Showing posts with label TLKM. Show all posts
Showing posts with label TLKM. Show all posts

Sunday, November 30, 2014

Triwulan 3 Telkom, terbaik dari sektor telekomunikasi.

Jakarta, 1 Desember 2014 - PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk (TLKM) selama triwulan ketiga 2014 ini masih merupakan salah satu yang terbaik dari semua emiten telekomunikasi meskipun hanya tumbuh moderat. Sementara itu beberapa emiten telekomunikasi besar lainnya seperti PT XL Axiata, Tbk (EXCL) dan PT Indosat, Tbk (ISAT) justru dan masih tertekan. Dua operator CDMA juga tertekan akibat pasar CDMA yang kalah dibandingkan dengan GSM sehingga pertumbuhan keduanya lambat.

Sejauh ini hanya Telkom yang mampu mencatatkan perolehan laba sementara kompetitor lainnya justru mengalami kerugian selama triwulan ketiga 2014 ini.

ASCEND melihat, hal tersebut disebabkan oleh beban operasional telekomunikasi yang tinggi pada sektor ini, sementara pertumbuhan industri rendah. Ini membuat beberapa emiten mengalami penurunan profitabilitas dengan ditunjukkan pada penuruan laba sebelum bunga, pajak, penyusutan dan amortisasi (EBITDA)  pada hampir semua emiten telekomunikasi selain Telkom.

Industri telekomunikasi yang telah memasuki level mature atau level jenuh  hanya mampu mendorong pertumbuhan terbatas di beberapa segmen saja. Di sisi lain, beban tidak tertutup sehingga beberapa emiten mengalami penurunan kinerja.


Dibandingkan lainnya, Telkom sejauh ini membukukan kinerja terbaik dengan laba bersih hingga Rp 11,45 triliun atau mengalami pertumbuhan hingga 17,38% y-o-y.

Perolehan laba Telkom ini didukung oleh marjin EBITDA yang signifikan hingga mencapai 58,84%. Sementara beberapa emiten telekomunikasi tercatat membukukan EBITDA margin yang lebih rendah. Kenaikan EBITDA Telkom tersebut seiring dengan produktivitas aset Telkom yang signifikan.

Dibandingkan operator GSM lainnya, Telkom masih menjadi market leader. Telkom membukukan kenaikan penjualan 7,06% menjadi Rp 65,84 triliun dengan didukung oleh pendapatan pemakaian telepon seluler yang mencapai Rp 25,03 triliun dan pendapatan sambungan internet yang mencapai Rp 26,92 triliun. Dua kompetitor GSM lainnya, XL Axiata dan Indosat hanya membukukan pendapatan sebesar masing-masing Rp 16,42 triliun dan Rp 14,29 triliun pada opeasional GSM keduanya. 

Meskipun kinerja profitabilitas positif, TLKM masih dihadapkan beberapa masalah dalam kebijakan perseroan tersebut. Beberapa waktu lalu, saat Telkom akan menjual anak usaha Dayamitra Telekomunikasi kepada Tower Bersama Infrastruktur, Tbk (TBIG) dengan opsi tukar saham yang masih bermasalah karena tidak semua dewan komisaris menyetujui hal tersebut.

Selain itu, Telkom memiliki liabilitas terhadap karyawan yang mencapai hampir Rp 3 triliun dan juga beban pajak tangguhan yang juga mencapai Rp 3 triliun. Keduanya, dimasa mendatang cenderung menjadi beban dan menekan profitabilitas dari Telkom.

Kompetitor Telkom terdekat, XL Axiata yang sebelumnya mencatat profitabilitas tinggi dan kinerja keuangan positif, dalam dua triwulan terakhir menunjukkan tekanan profitabilitas akibat tingginya beban infrastruktur dan beban keuangan.

Beban infrastruktur dan beban keuangan XL Axiata ini meningkat pasca akuisisi dan konsolidasi terhadap AXIS pada awal tahun lalu. Bahkan jika Axis dikonsolidasikan dengan XL Axiata sejak awal tahun, XL akan mencatatkan rugi usaha hingga Rp 5,12 triliun dengan dengan pendapatan sebesar Rp 18,07 triliun.

Namun, dengan akuisisi Axis tersebut, XL akan mendapat pembagian sprektrum gelombang frekuensi radio yang lebih besar dari Telkom, Indosat dan Hutchison sehingga memiliki kapasitas aliran data yang lebih besar dan potensi interferensi signal lebih kecil.

Potensi inilah yang ke depan akan dimiliki XL Axiata. Namun hal tersebut  akan butuh waktu setidaknya dua atau tiga tahun saat kualitas layanan signal diperbaiki, baru dapat diharapkan adanya penambahan pelanggan XL.

Operator lainnya, Indosat, masih menunjukkan tekanan selama triwulan ketiga ini meskipun mencatatkan pendapatan hingga Rp 17,72 triliun atau turun tipis 1% dibandingkan dengan periode tahun lalu, namun pendapatan seluler ini hanya sebesar Rp 14,29 triliun lebih rendah dari Telkom dan XL Axiata.

Secara performa, pada triwulan ketiga ini, EBITDA marjin Indosat lebih baik dari XL Axiata namun lebih rendah dari Telkom sebesar 37,23% setelah beban depresiasi yang turun dibandingkan dengan tahun lalu. Namun, beban infrastruktur dan layanan telekomunikasi yang naik dan beban keuangan yang meningkat pula, membuat Indosat membukukan kerugian.

Minimnya inovasi disaat industri masuk pada fase mature, membuat Indosat belum mampu mendorong pendapatan, hal ini berbeda dengan Telkom lewat Telkomsel dan XL Axiata. 

Sementara itu, dua operator CDMA, PT Bakrie Telecom, Tbk (BTEL)  dan PT Smart Fren, Tbk (FREN) juga tertekan akibat industri CDMA yang tidak tumbuh hingga saat ini. Keduanya memjajaki kerjasama pembagian pita frekuensi LTE atau teknologi lanjutan CDMA yang masih dalam proses Depkominfo.

Diharapkan paling cepat dua tahun mendatang frekuensi LTE baru akan dapat beroperasi di Indonesia. Namun, hingga saat itu tiba sepertinya operator CDMA masih harus bekerja sama dengan operator GSM dalam mendorong pendapatan lewat bundling paket, akibatnya pertambahan pelanggan operator ini cenderung lambat.

Saham TLKM 28 Nov 2014



Thursday, October 23, 2014

Tukar saham Mitratel, Telkom dapat saham Tower Bersama, Siapa yang Untung?

Jakarta, 24 Oktober 2014 - PT Telekomunikasi Indonesia (Persero), Tbk berencana melepas kepemilikan saham atas PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) kepada PT Tower Bersama Infrastructure, Tbk (TBIG). Diversifikasi ini akan dilakukan dengan cara share swap antara saham Mitratel dan saham Tower Bersama. Siapakah yang diuntungkan?

ASCEND melihat sejauh ini transaksi ini masih wajar dan cenderung tidak ada yang dirugikan baik Telkom maupun Tower Bersama. Nilai transaksi tukar guling saham ini tidak jauh berbeda dengan harga rata-rata saham TBIG yang akan ditukar dengan Mitratel.

Sebagaimana dalam keterangan kepada wartawan dan juga keterbukaan informasi Telkom, Mitratel akan dilepas sebanyak dua tahap. Pada tahap pertama, Telkom akan menukar 49% saham Mitratel dengan 5,7% saham Tower Bersama. Hak untuk mengonsolidasikan Mitratel diserahkan kepada Tower Bersama.

Tahap kedua akan dijalankan dalam jangka waktu 2 tahun mendatang setelah tahap pertama dieksekusi. Telkom mempunyai opsi untuk menukar sisa 51% saham Mitratel dengan 6% saham Tower Bersama ditambah bonus Rp 1,74 triliun apabila Mitratel mencapai kinerja yang disepakati oleh keduanya.

Dalam transaksi ini, jika terealisasi, diprakirakan nilai transaksi akan mencapai Rp 11,06 triliun atau setara dengan  perolehan Telkom atas 13,7% saham TBIG pada harga Rp 7.972 per saham. Mitratel dengan transaksi ini berhasil dijual Telkom dengan harga yang mencerminkan PBV 1,36 kali

Transaksi tersebut juga sudah termasuk pembayaran atas hutang Mitratel sebesar Rp 2,71 triliun atas Bank BRI dan sindikasi Bank BRI, BNI dan Mandiri, ditambah dengan estimasi penyesuaian saat penutupan transaksi sebesar Rp 534 miliar.

Keuntungan yang diperoleh Telkom dari divestasi ini adalah:
  1. Menara dapat memperoleh nilai tambah lebih bila dioperasikan oleh Tower Bersama, yaitu dengan meningkatkan jumlah pengguna dan tidak terbatas di kalangan Telkom sendiri;
  2. Efisiensi biaya. Pasca pemberhentian operasi Flexi yang sekarang dialihkan kepada anak usaha Telkom lainnya, Telkomsel, maka tingkat penyewaan menara pada Mitratel akan cenderung menurun karena mayoritas pengguna menara Mitratel adalah Telkom Flexi. Dengan pengalihan kepemilikan menara, Telkom tidak terbebani dengan biaya-biaya terkait pemeliharaan menara;
  3. Telkom dapat memperoleh imbal hasil investasi yang sebelumnya diperoleh dari Mitratel menjadi dari Tower Bersama.

Namun langkah yang perlu menjadi perhatian Telkom dan investor adalah:
  1. Telkom kehilangan hak konsolidasikan asset dan pendapatan Mitratel pada tahap pertama, padahal masih memiliki hak pengendalian. Kalau pada 2 tahun ke depan Tower Bersama kemudian tidak melaksanakan (exercise) haknya untuk mengambil sisa Mitratel, artinya Telkom tetap kehilangan hak konsolidasi itu untuk nilai yang lebih kecil daripada seharusnya;
  2. Pembayaran Rp 1,74 triliun akan dilakukan apabila kinerja Mitratel mencapai tingkat tertentu. Pertanyaan yang patut diajukan adalah siapakah yang bertanggungjawab atas pencapaian performa tersebut? Apakah Telkom sebagai pengendali 51%, atau Tower Bersama yang sudah mengkonsolidasikan kinerja ke dalam kinerja perusahaannya sendiri?
  3. Transaksi ini juga masih berpotensi mendapatkan kendala dari sisi hukum bagi Telkom. Sesuai UU Keuangan Negara, penjualan aset pemerintah yang melebihi nilai Rp 100 miliar harus mendapatkan persetujuan DPR, kecuali asset tersebut berpotensi merugikan keuangan Negara.

Mitratel yang hingga saat ini sepenuhnya masih dikendalikan oleh Telkom yang mempunyai 3.928 menara dengan 4.363 penyewaan. Di samping itu, aset Mitratel juga dibiayai oleh hutang bank yang mencapai Rp 2,7 triliun sementara nilai buku ekuitas sekitar Rp 5,75 triliun.

Pasar terlihat mengapresiasi rencana divestasi ini, terlihat dari kecenderungan harga yang naik cukup signifikan dibandingkan bulan sebelumnya.

Sementara di sisi Tower Bersama, akuisisi ini  akan membuat saham lama akan terdilusi hingga mencapai 13%.

Sebagai catatan, kinerja Tower Bersama selama semester pertama lalu tidak terlalu bagus. Perusahaan mencatat penurunan laba bersih hingga 21,3% menjadi hanya Rp 664 miliar yang salah satu penyebabnya karena beban keuangan yang meningkat hingga 51%.

Selama enam bulan kemarin, pendapatan Tower Bersama masih tercatat tumbuh hingga 24,4% menjadi Rp 1,58 triliun dibandingkan dengan sebelumnya sebesar Rp 1,27 triliun dengan didukung oleh pendapatan dari 18.028 titik penyewaan menara.

Sebelum akuisisi, Tower Bersama memiliki 11.266 menara untuk tersedia disewakan kepada penyedia layanan telekomunikasi yang tersebar di seluruh Indonesia hingga akhir semester pertama lalu. Paska akuisisi, Tower Berama akan memiliki hamper 15.000 menara.

Setelah aksi korporasi ini, 50,6% saham Tower Bersama dimiliki dan dikendalikan Grup Saratoga dan sebesar 35,6% oleh publik, sementara sisanya oleh Telkom. Sejauh ini, akibat rencana aksi korporasi yang belum terealisasi ini, tampaknya TBIG mendapat apresiasi oleh pasar dengan membukukan  kenaikan harga hingga 10,4% dari penutupan pada 10 Oktober 2014 lalu saat pengumuman resmi dari kedua emiten yang terlibat aksi korporasi ini.





Thursday, June 5, 2014

Diakuisisi Telkom, Ekspansi Tiphone Bisa Makin Laju

Jakarta, 6 Juni 2014 - BUMN telekomunikasi, PT Telekomunikasi Indonesia (Persero), Tbk, (TLKM)  dikabarkan akan mengakuisisi perusahaan distributor ritel alat telekomunikasi PT TiPhone Mobile Indonesia, Tbk (TELE) dengan pembelian  25% saham. Rencana akuisisi ini akan menguntungkan investor Tiphone, ketimbang investor Telkom.

Rencananya, akuisisi ini akan dilakukan melalui anak usaha Telkom yaitu Premises Integration Service (PINS) yang juga merupakan produsen ponsel lokal dan peralatan jaringan. Saat ini produksi ponsel oleh PINS masih berskala kecil dibandingkan industri perakitan ponsel. Dengan akuisisi ini, diharapkan aset Telkom akan bertambah dan dapat memanfaatkan jaringan ritel Tiphone untuk memasarkan peralatan yang diproduksi dan dijual PINS.

Menurut riset Danareksa Sekuritas, pembelian ini tidak akan berpengaruh signifikan terhadap Telkom. Dengan harga pasar sekarang, Telkom harus membayar Rp 1,15 triliun dengan ekspektasi pertambahan laba bersih hanya sebesar Rp 61 miliar atau hanya menambah kurang dari 1% dari laba per saham.

Analisis ASCEND pun menunjukkan hal itu. Jika rencana akuisisi ini terwujud, ASCEND melihat dalam jangka pendek belum tentu akan mendorong pertumbuhan anorganik Telkom karena aset Tiphone hanya sebesar Rp 4,17 triliun dengan laba bersih sebesar Rp 242,84 miliar, atau jauh jika dibandingkan dengan Telkom yang tercatat memiliki aset sebesar Rp 130,47 triliun dengan laba bersih sebesar Rp 14,60 triliun (disetahunkan).

Namun jika sinergi terjadi, dalam jangka panjang, Tiphone bergerak dalam segmen ritel dan konsumer yang belum dimiliki Telkom , akan mendorong akan mampu mendorong pertumbuhan segmen lain dari Telkom terutama lewat anak usaha Telkomsel.

Selain itu, pendapatan Telkomsel berpeluang meningkat lewat penjualan bundling paket data atau paket telekomunikasi lainnya dengan jaringan distributor ritel yang dimiliki Tiphone yang sebagai salah satu distributor ponsel merek Apple dan merek Samsung untuk Jabodetabek dan Tiphone juga dikenal sebagai produsen ponsel kelas menengah kebawah TiPhone yang memiliki pangsa pasar yang besar.

Sebaliknya dari sisi Tiphone, ASCEND melihat bahwa masuknya partner bisnis yang merupakan perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia ini dapat membantu mengembangkan jaringan bisnisnya dan dapat memenuhi kekuatan pendanaan untuk ekspansi.

Kinerja Fundamental Telkom
Sementara itu, Telkom dalam kinerjanya pada kuartal pertama 2014 ini, hanya membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 8,71% menjadi sebesar Rp 21,25 triliun dengan pertumbuhan laba bersih sebesar 4,95% menjadi sebesar Rp 3,65 triiun.

Pertumbuhan pendapatan dan usaha yang rendah ini menunjukkan Telkom dari sisi siklus bisnis berada dalam kondisi maturity sehingga tidak mampu tumbuh signifikan kecuali dengan  pertumbuhan anorganik.

Kinerja Fundamental Tiphone
Selama kuartal pertama, Tiphone membukukan pertumbuhan pendapatan hingga 51,68% menjadi sebesar Rp 3 triliun dengan pertumbuhan laba bersih tercatat sebesar 17,07% atau sebesar Rp 61 miliar.

Dalam siklus sebuah perusahaan, dengan pertumbuhan pendapatan yang tinggi dan pertumbuhan laba yang relatif besar menunjukkan bahwa Tiphone masih dalam fase pertumbuhan.

Tercatat sejak perusahaan ini didirikan yanitu tahun 2008 lalu atau 6 tahun yang lalu Tiphone membukukan laba ditahan lebih dari 40% atau Rp 601 miliar dari nilai ekuitasnya  sebesar Rp 1,47 triliun dan masih kemungkinan bertambah seiring pertumbuhan laba bersih.

Namun, secara fundamental, segmen usaha perdagangan alat telekomunikasi ritel oleh Tiphone hanya mencatatkan marjin yang kecil. Tercatat marjin laba kotor hanya sebesar 5%, sementara marjin laba bersih sebesar 2,02% dengan perputaran aset mencapai 2,88 kali.


Selain itu, rasio hutang Tiphone sangat tinggi sebesar 1,14 kali  yang menunjukkan dalam aktivitas bisnisnya lebih banyak dibiayai melalui hutang. Dengan akuisisi oleh Telkom yang memiliki kekuatan pendanaan besar, ekspansi Tiphone ke depannya bisa makin lancar.

Wednesday, September 4, 2013

Saham-saham Berebut Buyback, Hanya ada Beberapa yang Akan Efektif

Jakarta, 5 September 2013 - Belakangan ini sering sekali terdengar rencana emiten-emiten untuk melakukan pembelian saham kembali (buyback) akibat jatuhnya harga saham mereka di pasar. Tetapi penentunya adalah bagaimana pembelian tersebut akan berakibat kepada kinerja operasional, serta bagaimana kinerja emiten tersebut di mata pasar.

Tujuan buyback saham adalah untuk memberikan sinyal kepada pelaku pasar bahwa harga yang sekarang sudah undervalue (di bawah harga wajarnya). Buyback saham bisa efektif apabila sinyal tersebut kuat dan didukung oleh fundamental. Sebaliknya buyback saham akan dapat berbalik menjadi kesempatan pemilik saham untuk 'buang saham'nya dan merugikan perusahaan di dalam prosesnya.

Mengingat hal ini, maka  perusahaan dan investor perlu melihat apakah kriteria-kriteria di bawah ini sudah tercapai, sebelum melakukan buyback saham dan menerima sinyal dari buyback:

1. Posisi kas dan arus kas operasional dapat menutupi kebutuhan kas yang diperlukan buyback. Jangan buyback saham apabila menggunakan pendanaan eksternal atau akan mengganggu kinerja operasional;

2. Apabila harga wajar tidak terlalu jauh dibandingkan harga sekarang, maka buyback tidak perlu dilakukan. Hal ini mengindikasikan bahwa pelaku saham belum memiliki confidence yang cukup kepada emiten. Malah, emiten perlu menggiatkan aktivitas relasi investornya yang dapat meningkatkan kepercayaan tersebut;




Berdasarkan kriteria di atas, maka AFN menyarankan beberapa emiten ini tidak melakukan buyback:
1. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) karena harga wajarnya sudah di sekitar harganya sekarang. Lagipula posisi kasnya hanya sedikit di atas dana yang disiapkan untuk buyback sementara arus kas bersihnya masih negatif. Apalagi ke depannya TLKM masih membutuhkan dana ekspansi yang cukup besar
2. PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) yang harganya kini sudah berada pada kisaran harga wajarnya dan arus kas bersihnya masih negatif.
3. PT Tambang Batubara Bukit Asam  Tbk (PTBA) yang harganya kini sudah berada pada kisaran harga wajar akibat kondisi komoditas yang kurang kondusif.
4. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) yang arus kas operasional maupun bersihnya masih negatif signifikan.
5. PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) yang masih mengalami arus kas operasional maupun bersih negatif signifikan.

Monday, August 26, 2013

Telkom Stock Split 1:5, Makin Mudah Menuju ke Rp 12.000?

Jakarta, 26 Agustus 2013 - PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk (TLKM) telah mengumumkan keputusan akan melakukan stock split 1 saham lama untuk 5 saham baru. AFN melihat bahwa dengan stock split ini Telkom akan makin mudah ke harga wajarnya Rp 12.000 apabila tekanan pada pasar secara umum tidak kuat.

Perdagangan dengan harga saham baru akan efektif lusa (28/8), yaitu dengan harga nominal Rp 50 dari sebelumnya Rp 250. Kalau harga TLKM tidak berubah di Rp 10.750, maka harga barunya akan di sekitar Rp 2.150. Saham yang dapat diperdagangkan akan menjadi sebanyak  100,8 miliar lembar.

Stock split yang biasanya digunakan untuk meningkatkan likuiditas ini mungkin akan memudahkan jalan Telkom menuju Rp 12.000, yaitu harga konsensus dari beberapa analis. Beberapa analis yang telah memasukkan target harganya yaitu Sucorinvest Central Rp 13.700, Daiwa Securities Rp 13.376, Ciptadana Sekuritas dan BNP Paribas Equity masing-masing Rp 12.000, dan Danareksa Sekuritas Rp 11.650. Terdapat potensi naik 11% lagi untuk pemegang saham Telkom.

Beberapa faktor yang mendorong harga wajar Telkom di atas harganya yang sekarang adalah Telkomsel masih membukukan pertumbuhan yang moderat di tengah perang harga. Pertumbuhan pendapatan ini masih di atas pertumbuhan biaya secara signifikan, sehingga memberikan laba yang cukup baik bagi perusahaan. Dengan neraca yang kuat dan arus kas yang baik, maka Telkom dapat melakukan ekspansi lebih daripada peersnya.

Tetapi AFN melihat bahwa kondisi pasar secara keseluruhan mungkin akan menunda hasil yang diharapkan dari stock split ini. Mata uang yang terus menerus melemah serta tingkat inflasi yang cukup tinggi dapat melemahkan minat investor terhadap bursa saham, dan mungkin terhadap saham Telkom secara khusus. Dengan potensi upside hanya 11%, investor finansial dapat melirik saham-saham lain yang masih besar potensi upsidenya dan lebih kecil risikonya.



Wednesday, July 24, 2013

Telkom Tumbuh di Tengah Stagnasi Industri Telekomunikasi

Jakarta, 24 Juli 2013 - Telekomunikasi Indonesia, Tbk. (TLKM) mencatatkan pertumbuhan pendapatan hingga 9,4% atau sebesar Rp. 40 triliun pada semester pertama 2013  di tengah stagnasi industri telekomunikasi. Pertumbuhan disumbang oleh sektor data dan internet yang naik hingga 18% menjadi Rp. 15 triliun dari sebelumnya Rp. 12,7 triliun. Sektor selular hanya naik 5% menjadi Rp. 15 triliun dari sebelumnya Rp. 14,6 triliun. 

Dibandingkan kompetitor seperti XL Axiata, Tbk (EXCL) atau Indosat, Tbk (ISAT), TLKM mencatatkan performa yang lebih baik. Berdasarkan laporan keuangan kuartal pertama 2013, pertumbuhan pendapatan TLKM 9,8% dan pertumbuhan laba bersih 4,7%; sedangkan EXCL membukukan kenaikan pendapatan 9,1% dengan penurunan laba bersih 11,75%. ISAT hanya mampu tumbuh 1% pada topline, dengan penurunan laba bersih mencapai 105%. 

Tingkat pengembalian modal TLKM tertinggi diantara kompetor, TLKM membukukan  ROE sebesar 20,86% sedangkan EXCL dan ISAT masing-masing 6,37 dan 1,47%. Selain itu rasio solvabilitas TLKM juga yang paling rendah. Tercatat Debt to Equity Ratio TLKM sebesar 0,29 kali, sementara EXCL dan ISAT masing-masing 0,93 kali dan 0, 97 kali.

Seiring dengan meningkatnya pendapatan, biaya usaha TLKM pun meningkat. Beban usaha naik 7,8% menjadi Rp. 26 triliun dari sebelumnya Rp. 24,5 triliun pada akhir semester tahun lalu.

Walaupun demikian, TLKM masih membukukan kenaikan laba operasi hingga 12,6% menjadi Rp. 13,8 triliun dari sebelumnya Rp. 12,3 triliun. Marjin laba operasi tercatat naik menjadi 34,5% dibanding tahun lalu  sebesar 33,5%. Sementara laba bersih TLKM naik 11% menjadi Rp. 7,14 triliun dari priode tahun lalu Rp. 6,4 triliun. Marjin laba operasi naik tipis menjadi 17,8% dari sebelumnya 17,5%.    
 
Kinerja ini baik mengingat industri sedang berada di dalam stagnasi. Penggunaan percakapan dan SMS pada perangkat selular pada dekade ini diprakirakan telah mencapai level puncaknya. Sebagian pengguna selular cenderung beralih ke komunikasi berbasis data. Perang tarif rendah antar operator pun cenderung menahan pertumbuhan dari segmen selular. Dari demografi pengguna jasa telekomunikasi selular di Indonesia, 63% merupakan usia di antara 16 hingga 25 tahun dan cenderung lebih banyak mengakses data internet dari pada percakapan selular secara langsung. 

Secara garis besar, pertumbuhan pendapatan ini menguatkan opini AFN terdahulu bahwa TLKM saat ini adalah perusahaan operator telko terbaik di Indonesia. Tetapi, TLKM tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan untuk keluar dari stagnasi.

AFN melihat peluang pertumbuhan TLKM justru ada di Indonesia bagian timur. Sebagian kompetitor masih belum mempunyai jaringan memadai di Indonesia bagian timur. Belanja infrastruktur pemerintah di Indonesia Timur yang meningkat diharapkan mampu mendorong mobilitas masyarakat di sana dan efeknya, jasa telekomunikasi di sana meningkat.


TLKM perlu ekspansi untuk menstimulasi pertumbuhan perusahaan karena perusahaan dalam level steady growth pada top performance dan sebagai pemimpin pasar. Ekspansi ke Indonesia Timur dengan memperkuat layanan selular dan data diharapkan menjadi motor pertumbuhan. Ekspansi juga dapat dilakukan dengan mengakuisisi operator selular lain di kawasan Asia Tenggara maupun ekspansi ke negara-negara berkembang lainnya.

Lini bisnis lain seperti electronic money yang berpotensi besar diharapkan mampu mendorong pendapatan perusahaan dimasa mendatang. Industri uang virtual ini masih belum menjadi tren di Indonesia, namun di masa mendatang diharapkan akan tumbuh.

Jika diimplementasikan, wacana perubahan peraturan Kemenkominfo tentang kenaikan harga kartu perdana untuk telepon selular, cenderung akan menekan pendapatan sektor telko termasuk TLKM. Selain itu, berkembangnya WiMax atau layanan nirkabel yang mencakup area hingga 10 Km atau lebih dan memungkinkan penggunanya mengakses data dengan biaya murah atau cenderung gratis akan menjadi ancaman bisnis ini.

Selain itu, kendala yang dihadapi semua oprator selular, termasuk TLKM lewat anak usahanya Telkomsel adalah pembagian jaringan radio yang diatur oleh Kemenkominfo. Beberapa kanal yang rawan ter-intercept oleh operator lain atau peralatan militer dan keamanan nasional lain, membuat beberapa operator enggan untuk mengikuti aturan pembagian jatah kanal frekuensi radio. Akibatnya perang perpindahan kanal radio akhirnya justru menekan pendapatan dari sisi selular karena terbatasnya kanal frekuensi yang disediakan pemerintah.