Showing posts with label Astra Agro Lestari. Show all posts
Showing posts with label Astra Agro Lestari. Show all posts

Friday, September 12, 2014

Kinerja Astra Agro Tumbuh Didorong Kemitraan dengan KLK Plantations

Jakarta, 12 September 2014 - PT Astra Agro Lestari, Tbk (AALI) membukukan kinerja keuangan yang meyakinkan pasca bekerja sama dengan KL-Kepong Plantation Holdings dari Malaysia. Pendapatan Astra Agro tumbuh hingga 45,7% mencapai Rp 8,01 triliun  selama semester pertama 2014 dengan   penjualan produk turunan crude palm oil (CPO) terbesar kepada Astra-KLK. Kenaikan pendapatan tersebut mendorong kenaikan laba hingga 90,9% menjadi sebesar Rp 1,37 triliun.



Astra-KLK merupakan anak usaha yang dibentuk bersama KL-Kepong Plantations dengan komposisi kepemilikan saham 49% untuk Astra Agro dan 51% untuk KL-Kepong Plantations. Astra-KLK mulai beroperasi sejak akhir tahun 2013 lalu dengan nilai investasi untuk pembangunan pabrik pengolahan produk turunan CPO oleh Astra Agro senilai hingga US$ 70 juta dengan kapasitas produksi hingga 2.000 ton hari

Dari sisi Astra Agro, kerjasama ini menguntungkan karena dapat menjual produk turunan CPO yang bernilai lebih tinggi kepada Astra-KLK yaitu olein (salah satu produk turunan CPO) tersebut hingga 92 ribu ton selama semester pertama 2014 ini. Pada periode sebelumnya, Astra Agro hanya menjual CPO dan kernel palm oil yang harga jualnya relatif lebih rendah dibandingkan olein. Keuntungan ini masih ditambah dengan dividen yang diterima oleh perusahaan dari Astra-KLK.

KL-Kepong Plantations merupakan anak usaha Kuala Lumpur Kepong Holdings (KLK), perusahaan perkebunan berbasis di Malaysia yang juga mempunyai lahan perkebunan hingga 140 ribu hektar di Indonesia. KLK juga mempunyai unit usaha oleochemical atau pengolahan olein yang dihasilkan dari CPO untuk digunakan di industri pelumas, tekstil, kebersihan, kosmetik, obat, polymer, makanan, cat, tinta, karet dan energy. Dengan kerja sama dengan Astra Agro tersebut, KLK dapat memperoleh pasokan olein yang merupakan bahan baku industri manufakturnya.

Kontribusi penjualan Astra Agro kepada Astra –KLK mencapai Rp 1,10 triliun atau berkontribusi hingga 13,71% dari total pendapatan. Sementara itu volume penjualan CPO perusahaan menunjukkan penurunan 10,3% menjadi 675 ribu ton seiring pengalihan produksi yang diolah kembali menjadi olein. Sedangkan, volume penjualan kernel oil tercatat naik hingga 8,1% menjadi sebesar 175 ribu ton.

Marjin laba kotor juga naik seiring dengan peningkatan harga jual produk perusahaan menjadi 31,1% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 26,5%.

Laba sebelum beban bunga, pajak, penyusutan dan amortisasi (EBITDA) Astra Agro juga tercatat naik hingga 95% menjadi sebesar Rp 2,38 triliun, sehingga marjin EBITDA tercatat 25,0% dibandingkan periode yang sama tahun 2013 yang hanya 17,2%. Pertumbuhan EBITDA yang hampir dua kali lipat ini menunjukkan secara operasional profitabilitas Astra Agro meningkat.

Dengan pertumbuhan laba tersebut dan didukung kerjasama tersebut, ASCEND melihat bahwa harga saham Astra Agro masih berpotensi naik setidaknya  mendekati rata-rata harga pasar.  Hingga awal September ini posisi PER Astra Agro sebesar 14,96 kali lebih rendah dari PER pasar.


 [RS1]Sebelum paragraph ini sebaiknya dijelaskan hubungan kinerja dengan kerjasama KL-Kepong, karena di paragraph 1 kamu sudah membuat statement bahwa ada hubungan tsb. 

Thursday, September 11, 2014

Kinerja Tumbuh tapi Harga Emiten Perkebunan Masih Murah

Jakarta, 11 September 2014 - Kinerja fundamental beberapa emiten perkebunan menguat selama semester pertama lalu, namun saham emiten tersebut masih cenderung turun sejak 3-5 bulan terakhir, sementara IHSG berada di tren penguatan. Di posisi harga ini, sektor perkebunan masih relatif murah.

Kinerja Indeks Perkebunan
Tercatat secara rata-rata pertumbuhan 4 emiten perkebunan dengan kapitalisasi pasar terbesar (AALI, SMAR, SSMS, LSIP) yang berkontribusi 61% terhadap seluruh sektor perkebunan, membukukan pertumbuhan pendapatan hingga 33,9% dengan pertumbuhan laba bersih hingga 159,0% dan dengan imbal hasil terhadap ekuitas (ROE) keempat emiten tersebut tercatat mencapai 20,4%. Dengan kinerja fundamental yang tumbuh signifikan, emiten tersebut masih mempunyai peluang untuk menalami kenaikan harga.

Rata-rata price multiplier kempat emiten tersebut tercatat di bawah pasar dengan price to earnings ratio (PER) empat emiten tersebut sebesar 14 kali namun lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata PER pasar sebesar 21 kali. 

Salah satu emiten sawit, PT Astra Agro Lestari, Tbk (AALI) membukukan kenaikan laba bersih hingga 90,9% dengan pertumbuhan pendapatan hingga 45,7%. Kenaikan ini didukung  kerjasama pendirian pabrik pengolahan Crude Palm Oil (CPO)  antara Astra Agro dengan KL-Kepong Plantation Holdings yang terealisasi sejak akhir tahun lalu.

Pabrik pengolahan sawit  ini mempunyai kapasitas produksi hingga 2.000 ton per hari, dibangun dengan komposisi kepemilikan saham 49% dari Astra Agro dan 51% dari KL-Kepong Plantations. Bahan baku pabrik akan dipenuhi oleh Astra Agro, sehingga penjualan CPO Astra Agro pun dapat terjaga.

Dengan pertumbuhan laba tersebut dan didukung kerjasama tersebut, ASCEND yakin harga saham Astra Agro akan mampu bergerak naik hingga mendekati rata-rata harga pasar, yaitu di sekitar Rp 35.000.

Emiten lainnya, PT SMART, Tbk (SMAR) yang merupakan emiten sawit dengan perputaran aset tertinggi dengan membukukan penjualan hingga Rp 17,43 triliun atau 1,79 kali terhadap total asetnya juga masih mempunyai potensi kenaikan.

Tingginya perputaran SMART ini didorong oleh penjualan terhadap pihak berelasi baik di dalam dan di luar negeri yang mencapai 68%. Dengan penjualan yang signifikan terhadap pihak berelasi tersebut, SMART  dapat mengamankan target penjualan dimasa mendatang.

Namun harus diwaspadai bahwa penjualan yang didominasi kepada pihak berelasi, SMART  hanya membukukan marjin terbatas meskipun perputaran tinggi. Marjin laba kotor yang dibukukan SMART  tercatat sebesar 14,1% dibandingkan emiten sawit lainnya dengan rata-rata 33,9%.

Selain itu, sifat operasional SMART yang mayoritas didominasi pengolahan dan penyulingan produk CPO dan turunannya yang menyumbang total pendapatan hingga 72%, membuat biaya langsung untuk produksi cukup tinggi sehingga menekan marjin.

Meskipun demikian karena kinerja SMART tumbuh paling tinggi dibandingkan emiten sawit lainnya, ASCEND melihat potensi kenaikan harga saham SMART  masih cukup terbuka. PER  SMART relatif masih rendah, hanya 9,53 kali atau lebih rendah dibandingkan dengan pasar dan rata-rata emiten sawit lainnya. Selain itu profitabilitas dan imbal hasil tercatat cukup tinggi yaitu dengan ROE sebesar 25,9% dan kenaikan laba bersih hingga 20,8% menjadi Rp 960,70 miliar juga diharapkan mampu mendorong kenaikan harga sahan SMART.


Emiten sawit lain yang cukup menarik adalah PT London Sumatera Plantations, Tbk (LSIP) yang tergabung dalam konglomerasi grup Salim. Lonsum  membukukan profitabilitas yang signifikan. 

Lonsum  tercatat membukukan pertumbuhan laba hingga 162,7% setelah didukung oleh kenaikan pendapatan hingga 23,1%. Tercatat laba kotor naik 101,6% dengan kenaikan marjin laba menjadi 36%, didorong oleh kenaikan harga dan penurunan volume penjualan. 

Turunnya volume penjualan produk CPO Lonsum  disebabkan karena turunnya penjualan pihak ketiga. Sementara penjualan produk CPO kepada PT Salim Ivomas Pratama, Tbk (SIMP) yang terafiliasi, justru tercatat naik 38% menjadi 72% dari total volume CPO yang dijual. Permintaan CPO dari pihak ketiga yang masih rendah di awal tahun membuat volume penjualan CPO oleh Lonsum masih rendah. 

Pendapatan Lonsum sebagian besar adalah kepada sesama emiten grup Salim yaitu PT Salim Ivomas Pratama, Tbk (SIMP) yang mencapai 62,8%. Tapi meskipun penjualan signifikan terjadi kepada pihak berelasi, marjin laba kotor Lonsum terjaga hingga 36,1%.

Dibandingkan dengan SMART yang penjualannya juga didominasi kepada pihak berelasi, marjin Lonsum masih tinggi karena produksinya berasal dari kebun sendiri. Sebaliknya SMART lebih banyak mendatangkan bahan baku CPO dari pihak ketiga.

ASCEND melihat potensi kenaikan saham Lonsum masih terbuka seiring kinerja bottom line yang naik signifikan. Dengan PER sebesar 13,80 kali, maka potensi tumbuh hingga mencapai PER rata-rata pasar masih terbuka.


Emiten sawit lainnya yaitu Sawit Sumber Mas (SSMS) yang tercatat mempunyai kapitalisasi pasar relatif besar hingga Rp 13 triliun, namun nilai aset yang tercatat hanya sebesar Rp 3,61 triliun. PBV yang tinggi hingga 5,23 kali dengan PER 17,88 kali, ASCEND saat ini tidak merekomendasikan   karena sudah menunjukkan nilai di atas harga pasar.


Thursday, August 7, 2014

Harga CPO Diprediksi Turun Semester Depan, Saham Perkebunan Tertekan

Jakarta, 8 Agustus 2014 – Dalam 1 bulan terakhir ini indeks perkebunan mencatatkan kinerja yang lebih rendah dibandingkan indeks komposit. Hal ini dikarenakan prediksi penurunan harga CPO yang akan terjadi pada semester kedua tahun ini. Padahal fundamental saham-saham perkebunan di semester I sangat baik.

RAM Rating Services, sebuah perusahaan pemeringkat kredit di Malaysia, memprediksikan bahwa harga CPO di semester 2 akan berkisar di antara RM 2300 – 2500. Semester pertama mencatatkan harga jual CPO di rata-rata RM 2736. Penurunan harga ini disebabkan oleh tertundanya badai tahunan El-Nino, serta ditundanya proyek bio-diesel di Indonesia maupun Malaysia yang rencananya selesai pada tahun ini.

Emiten-emiten perkebunan mengalami kenaikan tingkat pertumbuhan yang signifikan yang didorong oleh kenaikan produksi. Di sisi lain, kenaikan produksi ini ikut menekan harga dunia karena Indonesia dan Malaysia bersama-sama merupakan pemasok 86% CPO dunia.  

Kekuatiran akan penurunan harga ini telah melemahkan kinerja harga saham-saham perkebunan sejak pertengahan bulan Juni. Selama 1 bulan terakhir, indeks perkebunan telah turun 4,2% dibandingkan IHSG yang naik 1,4% paska pemilihan presiden.

Sementara itu catatan kinerja emiten perkebunan yang cukup baik terlihat tidak berhasil memberikan dampak apapun di pasar, karena memang harga jual rata-rata tahun ini lebih baik daripada tahun sebelumnya.

Pertumbuhan pendapatan dan laba bersih PT Astra Agro Lestari, Tbk (AALI), PT PP London Sumatra Plantations, Tbk (LSIP), PT Sampoerna Agro, Tbk (SGRO), dan PT Gozco Plantations, Tbk (GZCO) dapat dikatakan fantastis. Gozco misalnya mencatatkan kenaikan pendapatan 61,8% sementara Sampoerna Agro mencatatkan kenaikan laba bersih 595,1%. Pertumbuhan ini didorong oleh kenaikan volume produksi keempat emiten.

Sampoerna Agro mencatat produksi Tandan Buah Segar (TBS) 691.942 ton pada 6M14, atau lebih tinggi 37% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ekstraksi minyak saat buah diproses di pabrik pengolahan juga turut mendorong kenaikan ini. Harga jual rata-rata adalah  Rp8.865 per kg pada semester I 2014, atau 38% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2013.

Lonsum mencatatkan kenaikan pendapatan 23,1% didorong oleh pertumbuhan volume produksi CPO dan inti sawit masing-masing sebesar 24,0% dan 28,1%. TBS yang diproses meningkat 23,3% menjadi 914.298 ton di semester I 2014. Dua faktor utama adalah peningkatan TBS eksternal yang diproses dan peningkatan  produktivita TBS inti menjadi 8,6 ton/ ha.

Astra Agro mencatatkan penurunan volume penjualan, namun peningkatan harga jual menjadi Rp 8.728 dari periode sebelumnya telah membuat perusahaan mencatat kenaikan pendapatan 45,7% dan kenaikan laba bersih 90,9%.


ASCEND merekomendasikan investor untuk BUY saham-saham perkebunan secara selektif. Lonsum misalnya masih lebih murah dibandingkan Astra Agro walaupun dari sisi kinerja tidak memiliki perbedaan yang signifikan, bahkan sedikit lebih baik di beberapa unsur. Sementara itu Sampoerna Agro yang harganya masih di bawah rata-rata saham emiten perkebunan berfundamental baik lainnya juga merupakan emiten yang dapat dipertimbangkan. 

Wednesday, January 22, 2014

PLN Gunakan Palm Oil CEKA dan SMAR, Bagaimana Kinerjanya Kedepan?



Jakarta, 22 Januari 2014 - PT Pembangkit Listrik Negara (PLN) tahun ini berencana menambah penggunaan minyak sawit sebagai bahan bakar pembangkit listrik diesel yang akan dipasok oleh PT Smart, Tbk. (SMAR) dan PT Wilmar Cahaya Indonesia, Tbk. (CEKA). Dampak jangka pendek belum akan dirasakan, tapi dalam jangka panjang berpotensi sangat baik.

Dalam pernyataan kepada publik, Nur Pamudji, Direktur Utama PLN, Senin (20/1) kemarin, menyatakan telah bekerja sama dengan beberapa perusahaan sawit di antaranya Smart dan Wilmar.

Kerjasama juga direncanakan dengan PT Astra Agro Lestari Tbk, (AALI) tetapi masih dalam proses perjanjian. Wacana kerja sama ini telah beredar di pasar pada November tahun kemarin dan baru disetujui oleh PLN dengan kedua emiten tersebut pada bulan Januari ini.

Dari sisi PLN, penggunaan sawit sebagai bahan bakar akan menekan biaya produksi hingga 15% dibandingkan mengunakan minyak diesel yang berasal dari minyak bumi. Harga yang disepakati oleh PLN terhadap kedua emiten tersebut sebesar 91,37% dari harga minyak bumi pasar Singapura (MOPS), masih di bawah minyak diesel konvensional.

Dengan penggunaan BBM berbasis nabati ini diharapkan akan menekan beban subsidi negara yang setiap tahun mencapai Rp 50 triliun lebih untuk subsidi listrik.

Dari sisi emiten, SMAR dan CEKA diuntungkan atas perjanjian ini. Di saat harga komoditas CPO dunia tertekan selama setahun terakhir, kedua emiten tersebut dapat mengamankan target penjualan dengan memasok PLN yang berpatokan pada harga hampir setara dengan harga minyak bumi sehingga berpotensi mendapatkan marjin yang lebih tinggi.

Namun, sejauh ini rencana kontrak kerja sama PLN ini, masih relatif kecil yaitu sebesar Rp 63 miliar dengan menargetkan penggunaan PPO selama 2014 hingga 6.720 ton yang dipasok oleh SMAR sebesar 3.320 ton dan CEKA sebesar 3.400 ton.

Jika dilihat dari sisi pergerakan saham kedua emiten tersebut, yaitu SMAR menunjukkan penguatan sejak Desember akhir tahun lalu, sementara CEKA justru bergerak fluktatif sejak November dan baru dalam tren menguat di awal tahun.


Sementara itu, indeks sektor perkebunan yang pergerakannya didominasi AALI, dan saham AALI sendiri, telah menunjukkan reli sejak Agustus 2013 lalu.
Sementara itu, jika dilihat dari kinerja fundamental ketiga emiten tersebut, selama kuartal ketiga 2013, CEKA, SMAR maupun AALI membukukan penurunan laba bersih, penurunan terbesar dicatatkan oleh CEKA karena dibebani kenaikan beban usaha hingga hampir 2 kali dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Namun, dari sisi pendapatan, CEKA selama tiga kuartal tahun lalu justru membukukan kenaikan hingga 103,09% dibandingkan dengan periode sebelumnya, sementara yang lain justru tertekan.

CEKA juga membukukan nilai PER dan PBV yang terendah sajauh ini dibanding kedua emiten lainnya, sedangkan SMAR membukukan return on equity (ROE) tebesar di antara ketiganya.

Dari faktor likuiditas di pasar, AALI merupakan yang paling likuid, di mana rasio volume perdagangan terhadap saham floating (<5%) yang terbesar hingga 0,50%.
AFN melihat, meskipun PLN meningkatkan permintaan terhadap sawit, namun dalam jangka pendek 1-2 tahun kedepan hal ini belum mampu mendorong penjualan processed palm oil (PPO) emiten-emiten sawit tersebut. Target kontrak PLN dalam satu tahun ini saja hanya Rp 63 miliar, sementara total penjualan ketiga emiten yang sudah mendapat kontrak kerjasama maupun yanga masih dalam proses mencapai Rp 26,78 triliun.

Namun, jika dalam jangka panjang komitmen ini ditingkatkan, tidak menutup kemungkinan saham sektor perkebunan suatu saat akan berubah menjadi sektor energi, namun hal itu pun masih perlu sarana dan prasarana yang besar juga.

Sunday, December 1, 2013

Ekspansi Perkebunan Tertahan, Rekomendasi: Mulai Koleksi



Jakarta, 2 Desember 2013 – Beberapa emiten perkebunan memangkas belanja modal (capital expenditure) tahun depan karena ekspektasi harga yang masih mungkin melemah. Walaupun demikian, saat ini mungkin saat yang paling tepat untuk mulai mengkoleksi saham sektor ini.  

PT BW Plantation Tbk (BWPT) akan menganggarkan belanja modal 30% lebih rendah daripada tahun ini, yaitu hanya Rp 700 miliar. Sebesar Rp 400 miliar akan digunakan untuk perawatan tanaman yang masih muda dan menanam 4.000 hektare lahan baru, Rp 50 miliar untuk pembangunan dermaga dan infrastruktur jalan, Rp 50 miliar untuk pembebasan lahan, dan Rp 100 miliar untuk perawatan pabrik. 

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) juga menurun. Rencananya, capex tahun depan hanya sebesar Rp 2,5 – 3 triliun, dibandingkan Rp 3,5 triliun tahun 2013 ini. 

PT Salim Ivomas Pratama, Tbk (SIMP) sebaliknya akan menyiapkan belanja modal lebih tinggi yaitu sebesar Rp 2,5 – 3 triliun dibandingkan tahun ini yang tercatat Rp 2,4 triliun. Sebagian besar belanja modal ini adalah untuk pengembangan hilir di produk minyak goreng dan nabati. Tampak hal ini memberikan konfirmasi bahwa perusahaan ini pun tidak melakukan belanja modal besar untuk sektor hulunya. 

Analis melihat bahwa emiten perkebunan cenderung konservatif karena melihat kinerja tahun ini yang masih negatif. Konservatisme ini cukup beralasan, terutama bagi perusahaan perkebunan yang tidak memiliki industri hilir, sehingga paling tertekan.

Satu-satunya yang berbeda adalah PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA), yang menyiapkan belanja modal sebesar Rp1 triliun pada 2014. Dana akan digunakan untuk pengoperasian pabrik gula rafinasi, perawatan kebun sawit dan penambahan kebun tebu. Pengoperasian pabrik gula membutuhkan dana Rp500 miliar, sedangkan sisanya untuk perawatan rutin dan penambahan kapasitas tebu. Pendapatan 2014 ditargetkan mencapai 3,8 triliun dibandingkan estimasi tahun ini Rp3,2 triliun.

Sebagian besar emiten perkebunan memang mencatatkan penurunan pendapatan dan laba bersih. BW Plantation masih mencatat pertumbuhan pendapatan positif 2,8%, tetapi laba bersihnya turun 51,6%.
Pendapatan Astra Agro turun 2,9%  sementara laba bersihnya turun 45,5%. Salim Ivomas bernasib sama dengan pendapatan dan laba bersih masing-masing turun 9,4% dan 82,3%. Demikian pula Tunas Baru yang pendapatan dan laba bersihnya turun 15,6% dan 66%. 

Walaupun ekspansi dipangkas, namun tampaknya saham perkebunan sudah mulai kembali mendapatkan tempat di portofolio. Salim Ivomas sudah naik dari level terendahnya di Rp 590 menjadi Rp 850. Astra Agro melonjak ke Rp 22.850 dari titik terendahnya tahun ini di Rp 13.100. Demikian juga BWPT yang melesat ke Rp 1.340 dari Rp 510. 

AFN melihat bahwa harga komoditi yang melemah, walaupun masih akan menekan kinerja fundamental tahun 2014, akan tetapi sudah selesai didiskon oleh pasar. Pasar tidak lagi melihat akan adanya faktor tekanan yang terlalu besar terhadap saham perkebunan, sehingga mengkoleksi saham perkebunan mulai dari sekarang adalah strategi yang paling tepat.
 

Monday, August 26, 2013

Harga CPO Naik, Astra Agro Catatkan Pertumbuhan Penjualan

Jakarta, 27 Agustus 2013 - Harga minyak sawit naik tertinggi selama 8 bulan akibat cuaca yang tidak baik bagi kedelai. Kenaikan ini akan dirasakan Astra Agro Lestari di kuartal keempat 2013 dan pertama 2014. Sementara itu, sampai bulan Agustus, AALI mencatatkan pertumbuhan penjualan 14,1%.

Harga sawit naik karena kekuatiran bahwa panen kedelai di Amerika Serikat, produser terbesar kedelai, tidak mampu memenuhi kontrak akibat cuaca yang kering. Akibatnya kontrak untuk delivery November naik 3,6% menjadi RM 2.451 ($743) per metrik ton di Bursa Derivatif Malaysia. Kenaikan ini tertinggi sejak 21 Desember di RM 2.440.

Sementara itu PT Astra Agro Lestari, Tbk (AALI) mencatatkan volume penjualan CPO sebesar 884.180 ton, naik 14,1%. Kenaikan ini adalah hasil dari kenaikan produksi CPO sebesar 8,2% pada tujuh bulan pertama tahun 2013. Sebesar 868.681 ton adalah penjualan lokal sementara ekspor sebesar 15.499 ton, dengan kenaikan masing-masing sebesar 14,1% dan 14,9%. Namun untuk harga
yang diperdagangkan turun sebesar 14,1%.
Sumber: Rilis perusahaan

Pada periode ini, kontribusi kenaikan volume penjualan kernel sebesar 71,5% atau sebesar 186.191 ton, dengan harga rata-rata penjualannya sebesar Rp 2.967 /kg turun sebesar 25,1% dari Rp
3.962 /kg di tahun 2012.

Produksi CPO AALI sampai dengan bulan Juli 2013 mencapai 835.094 ton. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, produksi CPO AALI Januari – Juli 2013 meningkat sebesar 8,2%. Selama periode tersebut, produksi TBS AALI mencapai 2,84 juta ton, turun sebesar 4,5% dengan yield
rata-rata sebesar 11,86 ton /ha. Dari seluruh TBS AALI yang dihasilkan, 42% berasal dari area Sumatera, sementara area Kalimantan dan Sulawesi masing-masing memberi kontribusi sebesar 38,7% dan 19,3%.

AFN ekspektasi bahwa kenaikan harga CPO ini akan berdampak positif kepada pendapatan AALI di kuartal keempat 2013 dan kuartal pertama 2014.Namun di pasar modal, ekspektasi ini sudah mengejawantah menjadi peningkatan harga yang sangat signifikan apalagi di dalam pasar yang sedang bearish.

Dalam laporan keuangan AALI untuk Semester I tahun 2013, AALI mencatatkan pendapatan bersihnya sebesar Rp 5,5 triliun atau turun sebesar 2,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 5,6 triliun, dengan perolehan laba bersih sebesar Rp 717 miliar turun sebesar 25,2% dari Rp 958,6 miliar pada tahun lalu, hal ini sebagai dampak dari turunnya harga CPO AALI sepanjang Semester I tahun 2013 sebesar 15,8%, yaitu dari Rp 7.886 /kg pada periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 6.638 /kg.

AALI: Harga Sudah Terbang Mengantisipasi Kenaikan Pendapatan


Sampai dengan Juli 2013, Malaysia meningkatkan produksi CPO menjadi sebesar 10,07 juta ton, meningkat sebesar 5,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yaitu sebesar 9,51 juta ton. Kenaikan produksi tersebut utamanya berasal dari perolehan produksi di bulan Juli yang mencapai 1,68 juta ton. Sementara untuk perkiraan produksi CPO Malaysia tahun 2013 mencapai 19,23 juta ton atau naik sebesar 2,4% dari produksi tahun lalu sebesar 18,79 juta ton.