Tuesday, June 18, 2013

APBN-P, Belum Cukup Jadi Stimulus

APBN-P sudah ditetapkan. Namun rasanya revisi anggaran ini masih jauh dari stimulus ekonomi, terutama karena kurangnya penyerapan anggaran serta biaya subsidi energi yang tetap meningkat.

APBN-P 2013 menyepakati penambahan dana belanja barang Rp 11,98 triliun dan belanja modal Rp 1,25 triliun, serta tambahan belanja bantuan sosial Rp 9,32 triliun. Sebanyak Rp 9,09 triliun tambahan ini mengalir ke Kementerian Pekerjaan Umum yang akan digunakan untuk program pembangunan infrastruktur pedesaan (PPIP), membangun iritasi (Rp 1 triliun), dan perbaikan jalan nasional (Rp 900 miliar).Namun dari total alokasi dana tersebut, Komisi V DPR baru menyetujui tambahan Rp 6 triliun.

Selain itu, Wakil Menteri Keuangan Anna Rachmawati mengumumkan bahwa realisasi belanja negara sampai 7 Juni 2013 baru Rp 541,9 triliun atau setara 32,2% dari total budget belanja di APBN, apalagi dibandingkan APBN-P. Penyebabnya adalah realisasi belanja modal yang hanya 14,4%, padahal belanja inilah yang akan paling mendorong pertumbuhan ekonomi.

Biaya subsidi BBM juga malah meningkat jadi Rp 299,8 triliun dari sebelumnya Rp 247,7 triliun, padahal bensin premium dinaikkan menjadi Rp 6.500/liter dan solar jadi Rp 5.500/liter.Artinya tidak ada dana subsidi BBM yang kemudian disalurkan untuk menjadi stimulus ekonomi.

Jadi, bagaimana dampaknya? Beberapa analis memperkirakan pertumbuhan ekonomi tidak akan mencapai target 6,3% tahun ini, melainkan hanya di sekitar 6%. Stabilitas ekonomi dunia yang lebih baik sekarang juga mendorong beberapa pelaku pasar modal untuk kembali mengarahkan fokus ke bagian dunia lain, walaupun investor domestik sampai kini masih memiliki cukup modal untuk menampung net sell asing beberapa hari ini.


Monday, June 17, 2013

Sarana Menara Kaji Akuisisi dari Telkom

Sarana Menara Nusantara (TOWR), perusahaan menara telekomunikasi milik Grup Djarum, mengkaji rencana akuisisi menara atau saham PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel), anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom). Presdir TOWR menegaskan kesanggupan dana untuk membeli 200-250 menara dari aset Mitratel .

Kompetisi TOWR dalam akuisisi ini adalah PT Tower Bersama Infrastructure (TBIG), PT Inti Bangun Sejahtera (IBST), dan PT Solusi Tunas Pratama (SUPR)

Mitratel pada saat ini memiliki aset sebanyak 3000 menara, dan sedang dalam proses mengambil alih sekitar 14.000 menara milik Telkomsel. Sementara Sarana Menara memiliki 8.992 menara dengan jumlah tenant sebanyak 16.195.


AFN melihat bahwa TOWR memiliki kas terbesar, dengan likuiditas yang baik. Kompetitor TOWR terbesar adalah SUPR dengan posisi kas yang tidak selisih banyak dan memiliki posisi leverage yang lebih baik. 

PNM Akan Terbitkan Obligasi Rp 1 T



Permodalan Nasional Madani (PNM), perusahaan modal ventura, menerbitkan Obligasi II PNM Tahun 2013 sebesar Rp 1 T dengan jangka waktu 5 tahun, dibayarkan tiap 3 bulan. Dana ini akan digunakan untuk pemberian modal kepada perusahaan kecil dan mikro. Tidak ada agunan khusus atas obligasi ini, dan senioritasnya tidak lebih tinggi daripada utang-utang lainnya. Pefindo telah memberikan rating A+.
Dana ini akan digunakan 40% untuk refinancing, dan 60% untuk peningkatan modal kerja. Refinancing akan digunakan untuk membayar sebagian dari utang bank dalam usaha menekan beban pokok pendapatan.

Saat ini kegiatan usaha melingkupi: bisnis Pembiayaan langsung ke UMK, ke lembaga keuangan mikro, kredit program, jasa manajemen dan kemitraan, penyertaan melalui anak usaha, serta pengelolaan dana melalui anak usaha. Tingkat kesehatan perusahaan menurut SK Menteri Keuangan selama 5 tahun berturut-turut 'sehat sekali'.

AFN memandang bahwa obligasi ini menarik karena beberapa hal:
1. Pendapatan usaha yang diperoleh PNM bertumbuh sangat cepat, CAGR 56% dalam 5 tahun, dengan pertumbuhan laba yang bertumbuh 36,5%. Ini mencerminkan besarnya kebutuhan dana modal bagi perusahaan-perusahaan kecil dan mikro yang sulit untuk dijangkau sistem perbankan, dan seiring dengan indikasi bahwa ada geliat ekonomi mikro yang kini sedang berusaha ditangkap oleh semua bank-bank nasional dan asing di Indonesia.
2. Tingkat keamanan yang cukup tinggi mengingat produk-produk ini melihat kepada kesediaan bank-bank untuk terus memberikan pinjaman.

Akan tetapi beberapa hal perlu diwaspadai adalah:
1. ROE yang rendah hanya kurang dari 8% di tahun lalu, padahal ROE BPR mencapai 20%.
2. Tekanan suku bunga dan inflasi yang tinggi dapat mendorong kenaikan beban bunga sehingga menekan kemampuan perusahaan membayar.


Lippo Tawarkan REIT



Grup Lippo, melalui Overseas Union Enterprise Ltd, sekali lagi menawarkan Real Estate Investment Trust (REIT) di Bursa Singapura antara 1-15 Juli. Target perolehan dana sekitar S$ 800 juta atau US$ 638 juta. Separuh dana tersebut akan dialokasikan kepada investor cornerstone, yaitu investor yang berkomitmen memegang instrumen tersebut untuk periode tertentu.

Overseas Union Enterprise Ltd (OUE), memperoleh sekitar 65% pendapatannya dari operasional hotel dan sedang merencanakan mendorong kepemilikan propertinya yang mencakup menara perkantoran, apartemen mewah, dan mal.Sejak 2006, OUE sudah agresif investasi sebesar US$ 1,1 miliar.

OUE tahun lalu membeli Crowne Plaza Singapore yang menghubungkan Bandara Changi dan menyelesaikan pembangunan ulang OUE Bayfront di Marina Bay. OUE juga membeli DBS Towers Satu dan Dua di distrik finansial. 

Adanya investor corner menunjukkan bahwa instrumen yang akan dikeluarkan Lippo ini dapat dipercaya. Produk bertajuk OUE Hospitality ini diperkirakan memberikan imbal hasil sekitar 6%.

Grup Lippo sudah menerbitkan 2 REIT sebelumnya, yaitu First REIT dan LMIR. Aset First REIT adalah rumah sakit-rumah sakit ternama bermerek Siloam di Indonesia, Pacific Healthcare di  Singapura dan Sarang di Korea Selatan. LMIR adalah singkatan dari Lippo Malls Indonesia Retail Trust dimana asetnya termasuk Gajah Mada Plaza, Mal Lippo Cikarang, Plaza Semanggi dan sebagainya.

REIT dijual di Singapura karena di Indonesia ada keterbatasan regulasi. Aturan Bapepam melarang produk ini diinvestasikan pada tanah kosong atau properti yang masih dalam tahap pembangunan. Selain itu juga tidak diperbolehkan pada real estate atau aset yang berkaitdan dengan real estate di luar wilayah Indonesia. Diskusi dengan pelaku pasar, REIT di Indonesia juga memiliki kendala dari sisi perpajakan yang pada akhirnya tidak menguntungkan bagi investor REIT.

Dari sisi pasar, REIT di Indonesia belum menarik karena belum adanya pasar yang tersosialisasikan tentang produk ini dengan baik. Alhasil, likuiditas kecil. Bandingkan dengan pasar di Singapura yang sudah lebih familiar.

Baru 1 perusahaan yang menerbitkan REIT yakni PT Ciptadana Asset Management (CAM) pada tahun lalu dengan aset Solo Grand Mall dengan perkiraan imbal hasil 10% per tahun.

Grup Lippo memilih penerbitan REIT untuk mencari pendanaan eksternal karena pada prinsipnya produk ini merupakan cara non-utang tapi juga tidak menimbulkan dilusi bagi pemilik aset.

Sunday, June 16, 2013

BATA akan Menumbuhkan Pasar Ekspornya

Sepatu Bata (BATA)  berambisi memperbesar penjualannya ke pasar luar negeri, menurut Kontan 17 Juni 2013, dan sedang menjajaki sejumlah negara baru sebagai pasar untuk beberapa produknya. Selama 3 tahun ke depan, BATA menargetkan pertumbuhan penjualan ekspor sebesar 10% per tahun. Pasar yang dijajaki adalah Amerika Selatan dan Afrika.

Hingga akhir 2012, BATA telah mengekspor produknya ke 14 negara, termasuk di kawasan Asia Pasifik, Afrika, Amerika Selatan, dan Timur Tengah. Beberapa negara tujuan ekspornya termasuk Kenya, Zambia, Zimbabwe, Peru, Chile, Perancis, Italia, dan Rusia.

Target ekspor BATA tahun 2013 adalah Rp 8,27 miliar, atau naik 49% dibandingkan tahun 2012 sebesar Rp 5,55 miliar. 

Sampai dengan akhir 2012, penjualan ekspor masih berkontribusi kurang dari 5% terhadap total penjualan perusahaan, atau sebesar Rp 35,83 miliar.  Pertumbuhan penjualan ekspor juga hanya 4,8% di tahun 2012, lebih rendah daripada pertumbuhan penjualan di pasar domestik sebesar 11,1%. Hal ini tidak berubah banyak pada laporan keuangan kuartal I-2013.

AFN melihat beberapa manfaat dari BATA untuk mengeksplorasi pasar ekspor:
1. BATA memiliki strategi jangka panjang yang jelas. Dengan memasuki pasar ekspor sekarang, ketika banyak perusahaan-perusahaan sepatu yang sudah ternama memiliki kesulitan untuk mendapatkan pasar di kelas-kelas ekonomi menengah ke bawah karena krisis, BATA dapat mencaplok sebagian pangsa itu. Dan ketika krisis sudah pulih, merek BATA di pasar ini juga sudah solid.
2. Dengan memasuki pasar yang lebih luas, BATA memiliki kesempatan untuk mempercepat perputaran persediaan yang kini di angka 1,8x, atau 202 hari.

Akan tetapi AFN juga mengkuatirkan beberapa hal;
1. Arus kas operasional turun di tahun 2012, di tengah kenaikan penjualan. Hal ini berarti bahwa BATA belum memasuki periode "cash-cow" dari operasi intinya. Dengan demikian, ada kemungkinan penetrasi ke pasar baru ini akan menggunakan dana eksternal mengingat posisi kas BATA yang hanya Rp 6,5 miliar. Positifnya, tingkat leverage BATA masih meninggalkan ruang cukup luas untuk meningkatkan utang sebagai alternatif pendanaan. Rasio DER baru 0,45x dan tidak ada utang jangka panjang berbunga.
2. Beban penjualan dan pemasaran dapat meningkat dan menekan laba bersih. Di tahun 2012, beban penjualan tercatat 22,5% dari total penjualan. Sementara di 1Q 2013, beban itu tercatat 25%, dengan peningkatan terbesar terjadi pada biaya sewa toko.


Sumber: Laporan Tahunan Perusahaan 2012