Showing posts with label Obligasi. Show all posts
Showing posts with label Obligasi. Show all posts

Wednesday, January 28, 2015

Logindo Terbitkan Obligasi di Singapura untuk Tingkatkan Pangsa Pasar

 Jakarta, 28 Januari 2015 – PT Logindo Samudramakmur, Tbk (LEAD) menyatakan akan mencatatkan obligasi yang diperdagangkan di Bursa Efek Singapore  senilai S$ 50 juta dengan tingkat kupon 2,93% dan tenor 5 tahun. Perusahaan pemeringkat Standard & Poor’s memberikan peringkat AA- untuk obligasi perseroan ini. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan pangsa pasar. Informasi ini ternyata direspon baik oleh pasar.

Hasil dari penerbitan obligasi ini akan digunakan perseroan untuk memperkuat posisi pangsa pasar di dalam industri yang bertumbuh, peningkatan kapasitas operasional dengan pembelian armada-armada baru, dan diversifikasi sumber pendanaan kepada pasar modal global.

Berdasarkan data Research and markets yang dirilis pada bulan Agustus 2013, pasar industri jasa transportasi laut tahun 2013 secara global dinilai sebesar USD 69,3 miliar, yang diestimasikan akan mencapai USD 91,2 pada tahun 2018. Faktor utama yang mendorong pertumbuhan tersebut ialah meningkatnya permintaan minyak dan gas pasar global, pertumbuhan aktivitas eksplorasi dan produksi serta meningkatnya jumlah anjungan lepas pantai.

Berdasarkan data BP Migas yang dirilis pada bulan Juni 2013, proyeksi kebutuhan seluruh jenis kapal penunjang operasi lepas pantai yang menggambarkan industri jasa transportasi laut di Indonesia hingga tahun 2015, diperkirakan akan mencapai 235 unit. Kebutuhan jenis kapal penunjang operasi lepas pantai yang menempati posisi pertama di Indonesia adalah kapal AHTS, JR, MPV dan CLB.
Perseroan merupakan penyedia jasa penyewaan kapal penunjang kegiatan lepas pantai (Offshore Support Vessels, OSV) bagi industri minyak dan gas bumi, dengan jumlah armada sebanyak 60 kapal, mencakup 12 jenis kapal seperti: Accommodation Work Barge, Anchor Handling Tug, Anchor Handling Tug Supply, Crew Boat, Diving Support Vessel, Flat Top Barge, Harbour Tug, Hopper Barge, Landing Craft Transport, Tugboat, Platform Supply Vessel, dan Utility Boat.

Perseroan mengoperasikan armada kapalnya di berbagai wilayah di Indonesia meliputi sungai, pesisir pantai serta laut. Selain itu, untuk mendukung kegiatan usaha utama dan pelayanan kepada pelanggan, perseroan mengoperasikan perbaikan dan pemeliharaan yard/workshop di Kalimantan Timur, Indonesia. Kemudian, Perseroan juga menyediakan jasa akomodasi makan dan minum bagi awak kapal dan pelanggan, serta jasa penggantian bahan bakar kapal.

Perseroan memiliki portofolio pelanggan yang terdiri dari perusahaan-perusahaan minyak dan gas bumi lokal maupun multinasional, termasuk Total E&P Indonesie, PT Pertamina Hulu Energi Lepas Pantai Utara Jawa Barat dan ENI Muara Bakau BV. Adanya pemberlakuan asas cabotage untuk Anchor Handling Tug Supply (AHTS) dengan daya di atas 5.000 bhp dengan sistem DP, Platform Supply Vessel (PSV) dan Diving Support Vessel (DSV) mulai tahun 2013 memberikan kesempatan yang lebih luas bagi Perseroan untuk mengembangkan bisnisnya di Indonesia.

Dengan pendanaan baru ini, perseroan selama tahun 2014 – 2018 merencanakan pendapatan tumbuh rata-rata 19,65% per tahun, pertumbuhan laba rata-rata 16,08% per tahun, pertumbuhan aset 16,13% per tahun. Untuk rasio-rasio, perseroan mentargetkan rasio lancar 0,82x, rasio utang atas ekuitas 67,69%, dan imbal hasil atas ekuitas 17,15%.

Pembatasan yang harus diperhatikan oleh perusahaan adalah kekayaan bersih perseroan tidak boleh kurang dari US$ 75 juta, rasio total pinjaman dan kekayaan bersih berwujud tidak boleh lebih dari 3:1, dan rasio EBITDA dengan beban bunga tidak boleh kurang dari 2,75:1. Per tanggal 30 September 2014,  kekayaan bersih perseroan tercatat sekitar US$ 127 juta, rasio total pinjaman dan kekayaan bersih 1,1:1, sementara EBITDA per beban bunga tercatat 6,65:1.





Sunday, December 7, 2014

Indika Energy Cairkan Pinjaman (Lagi), Peringkat Turun 2 Notch

Jakarta, 8 Desember 2014 -  PT Indika Energy Tbk (INDY) menarik pinjaman bank senilai US$ 30 juta. Pinjaman ini kemudian diteruskan ke anak usaha, Indika Capital Investments Pte Ltd (ICI). Rasio utang terhadap ekuitas setelah pencairan ini menjadi 1,5 kali.

ICI merupakan entitas anak yang bergerak di bidang perdagangan batubara. Kendati pasar batubara masih lesu, namun, Indika yakin ICI memiliki kemampuan untuk bisa menjalankan usahanya. Indika dan ICI telah menandatangani perjanjian pinjaman pada 3 Desember 2015.

Pinjaman dicairkan dari Bank Mandiri dan Citibank N.A Cabang Jakarta dengan nilai masing-masing sebesar US$ 20 juta dan US$ 10 juta. Pinjaman ini selanjutnya diberikan ke ICI sebagai utang dari pihak terafiliasi. Anak usaha yang berdomisili di Singapura ini akan menggunakan dana tersebut untuk memenuhi kebutuhan usaha.

Sampai akhir September tahun ini, ICI mencatatkan kerugian US$ 25.981, naik dari tahun lalu sebesar US$ 12.239. Sedangkan Indika sendiri mencatatkan kerugian US$ 9.61 juta, naik dari tahun lalu sebesar US$ 3.20 juta.

Kinerja operasional pemilik Santan Batubara dan Kideco Jaya Agung yang kurang baik ini ditambah dengan kecenderungan untuk terus meningkatkan utang mendorong pelaku pasar untuk menempatkan obligasi Indika di kategori obligasi non investasi (junk bonds), atau turun sekitar 2 notch bila dilihat dari current yield-nya.  

Obligasi senilai US$300 juta dengan kupon 7 persen yang jatuh tempo Mei 2018 sudah turun jadi US$ 84.79 sen untuk tiap dolar. Pada saat diterbitkan at par tahun 2011, Moody’s Investors Service memberikan peringkat B1, sementara Fitch Ratings member peringkat B+.


Harga saham Indika pun terus tertekan sejak September 2014.


Wednesday, January 8, 2014

Obligasi Valas Indonesia Diminati, Emisi Ditambah, Pemerintah Jangan Lengah



Jakarta, 9 Januari 2014 – Penerbitan dua obligasi valas Indonesia ditambah menjadi US$ 4 miliar  dari penawaran awal US$ 3 miliar karena oversubscription cukup besar. Ini mencerminkan tingkat kepercayaan investor asing dalam jangka panjang kepada Indonesia di tengah defisit keseimbangan primer dan pelemahan mata uang. Sebaiknya momentum kepercayaan dan kondisi global ini dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memperkuat infrastruktur dan sistem perdagangan dalam negeri. 

Penawaran 2 seri obligasi valas Indonesia yakni RI 024 bertenor 10 tahun dengan tingkat kupon 5,875% dan RI 044 bertenor 30 tahun dengan tingkat kupon 6,75% yang dilaksanakan pada awal Januari 2014 ini direspon dengan sangat baik oleh pasar international. 

Total penawaran yang masuk untuk kedua obligasi ini mencapai US$17,5 miliar untuk US$3 miliar yang ditawarkan semula, atau oversubscribed sebesar 4,4 kali. Oversubscription ini menunjukkan kepercayaan yang masih besar kepada Indonesia, dan juga merespon kepada situasi pasar finansial global yang masih gonjang ganjing karena belum stabilnya pertumbuhan ekonomi-ekonomi raksasa yaitu Amerika, Eropa, dan Cina. 

Kedua seri obligasi ini paling diminati oleh investor AS (68%), diikuti oleh Eropa (16,5%), Asia tidak termasuk Indonesia (8,5%), serta investor Indonesia sendiri (7%). Sebagian besar penawaran muncul dari asset manager (77%), bank (5%), asuransi dan dana pensiun (17%), dan private banking (1%). Rating BBB+ (stabil) dari Fitch Ratings, BB+ (stabil) dari Standard and Poor’s, dan Baa4 (stabil) dari Moody’s, masih menjadi tolok ukur investor dalam menilai kesehatan fiskal Indonesia, walaupun defisit kesimbangan primer sudah terjadi dan Rupiah terus melemah.

Menteri Keuangan M.Chatib Basri menyatakan bahwa SUN berdenominasi dolar AS itu merupakan bagian dari program Global Medium Term Notes (GMTN) sebesar US$ 25 miliar untuk membiayai sebagian defisit anggaran. Rasio Utang terhadap PDB Indonesia saat ini baru 24,1% dan dianggap relatif cukup aman dengan pertumbuhan ekonomi yang positif.

Walaupun positif tetapi AFN melihat bahwa pemerintah tidak boleh melemahkan upaya memperkuat sektor infrastruktur dan sistem perdagangan berbagai barang dan jasa di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia kini masih positif dibandingkan berbagai negara raksasa lain yang terkena dampak pelemahan global. Tapi hal itu akan cepat berbalik arah, dan ketika itu Indonesia sudah harus siap. 

Penting untuk selalu diingat bahwa walaupun di pasar finansial Indonesia masih diminati, tetapi di sektor riil daya saing Indonesia sangat turun. Ketidakseimbangan kedua pasar ini di dalam jangka menengah panjang akan menjadi bom waktu bagi ekonomi.

Monday, September 16, 2013

Bakrieland Siapkan Aset US$ 160 juta untuk Jaminan



Jakarta, 17 September 2013 - PT Bakrieland Development (ELTY) yang dituntut pailit oleh para pemegang obligasinya membuka beberapa skenario restrukturisasi, di antaranya memberikan jaminan aset berupa tanah seluas 500 ha di Bogor atau di Sentul senilai US$ 160 juta.

Sebelumnya AFN telah memprediksi beberapa skenario pelepasan aset yang tersedia bagi ELTY apabila pemegang obligasi menolak tawaran restrukturisasi, atau negosiasi tidak tercapai.Kesimpulan dari skenario itu adalah ELTY dapat membayar utang dengan pelepasan aset-aset, akan tetapi nilainya akan terdiskon sangat besar. Apalagi ELTY juga memerlukan uang untuk pembayaran biaya-biaya operasional.

Pertanyaannya kini, melihat kepada tawaran tersebut, apa yang membuat pemegang obligasi tidak bersedia untuk menerimanya? AFN melihat ada 2 aspek, yaitu aspek makro dan aspek persepsi.

Pertama, aspek makro, di mana penguatan US Dollar terus terjadi dan terjadi perpindahan dana dari emerging markets ke Amerika. Pelemahan Rupiah ditambah dengan peningkatan inflasi dan suku bunga referensi yang sudah mencapai 7,25% membuat bunga obligasi 10% dan tenor 3 tahun ke depan tidak lagi menarik. Investor di Amerika membutuhkan dananya sekarang untuk diinvestasikan di aset-aset AS yang kurang berisiko. Karenanya proses restrukturisasi mungkin akan mendapatkan banyak tantangan di aspek itu.

Kedua, aspek persepsi dari Bakrieland sendiri. Investor kini kurang percaya kepada Bakrie Group salah satunya Bakrieland. Fakta bahwa ELTY sudah melepaskan berbagai aset-aset yang dulu dinilai strategis seperti jalan tol, membuat investor merasa tidak pasti bahwa perusahaan ini masih memiliki nilai tambah yang dapat ditawarkan.

Kekuatiran yang juga muncul adalah karena perang Bakrie dengan Rothschild yang belum selesai serta pencalonannya sebagai presiden membutuhkan dana yang tidak sedikit dan bukan tidak mungkin bila melihat kepada jejak rekam terdahulu, diambil dari perusahaan-perusahaannya termasuk ELTY.

Yang pasti, restrukturisasi ini akan berjalan alot dan membuat posisi ELTY menjadi tidak menguntungkan.

Tuesday, August 20, 2013

Periode Pengetatan Kredit Sedang Terjadi di Asia

Jakarta, 20 Agustus 2013 - Pengetatan kredit sebagaimana yang diindikasikan oleh Bank Indonesia juga terjadi di seluruh regional Asia. Indonesia menderita kenaikan yield tertinggi dibandingkan Filipina, India, dan Malaysia.  Biaya pinjaman - baik dari perbankan maupun pasar modal - akan naik, memberikan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi regional, dan terutama Indonesia.

Bank Indonesia menaikkan tingkat suku bunga referensinya dalam  tahun ini sampai 6,5% dari sebelumnya lama flat di 5,75%. Ini segera mendorong tingkat yield obligasi pemerintah 10 tahun segera di atas 8%.

Pengetatan kredit juga diindikasikan oleh kebijakan Bank Indonesia yang menurunkan batas atas rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (LDR) dari 78% - 100% menjadi 78% - 92%. Artinya bank-bank yang lmemiliki LDR di luar rentang tersebut akan terkena tambahan setoran giro wajib minimum (GWM). Ini akan mengerem laju pertumbuhan kredit bank-bank yang selama ini fokus untuk penyaluran kredit. 

Selain pengetatan kredit yang direncanakan oleh Bank Indonesia, pasar modal pun ikut mendukung kondisi kredit ketat ini. Nilai Rupiah yang terus melemah karena faktor eksternal dan internal seperti inflasi dan penguatan dolar AS, membuat risiko Indonesia di mata investor global naik. Ini mendorong tingkat yield obligasi naik


Biaya penerbitan obligasi menjadi makin tinggi sehingga perusahaan-perusahaan harus kembali mendesain ulang strategi pendanaan mereka. Bank CIMB Niaga telah membatalkan rencana penerbitan obligasi Rp 2,4 triliun untuk PT Perusahaan Listrik Negara, dan mungkin hanya menyanggupi separuh dari dana tersebut.

Tekanan terhadap Indonesia Besar
Beberapa analis berpendapat bahwa investor global memiliki sentimen negatif terhadap Indonesia terkait dengan beberapa kebijakan baru pemerintah yang dianggap tidak pro-investasi. Kebijakan-kebijakan seperti tekanan terhadap industri batubara, kebijakan-kebijakan baru tentang ekspor dan kepemilikan, telah memaksa para investor global untuk bermain di rantai nilai yang memiliki potensi laba tipis. Ini membuat Indonesia yang sebelumnya menjadi prioritas teratas pada industri pertambangan menjadi yang terbawah.

Ini membuat Indonesia cukup dijauhi oleh investor-investor asing terutama terkait dengan industri pertambangan, di samping fakta bahwa prospek pertambangan belum jelas sampai saat ini.

AFN berpendapat bahwa tekanan terhadap investor global ini memiliki dua dampak, positif dan negatif. Pertama adalah tekanan ini berguna untuk mendorong lebih cepat industri manufaktur atau penghiliran di Indonesia yang berfokus kepada sumber daya lokal.

Kedua, di sisi lain secara negatif, timing dari kebijakan ini kurang tepat mengingat bahwa infrastruktur untuk mendorong penghiliran ini mungkin belum optimal. Dampaknya industri manufaktur mungkin akan terpukul karena biaya investasi menjadi sangat tinggi, padahal risiko yang dipikul belum dapat diserap seluruhnya.

Thursday, July 11, 2013

Duta Anggada Rencanakan Obligasi Rp 1 T

Duta Anggada Realty, Tbk (DART) merencanakan menerbitkan obligasi berkelanjutan senilai Rp 1 triliun untuk refinancing dan ekspansi perusahaan. Ruang untuk leverage DART masih cukup besar, dan DART sedang berada pada fase pertumbuhan yang menarik dan memang membutuhkan pembiayaan.

Rencananya obligasi tersebut akan diterbitkan dalam 2 tahap. Tahap pertama senilai Rp 600 miliar akan digunakan untuk refinancing utang perusahaan. Tahap kedua, senilai Rp 400 miliar akan digunakan untuk membiayai ekspansi perusahaan.

Refinancing utang akan dilakukan atas utang bank perusahaan kepada Bank International Indonesia (BII) sebesar 564 miliar, Bank Victoria sebesar Rp 19 miliar, serta kepada Bank Panin sebesar US$ 60 juta. Total utang bank perusahaan sendiri mencapai Rp 1,12 triliun per tanggal 31 Maret 2013.


Ekspansi perusahaan akan digunakan untuk pembiayaan 5 mega proyek perusahaan berupa perkantoran, apartemen, dan hotel. Kelima megaproyek itu adalah (a) 1@Cik Di Tiro dengan luas 17.250m2 berupa Low rise exclusive apartment; (b) Citilofts Gajah Mada berupa High Rise Residential & Office Building seluas 104.300m2; (c) Icon Tower, High Rise Commercial Office Building seluas 135,368m2; (d) Park Center Pulomas, dan (e) La Maison Barito.Tahun ini, DART menganggarkan belanja modal sebesar Rp 600-700 miliar.

AFN merekomendasikan pembelian obligasi ini karena:
1. Perusahaan menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan seiring dengan majunya industri properti di Indonesia. Pertumbuhan penjualan tahun 2012 mencapai 102% diikuti dengan pertumbuhan laba 182%. Di kuartal I-2013 pertumbuhan terjadi lagi pada tingkat 175% pada penjualan dan 13x lipat pada laba yang disebabkan karena backlog yang terjadi di 2012

2. Rasio-rasio likuiditas DART masih tinggi memberikan keleluasaan dan keamanan pembayaran bagi investor. Rasio lancar 1,13x, sementara rasio utang terhadap ekuitas masih 0,49x.Rasio laba sebelum biaya keuangan dana pajak terhadap biaya keuangan masih tinggi di level 6x. 

Akan tetapi AFN perlu mengingatkan perusahaan untuk mewaspadai posisi kas dan arus kas. Posisi kas DART pada level Rp 31,77 miliar pada kuartal I  masih sangat kecil dibandingkan utang jangka pendeknya yang berjumlah Rp 732,14 miliar. Sementara arus kas dari operasinya hanya sekitar Rp 90 miliar di tahun 2012 dan bahkan negatif di kuartal I-2013.Perusahaan perlu mengoptimalkan strategi-strategi pelunasan dan pencatatan piutang yang lebih baik.


Wednesday, July 10, 2013

Ciputra Akan Terbitkan Obligasi Rp 500 M

Ciputra Residence, anak perusahaan dari Ciputra Development, Tbk (CTRA), berencana menerbitkan obligasi sebesar Rp 500 miliar pada semester II-2013. Sementara belum dapat dikonfirmasi, AFN menduga obligasi tersebut adalah untuk  CitraRaya City Jambi, yang pada November 2012 telah membentuk kerjasama operasi untuk membangun kawasan terintegrasi seluas 1.000 hektar.

Ciputra Residence adalah pemilik dari Citra Raya Tangerang, Citra Garden City Jakarta, CitraGrand City Palembang, CitraGrand City Pekanbaru, dan CitraGrand City Jambi. Ciputra Residence dimiliki 99,99% oleh Ciputra Development.Obligasi ini akan direkonsiliasi pada laporan keuangan Ciputra Development.

AFN memandang bahwa dengan penerbitan obligasi ini posisi CTRA masih sangat   solid karena:
1. Tingkat total liabilitas terhadap ekuitas masih relatif rendah, yaitu 1,17x, membuat rasio liabilitas terhadap asetnya di 0,54x. Kemampuan perusahaan membayar beban bunga juga masih tinggi di 36,74x. sementara rasio lancar masih tinggi di 1,44x.

2. Pertumbuhan pendapatan perusahaan mengagumkan. Di kuartal I-2013, CTRA mencatat pertumbuhan pendapatan 143% - lebih dari 2 kali lipat - di Rp 1,34 triliun. Sementara laba bersih juga tumbuh cepat di 158% Artinya keputusan pembiayaan eksternal didorong oleh kebutuhan untuk pertumbuhan. 

CTRA: pergerakan saham

Thursday, July 4, 2013

Garuda Indonesia Akan Terbitkan Obligasi Rp 2 T

Pencapaian Garuda Indonesia tahun 2012
Garuda Indonesia (Persero), Tbk (GIAA) rencananya akan terbitkan obligasi pada tanggal 8 Juli 2013 sebesar Rp 2 triliun. Dana yang diperoleh akan digunakan 80% atau Rp 1,6 triliun untuk pembayaran uang muka pembelian pesawat, dan sisanya untuk modal kerja.

Obligasi ini jatuh tempo dalam 5 tahun, dan ditawarkan pada bunga 9,25%, atau Rp 185 miliar per tahun.

Sampai dengan akhir Maret 2013, Garuda Indonesia tercatat memiliki kas sekitar US$ 268,56 juta atau Rp 2,61 triliun. Arus kas dari aktivitas operasionalnya adalah Rp 162,44 miliar pada triwulan pertama dan diperkirakan dapat mencapai Rp 2,59 triliun pada tahun ini.Dengan obligasi ini, maka Garuda di akhir Juli akan memiliki sekitar Rp 5,55 triliun.

AFN tidak merekomendasikan pembelian obligasi ini karena:
1. Tingkat leverage GIAA sudah tinggi. Rasio utang terhadap ekuitas Garuda sudah mencapai 1,5x pada akhir Maret 2013. Sementara rasio EBITDA terhadap beban keuangannya 2,4x di triwulan pertama, dan di tahun 2012 mencapai 12,12x. Dengan obligasi ini, rasio utang terhadap ekuitas menjadi 1,65x dan rasio EBITDA terhadap beban keuangan akan turun jadi sekitar 7x karena pertumbuhan pendapatan belum akan terjadi pada tahun pertama.
Garuda Indonesia: Target 2015

2. Kurangnya infrastruktur untuk mendukung makin banyaknya lalu lintas udara yang permintaannya makin banyak menjadi tantangan bagi Garuda di dalam mengefektifkan lalu lintas pesawat barunya.

Positifnya, kinerja operasional Garuda meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia telah memberanikan Garuda memasang target yang cukup tinggi sampai dengan tahun 2015. 

Friday, June 28, 2013

Intiland Akan Terbitkan Obligasi Rp 500M

Intiland Development Tbk (DILD) akan terbitkan obligasi Rp 500M dengan 2 seri untuk investasi dan pengembangan usaha serta pembelian tanah.

Dana Rp 500M yang akan diterima DILD direncanakan digunakan untuk pengembangan usaha di 3 anak perusahaan yaitu PT Taman Harapan Indah (pemilik Taman Semanan Indah), PT Putra Sinar Permaja, dan PT Gandaria Prima (pemilik 1Park Avenue), serta membeli tanah untuk meningkatkan landbank.


Penggunaan dana hasil obligasi


Obligasi DILD akan diterbitkan dalam 2 seri yaitu:
- Seri A sebesar Rp 346 miliar memiliki tingkat bunga 9,75% dengan jatuh tempo 3 tahun.
- Seri B sebesar Rp 154 miliar dengan tingkat bunga 100% dan jatuh tempo dalam 5 tahun.

AFN melihat bahwa penerbitan obligasi ini kurang menarik bagi investor saham:

1.Pembelian tanah yang sifatnya jangka panjang dan masih spekulatif sebaiknya tidak dilakukan dengan menggunakan utang

2. Intiland sudah memiliki utang yang cukup tinggi terutama utang jangka pendek kepada bank yaitu Rp 1 triliun

AFN melihat bahwa kombinasi antara ekuitas dan utang akan lebih cocok bagi DILD di mana komponen utang digunakan untuk pengembangan proyek-proyek yang sudah jalan, sementara komponen ekuitas untuk pembelian tanah dan pengembangan proyek-proyek jangka panjang.

  
Pergerakan saham DILD


Monday, June 17, 2013

PNM Akan Terbitkan Obligasi Rp 1 T



Permodalan Nasional Madani (PNM), perusahaan modal ventura, menerbitkan Obligasi II PNM Tahun 2013 sebesar Rp 1 T dengan jangka waktu 5 tahun, dibayarkan tiap 3 bulan. Dana ini akan digunakan untuk pemberian modal kepada perusahaan kecil dan mikro. Tidak ada agunan khusus atas obligasi ini, dan senioritasnya tidak lebih tinggi daripada utang-utang lainnya. Pefindo telah memberikan rating A+.
Dana ini akan digunakan 40% untuk refinancing, dan 60% untuk peningkatan modal kerja. Refinancing akan digunakan untuk membayar sebagian dari utang bank dalam usaha menekan beban pokok pendapatan.

Saat ini kegiatan usaha melingkupi: bisnis Pembiayaan langsung ke UMK, ke lembaga keuangan mikro, kredit program, jasa manajemen dan kemitraan, penyertaan melalui anak usaha, serta pengelolaan dana melalui anak usaha. Tingkat kesehatan perusahaan menurut SK Menteri Keuangan selama 5 tahun berturut-turut 'sehat sekali'.

AFN memandang bahwa obligasi ini menarik karena beberapa hal:
1. Pendapatan usaha yang diperoleh PNM bertumbuh sangat cepat, CAGR 56% dalam 5 tahun, dengan pertumbuhan laba yang bertumbuh 36,5%. Ini mencerminkan besarnya kebutuhan dana modal bagi perusahaan-perusahaan kecil dan mikro yang sulit untuk dijangkau sistem perbankan, dan seiring dengan indikasi bahwa ada geliat ekonomi mikro yang kini sedang berusaha ditangkap oleh semua bank-bank nasional dan asing di Indonesia.
2. Tingkat keamanan yang cukup tinggi mengingat produk-produk ini melihat kepada kesediaan bank-bank untuk terus memberikan pinjaman.

Akan tetapi beberapa hal perlu diwaspadai adalah:
1. ROE yang rendah hanya kurang dari 8% di tahun lalu, padahal ROE BPR mencapai 20%.
2. Tekanan suku bunga dan inflasi yang tinggi dapat mendorong kenaikan beban bunga sehingga menekan kemampuan perusahaan membayar.


Tuesday, June 4, 2013

NIPPON INDOSARI Keluarkan Obligasi Berkelanjutan I

Nippon Indosari Corpindo (IDX: ROTI) akan keluarkan Obligasi Berkelanjutan I senilai total Rp 1 triliun dengan Tahap I yang akan dikeluarkan Juni ini sebesar Rp 500 miliar. Dana akan digunakan untuk


AFN melihat ROTI merupakan pilihan saham yang masih menarik karena:
1. ROTI merupakan produsen terbesar roti secara masal di Indonesia, dengan brand equity yang sudah cukup terbangun di semua kalangan.
2. Pertumbuhan penjualan lebih dari 6 kali lipat dalam 7 tahun, dan pertumbuhan laba 18 kali
3. Tren konsumen yang mulai menuju kepada roti sebagai sumber karbohidrat alternatif menjadikan pasar masa depan yang besar
4. Ruang untuk utang ROTI masih cukup besar karena rasio utang terhadap aset masih 0,5x, sementara industrinya masih di sekitar 0,6x.
5. Arus kas masih cukup besar, terutama dari arus kas operasional.
6. Pefindo baru saja mengeluarkan equity research atas ROTI dengan kisaran nilai Rp 8.200-8.900 per saham. 

Namun perlu pula diwaspadai bahwa harga saham ROTI sudah berada di kisaran fair, sehingga investor sebaiknya memiliki perspektif jangka panjang.