin laba operasi hanya 2,8%. Sementara beban utang turut menekan laba bersih sebesar Rp 1,82 triliun.

Indosat sebelumnya baru saja menata kembali struktur utangnya. Setelah membuat rangkaian pinjaman perbankan Revolving Credit Facility (RCF) US$ 450 juta, Export Credit Agency (ECA) US$ 400 juta, dan obligasi Rp 10 triliun, rancangannya kini mengalami sedikit perubahan. ISAT menambah pinjaman dengan skema RCF menjadi US$ 500 juta.


Monday, December 1, 2014

Alam Sutera Melesat

Jakarta - 2 Desember 2014 - PT Alam Sutera Realty, Tbk (ASRI) pada penutupan pecan kemarin melesat sampai 7,69% ke Rp 560 disertai dengan volume tinggi, 5,1 juta lot. Ini karena Tri Ramadi, dikabarkan bergabung kembali dengan perseroan ini paska pengunduran diri Hungkang Suteja yang menggantikannya. Apalagi kabarnya The Ning King akan menggabungkan Alam Sutera dan Bekasi Fajar.

Pada perdagangan yang bervolume tinggi ini, broker Kresna Graha Securindo berkode KS trcatat membeli saham ASRI sampai 1,32 juta lot, sementara Panin Securities dan CIMB Securities tercatat paling banyak menjual.

Tri Ramadi, mantan direktur utama Alam Sutera sempat mengundurkan diri di awal 2014. Tri kemudian digantikan oleh Harianto Tirtohadiguno. Sejak pengunduran dirinya sampai dengan dikabarkan akan kembali, Tri tetap di dalam grup Argo Manunggal  sebagai presiden direktur PT Alfa Goldland Realty, salah satu anak perusahaan Alam Sutera.

The Ning King, pemimpin grup Argo Manunggal pemilik 51,8%  Alam Sutera dikabarkan akan menggabungkan perseroan dengan PT Bekasi Fajar Industrial Estate, Tbk (BEST) yang juga dimilikinya. Argo Manunggal memiliki Alam Sutera  melalui PT Manunggal Prime Development dan PT Tangerang Fajar Industrial Estate. Grup ini juga mengendalikan Bekasi Fajar  sebanyak 47,97% melalui PT Argo Manunggal Land Development.

Tahun depan, Alam Sutera optimis akan memperoleh pendapatan sebesar Rp 5,8 triliun dari proyek-proyek yang sekarang sedang dibangun yaitu Kota Mandiri Sutera Svarna di Pasar Kemis Tangerang dan beberapa proyek highrise (apartemen dan perkantoran) di Serpong dan Jakarta, serta Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana di Bali.

Untuk mendukung pencapaian pendapatan itu, perseroan akan meningkatkan belanja modal sebanyak 47% sampai dengan Rp 2,2 triliun. Dana tersebut akan digunakan sebagian (50%) untuk membeli lahan di distrik Pasar Kemis dan Serpong, Tangerang. Sisanya adalah untuk membangun apartemen dan perkantoran di Serpong.

Perseroan telah mencatatkan penjualan marketing Rp 3,6 triliun sampai dengan September. Laporan keuangan Perseroan pemilik landbank 2.331 ha ini masih belum diterbitkan  karena sedang dilakukan proses audit eksternal, sehingga diharapkan laporan keuangan baru akan diterima Bursa pada 31 Desember 2014. Kebutuhan audit ini karena manajemen melihat adanya peluang untuk melakukan aksi korporasi ke depan.


ASCEND mengamati beberapa hal yang perlu diwaspadai oleh investor:

  • Belanja modal yang tidak sedikit, yaitu Rp 2,2 triliun atau sekitar 15% dari total aset perseroan harus dipenuhi melalui kombinasi utang dan penambahan ekuitas. Apalagi salah satu tujuan dari belanja modal tersebut adalah pengadaan lahan yang sifatnya jangka panjang. Penambahan modal HMETD adalah salah satu opsi terbaik perseroan yang 2/3 asetnya dibiayai oleh utang ini.
  • Penggabungan Alam Sutera dan Bekasi Fajar baik dari hal profitabilitas dan diversifikasi portofolio produk.  
  • Saat ini Bekasi Fajar memiliki PBV yang jauh lebih tinggi daripada Alam Sutera, yaitu 2,9x dibandingkan 2,0x. Harga yang cukup tinggi adalah hasil kenaikan 39% hanya dalam sebulan terakhir. Karenanya Alam Sutera perlu memperhitungkan kepentingan investor minoritas apabila penggabungan tersebut terjadi dan Alam Sutera harus membayar dengan harga pasar.  
Saham ASRI: 28 November 2014

Saham BEST: 28 November 2014


Sunday, November 30, 2014

Triwulan 3 Telkom, terbaik dari sektor telekomunikasi.

Jakarta, 1 Desember 2014 - PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk (TLKM) selama triwulan ketiga 2014 ini masih merupakan salah satu yang terbaik dari semua emiten telekomunikasi meskipun hanya tumbuh moderat. Sementara itu beberapa emiten telekomunikasi besar lainnya seperti PT XL Axiata, Tbk (EXCL) dan PT Indosat, Tbk (ISAT) justru dan masih tertekan. Dua operator CDMA juga tertekan akibat pasar CDMA yang kalah dibandingkan dengan GSM sehingga pertumbuhan keduanya lambat.

Sejauh ini hanya Telkom yang mampu mencatatkan perolehan laba sementara kompetitor lainnya justru mengalami kerugian selama triwulan ketiga 2014 ini.

ASCEND melihat, hal tersebut disebabkan oleh beban operasional telekomunikasi yang tinggi pada sektor ini, sementara pertumbuhan industri rendah. Ini membuat beberapa emiten mengalami penurunan profitabilitas dengan ditunjukkan pada penuruan laba sebelum bunga, pajak, penyusutan dan amortisasi (EBITDA)  pada hampir semua emiten telekomunikasi selain Telkom.

Industri telekomunikasi yang telah memasuki level mature atau level jenuh  hanya mampu mendorong pertumbuhan terbatas di beberapa segmen saja. Di sisi lain, beban tidak tertutup sehingga beberapa emiten mengalami penurunan kinerja.


Dibandingkan lainnya, Telkom sejauh ini membukukan kinerja terbaik dengan laba bersih hingga Rp 11,45 triliun atau mengalami pertumbuhan hingga 17,38% y-o-y.

Perolehan laba Telkom ini didukung oleh marjin EBITDA yang signifikan hingga mencapai 58,84%. Sementara beberapa emiten telekomunikasi tercatat membukukan EBITDA margin yang lebih rendah. Kenaikan EBITDA Telkom tersebut seiring dengan produktivitas aset Telkom yang signifikan.

Dibandingkan operator GSM lainnya, Telkom masih menjadi market leader. Telkom membukukan kenaikan penjualan 7,06% menjadi Rp 65,84 triliun dengan didukung oleh pendapatan pemakaian telepon seluler yang mencapai Rp 25,03 triliun dan pendapatan sambungan internet yang mencapai Rp 26,92 triliun. Dua kompetitor GSM lainnya, XL Axiata dan Indosat hanya membukukan pendapatan sebesar masing-masing Rp 16,42 triliun dan Rp 14,29 triliun pada opeasional GSM keduanya. 

Meskipun kinerja profitabilitas positif, TLKM masih dihadapkan beberapa masalah dalam kebijakan perseroan tersebut. Beberapa waktu lalu, saat Telkom akan menjual anak usaha Dayamitra Telekomunikasi kepada Tower Bersama Infrastruktur, Tbk (TBIG) dengan opsi tukar saham yang masih bermasalah karena tidak semua dewan komisaris menyetujui hal tersebut.

Selain itu, Telkom memiliki liabilitas terhadap karyawan yang mencapai hampir Rp 3 triliun dan juga beban pajak tangguhan yang juga mencapai Rp 3 triliun. Keduanya, dimasa mendatang cenderung menjadi beban dan menekan profitabilitas dari Telkom.

Kompetitor Telkom terdekat, XL Axiata yang sebelumnya mencatat profitabilitas tinggi dan kinerja keuangan positif, dalam dua triwulan terakhir menunjukkan tekanan profitabilitas akibat tingginya beban infrastruktur dan beban keuangan.

Beban infrastruktur dan beban keuangan XL Axiata ini meningkat pasca akuisisi dan konsolidasi terhadap AXIS pada awal tahun lalu. Bahkan jika Axis dikonsolidasikan dengan XL Axiata sejak awal tahun, XL akan mencatatkan rugi usaha hingga Rp 5,12 triliun dengan dengan pendapatan sebesar Rp 18,07 triliun.

Namun, dengan akuisisi Axis tersebut, XL akan mendapat pembagian sprektrum gelombang frekuensi radio yang lebih besar dari Telkom, Indosat dan Hutchison sehingga memiliki kapasitas aliran data yang lebih besar dan potensi interferensi signal lebih kecil.

Potensi inilah yang ke depan akan dimiliki XL Axiata. Namun hal tersebut  akan butuh waktu setidaknya dua atau tiga tahun saat kualitas layanan signal diperbaiki, baru dapat diharapkan adanya penambahan pelanggan XL.

Operator lainnya, Indosat, masih menunjukkan tekanan selama triwulan ketiga ini meskipun mencatatkan pendapatan hingga Rp 17,72 triliun atau turun tipis 1% dibandingkan dengan periode tahun lalu, namun pendapatan seluler ini hanya sebesar Rp 14,29 triliun lebih rendah dari Telkom dan XL Axiata.

Secara performa, pada triwulan ketiga ini, EBITDA marjin Indosat lebih baik dari XL Axiata namun lebih rendah dari Telkom sebesar 37,23% setelah beban depresiasi yang turun dibandingkan dengan tahun lalu. Namun, beban infrastruktur dan layanan telekomunikasi yang naik dan beban keuangan yang meningkat pula, membuat Indosat membukukan kerugian.

Minimnya inovasi disaat industri masuk pada fase mature, membuat Indosat belum mampu mendorong pendapatan, hal ini berbeda dengan Telkom lewat Telkomsel dan XL Axiata. 

Sementara itu, dua operator CDMA, PT Bakrie Telecom, Tbk (BTEL)  dan PT Smart Fren, Tbk (FREN) juga tertekan akibat industri CDMA yang tidak tumbuh hingga saat ini. Keduanya memjajaki kerjasama pembagian pita frekuensi LTE atau teknologi lanjutan CDMA yang masih dalam proses Depkominfo.

Diharapkan paling cepat dua tahun mendatang frekuensi LTE baru akan dapat beroperasi di Indonesia. Namun, hingga saat itu tiba sepertinya operator CDMA masih harus bekerja sama dengan operator GSM dalam mendorong pendapatan lewat bundling paket, akibatnya pertambahan pelanggan operator ini cenderung lambat.

Saham TLKM 28 Nov 2014



Harga Jual Keramik Naik 2% Paska Kenaikan BBM

Jakarta, 1 Desember 2014 – Menyusul kenaikan BBM yang ditetapkan pemerintahan baru, Asosiasi Keramik Indonesia akan mengerek harga jual 2% mulai awal Desember, terutama karena perusahaan keramik terpaksa menanggung biaya distribusi yang lebih besar. Kenaikan harga BBM walaupun berdampak negatif kepada emiten keramik, namun nampaknya belum tercermin di dalam harga saham mereka.

Menurut Asosiasi, kenaikan harga BBM lebih berdampak pada biaya distribusi karena kendaraan untuk mendistribusikan produk keramik ke berbagai daerah masih menggunakan BBM solar bersubsidi. Hal itu berbeda dengan proses produksi pabrik yang sudah menggunakan BBM industri. Kenaikan harga BBM itu menyulut permintaan para distributor untuk meningkatkan juga tarif pengangkutan hingga 30%.
 
Terlihat dari tabel bahwa biaya pengangkutan terhadap pendapatan pada masing-masing emiten keramik berbeda-beda, berkisar dari yang paling kecil hanya 0,57% sampai kepada yang terbesar 28,82%, dengan rata-rata 9,30%.

Tampak pula bahwa tahun ini emiten-emiten keramik banyak mengalami pertumbuhan pendapatan. Hanya ada satu emiten, yaitu PT Keramika Indonesia Asosiasi, Tbk (KIAS) yang mengalami penurunan pendapatan karena hilangnya banyak bisnis dari pihak ketiga, sehingga penjualan Keramika hanya ditopang penjualan kepada pihak berelasi.

Walaupun pendapatan bertumbuh, PT Intikeramik Alamasri Industri, Tbk (IKAI) malah mengalami rugi bersih sebesar Rp 11,94 miliar, atau Rp 15,09 per lembar. Intikeramik telah mencatatkan rugi selama beberapa tahun terakhir.  

Emiten keramik berkapitalisasi terbesar, yaitu PT Arwana Citramulia, Tbk (ARNA), memiliki kinerja profitabilitas tertinggi dengan marjin laba bersih 16,7%, jauh di atas rata-rata 7,78% dan imbal hasil atas ekuitas (ROE) mencapai 71%. Dengan utang yang lebih rendah daripada rata-rata, Arwana ditransaksikan pada PBV tertinggi dibandingkan emiten-emiten keramik lainnya, yaitu sampai dengan 8,14 kali.

Pelaku usaha keramik juga menyebutkan tantangan sebelumnya adalah kenaikan tarif dasar listrik (TDL) yang sudah lebih dahulu menekan beban produksi. Sejak Juli sampai November, mereka mengaku biaya energi sudah naik 40%. Kenaikan biaya energi tersebut lantas mengerek beban produksi sebesar 5%.


Paska menaikkan harga jual Desember nanti, pelaku usaha masih optimistis bisa mencatatkan pertumbuhan penjualan di kuartal IV. Katalis positifnya adalah anggaran proyek pemerintah yang cair di semester II, biasanya dibelanjakan di kuartal IV.

Pergerakan Saham Arwana Citramulia (ARNA)


Friday, November 21, 2014

Akuisisi Pemilik Milkuat, Indofood CBP Tumbuh 20%

Jakarta, 21 November 2014 – PT Indofood CBP Sukses Makmur, Tbk (ICBP) mengumumkan pembelian saham PT Danone Dairy Indonesia, produsen produk susu cair dengan nilai Rp 250 miliar. Pendapatan perseroan dari segmen dairy sampai dengan September mencapai Rp 3,94 triliun atau 17,3%.

Danone Dairy Indonesia adalah pemilik brand Milkuat yang bergambar harimau dan telah memiliki posisi yang  cukup kuat di pasar susu anak-anak Indonesia. Transaksi yang dilakukan oleh anak perusahaan, PT Indolakto, ini diharapkan dapat memperkuat posisi perseroan di Indonesia bagian barat pada khususnya dan di industry dairy nasional pada umumnya.

Karena nilainya yang tidak signifikan, yaitu hanya 1% dari total aset dan 1,8% dari total ekuitas perseroan, maka transaksi ini tidak perlu mendapatkan persetujuan dari pemegang saham. Akuisisi ini diperkirakan selesai pada akhir bulan Desember tahun ini setelah semua kondisi yang dipersyaratkan terpenuhi.

Dalam 9 bulan tahun 2014 ini, perseroan telah mencatatkan pertumbuhan pendapatan total 20% menjadi Rp 22,78 triliun dibandingkan tahun sebelumnya Rp 18,88 triliun. Pertumbuhan laba tercatat 11,89% menjadi Rp 2,07 triliun atau Rp 355/saham. Sebagian besar pendapatan dan laba tersebut berasal dari produk-produk mi instannya yang di bawah payung merk Indomie, Supermi, Sarimi, Sakura, Pop Mie, Mi Telur Cap 3 Ayam dan Pop Bihun.

Sebelumnya perseroan bersama Asahi Group Holdings Southeast Asia Pte Ltd membentuk dua perusahaan patungan yakni PT Asahi Indofood Beverage Makmur (AIBM) yang memproduksi minuman non alkohol, dan PT Indofood Asahi Sukses Beverage (IASB) yang menangani pemasaran dan distribusi produk tersebut. Jumlah pabrik AIBM adalah 17 pabrik termasuk dua pabrik milik Pepsi Cola Indobeverages (PCIB) dan 14 pabrik air minum dalam kemasan (AMDK).

Pada Oktober 2013, perusahaan patungan Indofood dengan Asahi juga mengakuisisi perusahaan air minum dalam kemasan dengan merek dagang Club dengan nilai akuisisi Rp 2,2 triliun.
Tahun ini perseroan juga akan mendorong peluncuran produk kategori kopi siap minum dan functional drink. Selain dari bisnis minuman non alkohol, perseroan juga fokus mendorong bisnis dairy dan eskrim.

Dengan akuisisi agresif,  pemilik brand minuman Pepsi, Tropicana Twister, dan Tekita ini diharapkan mampu mencapai pendapatan dari bisnis minuman sampai dengan Rp 5 triliun pada tahun 2017.


Akuisisi-akuisisi agresif yang dilakukan oleh perusahaan telah mendorong harga saham perseroan naik 8,6% sejak awal tahun 2014 ke Rp 11.050 dan sempat mencapai harga tertinggi Rp 11.700.