Jakarta, 18 Oktober 2013 - Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menurunkan jumlah lot saham dari 500 lembar per lot menjadi 100 lembar per lot. Rencananya, peraturan bursa 2a itu akan mulai efektif pada 2 Desember 2013.
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI Samsul Hidayat mengatakan, ketentuan tersebut bertujuan untuk meningkatkan likuiditas, efisiensi dan pendalaman pasar.
Samsul menjelaskan, untuk bisa meningkatkan likuiditas di pasar saham, selain memperkecil lot saham, pihaknya juga akan memperkecil fraksi harga dan kelompok harga.
Saat ini, kata dia, pihak bursa masih memberlakukan 5 kelompok harga. Nantinya, kelompok ini akan diperkecil menjadi 3 kelompok saja dengan fraksi harga yang lebih kecil.
Kelompok-kelompok harga di aturan yang baru yaitu kelompok harga di bawah Rp 200 per saham, Rp 200-5.000 per saham, dan harga di atas Rp 5.000 per saham.
Sumber: Detik Finance
Thursday, October 17, 2013
Wednesday, October 16, 2013
Thohir Beli Inter Milan, Saham ABBA Bergerak Sedikit
Jakarta, 16 Oktober 2013 - Pengusaha Erick Tohir membeli 70% saham Inter Milan dari Massimo Moratti. Hal ini sempat berimbas positif kepada saham salah satu perusahaan miliknya, PT Mahaka Media Tbk (ABBA) walaupun tanpa likuiditas. Secara fundamental, kinerja perusahaan ini fluktuatif dan sulit untuk diprediksi.Inter Milan, salah satu klub sepakbola ternama di Italia dijual ke Erick Thohir dengan nilai €250 juta atau ekuivalen US$ 340 juta. Nilai klub ini sendiri diestimasi US$ 480 juta, sementara Forbes mengestimasi nilai wajarnya adalah US$ 401 juta. Inter Milan masuk peringkat 14 dalam penilaian klub sepakbola bernilai tertinggi di dunia, dimana peringkat pertama dan keduanya dipegang oleh Real Madrid dan Manchester United.
Pada klub ini Thohir secara efektif akan mengontrol 35%, sementara Moratti 30%. Sisanya dibagi dua antara Rosan Roselani dan Handy Soetedjo sebagai partner. Thohir kini telah memiliki portofolio klub olahraga internasional yang mencakup NBA Philadelphia 76ers dan MLS team D.C. United.
Di media internasional, pembelian ini dianggap sebagai berkat sekaligus kutuk. Banyak spekulasi yang muncul tentang apakah Thohir memiliki ‘ambisi dan semangat’ yang tinggi yang dapat menuntun tim kepada kesuksesan yang lebih besar lagi. Namun yang pasti, uang bukan menjadi masalah lagi, demikian menurut harian olahraga Italia, Gazzetta dello Sport.
Pembelian spektakuler ini sempat mengangkat saham Thohir, ABBA, yang dalam sehari sempat naik 10% ke Rp 93. Namun karena kurangnya fundamental maupun likuiditas, ABBA kembali turun ke level Rp 91 di hari berikutnya.
Kinerja Mahaka Media sendiri yang mayoritas bisnisnya bergerak di media, bisa dibilang kurang dapat diprediksi karena banyaknya faktor-faktor yang menyebabkan fluktuasi, baik di top line (pendapatan) maupun bottom line (laba).
Mahaka Media saat ini membawahi 16 unit usaha termasuk surat kabar, majalah, penerbit buku, televisi, radio, media luar ruang, animasi, teater 4D, serta media digital. Termasuk di dalam portofolio tersebut adalah Republika, Golf Digest Indonesia, JakTV, JakFM dan Mahaka Advertising. Penerbit di bawah Mahaka Media juga telah menerbitkan buku-buku popular seperti Ayat-ayat Cinta yang juga telah difilmkan di bawah Mahaka Media.
Dengan aset Rp 444,77 miliar dan ekuitas Rp 120,94 miliar, Mahaka Media memiliki kapitalisasi pasar sebesar sekitar Rp 250 miliar. Terlihat dari grafik di atas , Mahaka Media memiliki pendapatan yang cukup stabil walaupun laba bersih dan arus kas operasionalnya fluktuatif. Ini disebabkan oleh model bisnis media yang mengandalkan pada ada tidaknya iklan, serta kekuatan ekonomi Indonesia yang menentukan bagaimana perusahaan membuat keputusan tentang pembelanjaan iklannya.
Labels:
Abba,
Erick Thohir,
Inter Milan,
Mahaka Media
Friday, October 11, 2013
Nipress akan Stock Split 1:20, Aset Naik Rp 103,4 Miliar
Jakarta, 11 Oktober 2013 – PT Nipress,
Tbk (NIPS), perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan penyimpanan tenaga
listrik, mengumumkan laporan keuangan semester 1 yang diaudit karena akan
melakukan stock split 1:20. Di dalamnya, Nipress juga menyatakan kenaikan aset yang
signifikan karena kenaikan piutang usaha.
Nipress yang dalam satu bulan
terakhir harga sahamnya sudah naik lebih dari 100% ini akan mengadakan stock
split dengan rasio 1 saham lama menjadi 20 saham baru. Nilai nominal NIPS
sebelumnya adalah Rp 1.000 akan menjadi Rp 50 per lembar.
Dengan stock split ini, harganya
diharapkan akan lebih mendekati kemampuan retail, dan saham yang beredar di
publik akan menjadi lebih banyak. Kini harga NIPS sudah di level Rp 18.150 dan
saham yang beredar di pasar hanya 8,88 juta lembar.
Dengan stock split, diharapkan harga
NIPS akan turun dulu di sekitar Rp 900/ lembar dan saham yang beredarnya akan mencapai 177,6 juta lembar. Ini diharapkan
akan meningkatkan likuiditas perdagangan NIPS.
NIPS juga memasuki bisnis aki
industri, di samping tetap mempertahankan pasarnya di aki mobil dan motor.
Tahun ini, kontribusi aki industri terhadap total penjualannya melesat menjadi
28% dari 3,7% di tahun sebelumnya. Sedangkan kontribusi aki mobil menjadi menyusut
menjadi 55,3%, walaupun terjadi pertumbuhan 2,6% secara Rupiah.
Aki industri merupakan bisnis yang
menjanjikan untuk NIPS. Aki industri dibutuhkan terutama pada pembangkit listrik
tenaga matahari dan tenaga air hidro yang makin meluas. Kemudian aki industri
juga makin dibutuhkan dengan makin meningkatnya industri manufaktur mikro di
daerah-daerah yang sering mengalami putus listrik.
Akan tetapi masuknya NIPS ke dalam
bisnis ini juga meningkatkan piutangnya sebesar Rp 76,04 miliar, persediaan
sebesar Rp 25,81 miliar, utang bank
sebesar Rp 69,75 miliar, dan utang usaha dari pihak ketiga sebesar Rp 19,54
miliar. Kenaikan ini disebabkan oleh model pembayaran dan pemesanan yang
berbeda dengan bisnis aki mobil dan motor.
Perusahaan yang dimiliki oleh PT
Tritan Adhitama Nugraha dan keluarga Tandiono ini sebenarnya sudah memasuki bidang
aki industri sejak lama, tetapi masih dalam porsi kecil.
AFN melihat besarnya potensi bisnis
dari aki industri ini juga diimbangi dengan kebutuhan permodalan untuk ekspansi
agar dapat menguasai pangsa pasar. Stock split mungkin merupakan bagian dari
rencana yang lebih besar untuk melakukan aksi korporasi lainnya seperti rights
issue. Apabila demikian, maka rights issue NIPS akan menarik mengingat bisnis
yang akan didanainya ini potensial, dan kompetensi NIPS sendiri sudah
terbangun. Berperkara Hukum, MNC Group di-Suspend BEI
Jakarta, 11
Oktober 2013 - Dalam transaksi Kamis, 10 Oktober 2013, kemarin, saham MNC group
turun signifikan akibat kemenangan Siti Hardianti Rukmana atau Tutut dalam
sengketa kasus Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) yang sekarang berganti nama
MNC TV. Padahal secara fundamental, perusahaan ini memiliki kinerja baik.
Tiga saham terkait
diantaranya PT Media Nusantara Citra
Tbk, (MNCN) kemarin terkoreksi signifikan hingga -10,34% menjadi Rp 2.600 pada
penutupan kemarin, PT Global Mediacom Tbk, (BMTR) turun -9,42% menjadi Rp 1.970
per saham dan saham PT MNC Investama, Tbk (BHIT) - 4,1% menjadi Rp 350 per
saham. Saat ini ketiga saham tersebut tengah dihentikan perdagangan sementara
oleh otoritas bursa untuk mencegah panic
selling.
Dalam
keterangan tertulisnya, otoritas bursa menjelaskan bahwa permohonan Siti Hardiyanti Rukmana melawan termohon
kasasi PT Berkah Karya Bersama (anak usaha MNCN) dimenangkan dan berarti putusan pengadilan negeri yang
memenangkan PT Berkah Karya
Bersama atas 75% saham Televisi Pendidikan Indonesia batal
demi hukum.
MNC Group merupakan konsorsium Hary Tanoe yang
menguasai media besar diantaranya RCTI, MNC TV, Global TV, Harian Seputar
Indonesia, Sindo TV, portal Okezone dan Sindo News. Selain bergerak dibidang
media. MNC juga mendiversifikasi bisnisnya dalam properti lewat MNC Land
(KPIG.IDX).
Sementara itu, Juru bicara MNC Group yang dikutip dari
Tempo.co.id menyatakan bahwa karena gugatan yang ditujukan kepada PT Berkah Karya Bersama bukan MNC
Group, maka putusan itu tidak ada kosekuensinya kke MNC.
Namun kenyataan yang ter-refleksi di pasar modal
kemarin berbeda. Ketiga saham MNC Group tersebut turun signifikan setelah
muncul putusan Mahkamah Agung tersebut.
Hilangnya pendapatan dari TPI/MNC TV yang dapat
berkontribusi terhadap kinerja MNC Group ke depannya berada di belakang
penurunan ini. Apalagi di laporan keuangan tidak terlihat jelas berapa
kontribusi stasiun TV ini kepada pendapatan dan laba MNCN.
Secara historis, konsorsium MNC berkinerja baik selama
tahun 2013 ini. Tercatat, laba bersih MNCN tumbuh 27,11% pada semester pertama
2013 menjadi Rp 952 miliar dibanding semester pertama tahun lalu sebesar
Rp 749 miliar.
Kenaikan laba ini didorong oleh kenaikan pendapatan
pada iklan televisi dan penurunan beban umum administrasi dan beban keuangan.
Pendapatan segmen iklan televisi naik 9% menjadi Rp 2,8 triliun atau 88% dari
total pendapatan MNCN, sementara beban umum dan administrasi turun 11%
menjadi Rp 610 miliar dan beban keuangan turun 34% menjadi Rp 21 miliar.
Sementara itu, BMTR, yang menguasai 69% saham MNCN,
dalam laporan keuangan konsolidasi juga membukukan kinerja keuangan yang baik.
BMTR membukukan kenaikan laba bersih hingga 19,64% menjadi Rp 632 miliar, laba
ini didorong oleh naiknya pendapatan hingga 16,03% menjadi Rp 4,8 triliun.
Labels:
BHIT,
BMTR,
Global Mediacom,
Media Nusantara Citra,
MNC Group,
MNC Investama,
MNCN,
TPI
Thursday, October 10, 2013
PTPN III dan IV akan IPO 2014, Keduanya adalah Pilihan
Jakarta, 11 Oktober 2013 – PT Perkebunan Nusantara III (Persero) dan PT Perkebunan Nusantara IV (Persero) dikabarkan
akan melakukan IPO tahun 2014. Menteri BUMN Dahlan Iskan sedang mengajukan
rencana ini kepada Komite Privatisasi yang berada di bawah koordinator Menko
Perekonomian. AFN melihat bahwa kedua BUMN ini memang layak untuk
diprivatisasi.
![]() |
| PTPN III dan IV dibandingkan dengan PTPN lainnya |
Awalnya, kedua BUMN Perkebunan ini
akan menunggu pembentukan holding. Namun karena pembahasannya masih terus
tertunda-tunda, maka pemerintah memilih akan langsung melepas saham ke IPO.
Per Juli 2013, PTPN III mencatatkan
laba sebelum pajak sekitar Rp 240 miliar sementara PTPN IV menargetkan
pendapatan sekitar Rp 6,27 triliun. Kontribusi kedua BUMN ini berasal dari
kelapa sawit.
Sementara di tahun 2012 sendiri,
kedua BUMN perkebunan ini memang lebih baik kinerjanya dibandingkan lainnya.
Dengan aset terbesar yang lebih dari 30%nya dibiayai oleh ekuitas, PTPN III dan
IV mencetak imbal hasil atas ekuitas (ROE) sebesar 24,97% dan 23,64%. Kinerja
ROE memang lebih rendah daripada PT Rajawali Nusantara Indonesia, PTPN X dan PTPN
VIII, namun hal ini dikompensasi dengan pendapatan dan laba yang lebih besar
sehingga akan lebih menarik di pasar.
Bila dibandingkan dengan emiten
perkebunan yang sudah ada di pasar sekarang ini maka jelas bahwa kinerja PTPN III
dan PTPN IV sudah dapat disetarakan. Hanya saja tingkat leverage PTPN masih di
atas peersnya.
![]() |
| PTPN III dan IV dibandingkan dengan perusahaan perkebunan di BEI |
AFN merekomendasikan IPO ini namun
dengan catatan, apabila IPO hanya untuk membayar utang, maka IPO ini menjadi
tidak efektif karena tidak memberikan pertumbuhan nilai lebih bagi investor di
pasar.
Tetapi bila IPO adalah untuk
menggarap lahan, maka jangan terkejut dan kuatir apabila pada 5 tahun pertama
di pasar, kinerja kedua PTPN ini akan lebih kecil dibandingkan peersnya yang
kini setara. Pasalnya, dari sejak kelapa ditanam sampai berproduksi dan
menghasilkan membutuhkan waktu 5 tahun.
Subscribe to:
Posts (Atom)




