Thursday, January 29, 2015

Suspensi Bursa atas Cita Mineral Karena Merugi Tidak Efektif

Jakarta, 30 Januari 2015 – Bursa Efek Indonesia (BEI) mensuspensi saham di seluruh pasar PT Cita Mineral Investindo, Tbk (CITA) karena meragukan keberlangsungan usaha perseroan. Alasannya karena selama tahun 2014, perseroan mencatatkan kerugian yang terus membengkak. Perdagangan saham CITA di pasar regular dan pasar tunai sudah dibekukan sejak Januari 2014 yang lalu. ASCEND berpendapat langkah ini kurang efektif.

 Cita Mineral adalah produsen bauksit dan alumina yang sedang smelter alumina melalui perusahaan asosiasinya, PT Well Harvest Winning Alumina Refinery dengan biaya US$ 1 miliar.

Sampai dengan triwulan ketiga, perseroan telah mencatatkan kerugian sebesar Rp 330,23 miliar. Sebagian besar alasan kerugian ini adalah karena penurunan pendapatan yang drastis sebesar 94% dari tahun sebelumnya karena adanya pelarangan ekspor bijih mentah.Perseroan selama ini memperoleh 100% pendapatannya dari ekspor  ke pasar Cina.

Sementara perseroan masih dalam proses pembangunan smelter, biaya-biaya terkait pembangunan yaitu beban bunga membengkak lebih dari 5 kali lipat. Perseroan mengakui bahwa selama smelter dibangun, tidak ada rencana untuk memperoleh pendapatan lain. Perkembangan pembangunan smelter terus diupayakan sesuai tenggat waktu, di mana sampai saat ini progress yang dilaporkan baru 42,63%.

Perseroan di dalam surat keterbukaan informasi kepada bursa menyatakan bahwa hambatan  yang dialami saat ini adalah bahwa perseroan belum diijinkan untuk melakukan ekspor mineral bauksit yang telah melalui proses pengolahan melalui entitas anaknya.


ASCEND melihat bahwa suspensi yang dilakukan oleh Bursa Efek ini, walaupun baik, namun kurang efektif karena kerugian tersebut telah diprediksi akan terjadi dan perseroan telah mengambil langkah-langkah untuk keberlangsungan usahanya. Lagipula saham publik perseroan sangat kecil, yaitu 3,47% saja.

Jababeka Rencana Kembangkan 100 Kawasan Industri

Jakarta, 30 Januari 2015 – PT Kawasan Industri Jababeka, Tbk (KIJA) merencanakan akan mengembangkan proyek kawasan industri di 100 kota yang tersebar di Indonesia seiring dengan rencana pemerintah untuk membangun 100 kawasan pengembangan teknologi dan inovasi (technopark) untuk industri. Belanja modal tahun ini Rp 735 miliar dari kas internal, sementara pembiayaan dengan dolar AS mulai menggunakan lindung nilai untuk menjaga terhadap fluktuasi valuta asing.

Sebelumnya pemerintah melalui Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas Andrinof A. Chaniago menyatakan kebutuhan dana Rp 1,5 triliun untuk membangun 100 technopark mendukung kegiatan kawasan industri yang sudah ada, selain 13 kawasan industri baru di luar Jawa yang akan mulai dibangun pada 2015.

Menurut rencana Bappenas, selain pengembangan teknologi, "Technopark" juga akan tempat pelatihan dan pembinaan masyarakat dalam meningkatkan keahlian dalam mengelola sumber daya potensialnya.

Tahun ini perseroan menargetkan kontribusi lahan industri naik 10% menjadi Rp 502 miliar ditopang oleh kenaikan harga jual tanah yang akan berkisar di antara 10 – 15%. Sementara itu marketing sales ditargetkan Rp 1,2 triliun atau naik 15% dari pencapaian tahun 2014. Sekitar 45% diharapkan bersumber dari proyek residential dan komersial, sisanya 55% dari penjualan lahan industri.

Tahun 2014 penjualan kawasan industri menyumbang Rp 457 miliar atau sekitar 45% dari marketing sales. Kinerja ini diperoleh dari penjualan bangunan pabrik standar dan penjualan  12 Ha lahan yang dikembangkan dengan harga rata-rata Rp 2,7 juta per m2, naik dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya di bawah Rp 2 juta.

Salah satu pengembangan kota yang sudah dijalankan Jababeka adalah di Tanjung Lesung, Kabupaten Pandeglang, Banten. Jababeka mengembangkan "integrated township" Tanjung Lesung untuk menyokong industri pariwisata. Selain Tanjung Lesung, perseroan bersama dengan Sembcorp, Singapura, sedang mengembangkan proyek di Kendal, Jawa Tengah untuk menjadi kawasan industri.

Untuk mendukung ekspansi, perseroan mempersiapkan dana belanja modal  dari kas internal sekitar Rp735 miliar tahun ini. Perinciannya, sebesar Rp 600 miliar rupiah untuk akuisisi lahan di Cikarang dan Kendal. Sementara, senilai Rp135 miliar untuk pengembangan infrastruktur. Setelah Kendal dan Cikarang, kota lain yang menjadi target, yakni Morotai dan Medan.

Sampai 30 September 2014, perseroan mengantongi kas hampir Rp 1 triliun yang cukup untuk membiayai rencana capex ke depannya. Pendapatan perseroan sampai dengan triwulan ketiga hanya naik 2% menjadi Rp 2,06 triliun dengan laba Rp 390,3 miliar atau naik 338% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.


Aset Jababeka  senilai Rp 8,9 triliun dibiayai separuhnya oleh utang yang mana lebih dari dua pertiganya adalah utang dalam dolar AS. Oleh karena itu perseroan melakukan lindung nilai (hedging) yang sampai saat ini sudah mencapai US$ 50 juta dari US$ 217 juta outstanding. Adapun, sistem hedging yang digunkan adalah call spread sebesar Rp 1.500 dengan kurs sebesar Rp 12.500 per dollar AS. Selain itu perseroan juga memiliki natural hedging karena penjualan listrik, pabrik dalam dollar AS.



Wednesday, January 28, 2015

Laba BRI Naik Ditopang Simpanan Nasabah

Jakarta, 29 Januari 2015 – PT Bank Rakyat Indonesia, Tbk mencatatkan kenaikan laba bersih 13,6% karena pendapatan bunga bersih naik 16,6%. Kinerja ini ditopang oleh kemampuan BRI untuk meningkatkan simpanan nasabah sebesar 23,4%. Simpanan ini telah meningkatkan kredit yang diberikan sampai 14,3%.

Laba bersih naik 13,6% menjadi Rp 24,24 triliun dari sebelumnya Rp 21,34 triliun karena peningkatan pendapatan bunga bersih naik 16,6% menjadi Rp 51,44 miliar dari sebelumnya Rp 44,11 triliun . Sebagian besar pendapatan bunga tersebut adalah dari bunga dan investasi yaitu Rp 73,07 triliun , sementara sisanya, Rp 2,06 triliun adalah dari pendapatan syariah.

Kinerja ini berhasil dicatatkan oleh BRI karena perseroan berhasil menghimpun aset sampai ke pelosok Indonesia khususnya sektor pertanian yang umumnya adalah nasabah mikro. Aset pada akhir tahun 2014 menggembung 28,1% menjadi Rp 801,96 triliun yang terutama didorong oleh kenaikan penyaluran kredit 14,3% menjadi Rp 479,21 triliun. Simpanan nasabah berhasil ditarik untuk membiayai peningkatan aset ini sehingga naik 23,4% menjadi Rp 622,32 triliun.

Sampai saat ini BRI diuntungkan mengandalkan nasabah ritel dan binaan Usaha Kecil Menengah (UKM). Namun kredit sektor perbankan akan tumbuh minimal 5% sampai 7% tahun depan, sedikit tersendat karena direm oleh Bank Indonesia. Perlambatan ini berpotensi untuk menekan pertumbuhan BRI ke depan, walaupun kini ia telah menjadi bank terbesar di tanah air berdasarkan aset, melampaui PT Bank Mandiri (Persero), Tbk (BMRI).

Kinerja lainnya dari BRI adalah keberhasilannya mengoptimalkan jaringan dan pemanfaatan teknologi terkini guna mendukung pertumbuhan bisnis perbankan, khususnya melalui transaksi e-channel dan e-banking. Keberhasilan tersebut membawa BRI meraup pendapatan berbasis komisi (fee based income) pada 2014 mencapai Rp 6,1 triliun.

Ke depannya BRI akan serius menggarap branchless banking yang akan meningkatkan potensi laba bank. Melalui perekrutan agen yang berlabel BRILink, BRI berharap bisa mengakuisisi 1,25 juta nasabah baru. Program branchless ini diharapkan akan dapat menyebar sampai ke 70 desa. 





Logindo Terbitkan Obligasi di Singapura untuk Tingkatkan Pangsa Pasar

 Jakarta, 28 Januari 2015 – PT Logindo Samudramakmur, Tbk (LEAD) menyatakan akan mencatatkan obligasi yang diperdagangkan di Bursa Efek Singapore  senilai S$ 50 juta dengan tingkat kupon 2,93% dan tenor 5 tahun. Perusahaan pemeringkat Standard & Poor’s memberikan peringkat AA- untuk obligasi perseroan ini. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan pangsa pasar. Informasi ini ternyata direspon baik oleh pasar.

Hasil dari penerbitan obligasi ini akan digunakan perseroan untuk memperkuat posisi pangsa pasar di dalam industri yang bertumbuh, peningkatan kapasitas operasional dengan pembelian armada-armada baru, dan diversifikasi sumber pendanaan kepada pasar modal global.

Berdasarkan data Research and markets yang dirilis pada bulan Agustus 2013, pasar industri jasa transportasi laut tahun 2013 secara global dinilai sebesar USD 69,3 miliar, yang diestimasikan akan mencapai USD 91,2 pada tahun 2018. Faktor utama yang mendorong pertumbuhan tersebut ialah meningkatnya permintaan minyak dan gas pasar global, pertumbuhan aktivitas eksplorasi dan produksi serta meningkatnya jumlah anjungan lepas pantai.

Berdasarkan data BP Migas yang dirilis pada bulan Juni 2013, proyeksi kebutuhan seluruh jenis kapal penunjang operasi lepas pantai yang menggambarkan industri jasa transportasi laut di Indonesia hingga tahun 2015, diperkirakan akan mencapai 235 unit. Kebutuhan jenis kapal penunjang operasi lepas pantai yang menempati posisi pertama di Indonesia adalah kapal AHTS, JR, MPV dan CLB.
Perseroan merupakan penyedia jasa penyewaan kapal penunjang kegiatan lepas pantai (Offshore Support Vessels, OSV) bagi industri minyak dan gas bumi, dengan jumlah armada sebanyak 60 kapal, mencakup 12 jenis kapal seperti: Accommodation Work Barge, Anchor Handling Tug, Anchor Handling Tug Supply, Crew Boat, Diving Support Vessel, Flat Top Barge, Harbour Tug, Hopper Barge, Landing Craft Transport, Tugboat, Platform Supply Vessel, dan Utility Boat.

Perseroan mengoperasikan armada kapalnya di berbagai wilayah di Indonesia meliputi sungai, pesisir pantai serta laut. Selain itu, untuk mendukung kegiatan usaha utama dan pelayanan kepada pelanggan, perseroan mengoperasikan perbaikan dan pemeliharaan yard/workshop di Kalimantan Timur, Indonesia. Kemudian, Perseroan juga menyediakan jasa akomodasi makan dan minum bagi awak kapal dan pelanggan, serta jasa penggantian bahan bakar kapal.

Perseroan memiliki portofolio pelanggan yang terdiri dari perusahaan-perusahaan minyak dan gas bumi lokal maupun multinasional, termasuk Total E&P Indonesie, PT Pertamina Hulu Energi Lepas Pantai Utara Jawa Barat dan ENI Muara Bakau BV. Adanya pemberlakuan asas cabotage untuk Anchor Handling Tug Supply (AHTS) dengan daya di atas 5.000 bhp dengan sistem DP, Platform Supply Vessel (PSV) dan Diving Support Vessel (DSV) mulai tahun 2013 memberikan kesempatan yang lebih luas bagi Perseroan untuk mengembangkan bisnisnya di Indonesia.

Dengan pendanaan baru ini, perseroan selama tahun 2014 – 2018 merencanakan pendapatan tumbuh rata-rata 19,65% per tahun, pertumbuhan laba rata-rata 16,08% per tahun, pertumbuhan aset 16,13% per tahun. Untuk rasio-rasio, perseroan mentargetkan rasio lancar 0,82x, rasio utang atas ekuitas 67,69%, dan imbal hasil atas ekuitas 17,15%.

Pembatasan yang harus diperhatikan oleh perusahaan adalah kekayaan bersih perseroan tidak boleh kurang dari US$ 75 juta, rasio total pinjaman dan kekayaan bersih berwujud tidak boleh lebih dari 3:1, dan rasio EBITDA dengan beban bunga tidak boleh kurang dari 2,75:1. Per tanggal 30 September 2014,  kekayaan bersih perseroan tercatat sekitar US$ 127 juta, rasio total pinjaman dan kekayaan bersih 1,1:1, sementara EBITDA per beban bunga tercatat 6,65:1.





Tuesday, January 20, 2015

HM Sampoerna Rencana Tambah Free Float


Jakarta, 20 Januari 2015 - PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP), anak usaha Philip Morris International, tengah mengkaji penambahan jumlah saham yang beredar di publik (free float) minimal sebesar 5,68% untuk memenuhi ketentuan bursa minimal 7,5%. ASCEND melihat bahwa penambahan ini akan meningkatkan likuiditas di pasar sekaligus indikasi bahwa emiten ini mau tetap berada di dalam pasar modal.

HM Sampoerna adalah emiten dengan kapitalisasi ketiga terbesar di Bursa Efek Indonesia dengan nilai kapitalisasi mencapai Rp 295 triliun dan harga per saham yang mahal, Rp 67.350. Posisi kapitalisasi produsen rokok merek Dji Sam Soe dan A Mild ini hanya di bawah PT Bank Central Asia, Tbk (BBCA) dan PT Astra International, Tbk (ASII).

Peningkatan free float hingga 7,5% dapat dilakukan dengan penambahan saham baru maupun penjualan saham milik pemegang saham mayoritas, Philip Morris Indonesia. ASCEND berpendapat bahwa kemungkinan besar HMSP akan melakukan penjualan saham pemilik karena tidak adanya kebutuhan dana yang urgent. Dengan opsi ini maka akan ada penjualan sekitar 248,9 juta lembar yang dengan harganya sekarang berpotensi menghasilkan Rp 16,8 triliun bagi Philip Morris Indonesia.


Opsi lainnya adalah dengan melakukan penambahan saham baru, sementara Philip Morris tidak melakukan injeksi modal lagi. Dengan demikian, perusahaan akan mendapatkan dana segar sekitar Rp 18,16 triliun dari penjualan sekitar 269,07 juta lembar saham baru.

Potensi nilai tersebut dapat dioptimalisasi apabila sebelum melakukan peningkatan free float, emiten terlebih dulu melakukan stock split 1:8 atau 1:10 yang akan membawa harga sahamnya di bawah Rp 10.000, serupa dengan harga Astra.

Perusahaan yang dikuasai 98,18% oleh PT Philip Morris Indonesia, anak usaha dari raksasa rokok dunia, Philip Morris International ini mencatatkan pendapatan dan laba tahunan yang selalu meningkat. Sampai triwulan ketiga tahun 2014, emiten telah mencatatkan pendapatan Rp 59,61 triliun, naik 9% dari tahun sebelumnya di tengah banyaknya peraturan baru mengenai rokok dan iklan rokok. Laba pun meningkat menjadi Rp 7,66 triliun atau Rp 1.746/ saham, naik 1,44%.


ASCEND melihat aksi korporasi yang akan dilakukan oleh HM Sampoerna ini akan meningkatkan likuiditas di bursa efek, memberikan valuasi harga pasar yang lebih baik kepada saham HM Sampoerna, meningkatkan likuiditas (exit strategy) bagi para pemegang saham HM Sampoerna, serta menjadi indikasi bahwa perusahaan rokok ini beserta pemiliknya optimis dengan pasar di Indonesia, baik pasar rokok maupun pasar modalnya.