Friday, November 1, 2013

PP Properti gandeng PTPN IX, PTPP Agresif Perbesar Ukuran

Jakarta, 1 November 2013 - PT PP Properti, anak perusahaan dari PT PP (Persero) Tbk [PTPP],  kemarin menandatangani MoU dengan PTPN IX untuk memanfaatkan 2 lahan PTPN IX yang berada di Surakarta seluas 18,9 ha. Tanah tersebut rencananya akan dijadikan mixed used area yang akan mulai dibangun tahun 2014. 

PP Properti baru saja di-spin off dari PTPP dengan tujuan akan melakukan IPO di tahun 2014.  Sebelumnya PP Properti adalah salah satu divisi dari PTPP. Dengan spin-off ini diharapkan PP Properti dapat mengembangkan model bisnisnya sendiri yang unik dari induk usahanya, dan pada akhirnya memberikan nilai lebih kepada PTPP dan pemegang sahamnya. 

Usai spin-off, PP Properti mentargetkan pendapatan akan mencapai Rp 1,9 triliun per tahun. Ini akan mendorong kinerja pendapatan dari PTPP secara total karena sampai saat ini, pendapatan PP Properti masih dikonsolidasi di PTPP.

PT PP (Persero) Tbk sampai dengan 30 September 2013 telah mencatatkan peningkatan pendapatan 84% menjadi Rp 7,26 triliun dari sebelumnya Rp 3,94 triliun. Peningkatan pendapatan ini telah mendorong laba bersih sebesar 106,7% menjadi Rp 218,35 miliar atau Rp 45/ saham.
Peningkatan pendapatan ini disebabkan oleh pertumbuhan jasa konstruksi sebesar 93,67% menjadi Rp 5,87 triliun dan pertumbuhan EPC (Engineering, Procurement, Construction) sebesar 51,66% menjadi Rp 1,25 triliun.

Menarik juga dicatat bahwa PT PP baru saja mengakuisisi anak perusahaannya PT PP Dirganeka sehingga pada periode ini mencatatkan pertumbuhan aset 42% dan pertumbuhan liabilitas 39%.

AFN melihat adanya kemungkinan bahwa PT PP sedang agresif memperbesar ukurannya. Saat ini kapitalisasi pasar PTPP masih di bawah PT Wijaya Karya (Persero) Tbk [WIKA] yaitu Rp 6,25 triliun dengan harga Rp 1.290/ saham dibandingkan Rp 11,6 triliun dengan harga Rp 1.890/ saham. Dengan rasio PE yang hampir serupa, yaitu 21-22x dan rasio PBV yang juga mirip yaitu 3.51  dan 3.74x, maka PTPP perlu melakukan berbagai upaya pertumbuhan anorganik melalui akuisisi.

Beberapa point positif dari PTPP adalah:
  1. PTPP memiliki anak usaha PP Properti dan PP Dirganeka yang masing-masing merupakan pendukung bisnis PTPP yang mandiri dan menghasilkan nilai tambah lebih dan siap untuk dispin-off;
  2. Posisi kas PTPP masih besar yaitu Rp 577,06 miliar dan menghasilkan rata-rata Rp 150 miliar/ tahun dari aktivitas operasional. Biasanya pada 3 triwulan pertama, arus kas memang masih negatif sebagaimana terjadi di tahun ini sebesar –Rp 981 miliar. Hal ini karena model pembayaran dan penagihan industri konstruksi yang condong ke akhir tahun.
  3. PTPP unggul di beberapa segmen konstruksi terutama pelabuhan. Beberapa kontrak pelabuhan yang telah diterima oleh PTPP adalah Pelabuhan Krakatau Bandar Samudra-Cilegon, Terminal New Priok Jakarta, dan Pelabuhan Kali Baru.
  4. Sampai dengan September 2013, PTPP telah meraih kontrak baru sebesar Rp 13,1 triliun, 66,5% dari target akhir tahun sebesar Rp 19,7 triliun. Beberapa kontrak baru yang diperoleh PTPP pada bulan September 2013 yaitu konstruksi Gedung Peruri (Karawang), Jalan Long Belulah di Long Peso (Kalimantan Utara), Politeknik Elektro (Surabaya) dan Jalan Donggi (Sulawesi Tengah).

Sementara beberapa point dimana PTPP masih belum dapat mengalahkan WIKA adalah:
  1. Kinerja profitabilitas PTPP masih dapat ditingkatkan apabila melihat kepada benchmark-nya, WIKA. Marjin laba usaha dan laba bersih PTPP masing-masing adalah 7,93% dan 3,01%, lebih rendah daripada WIKA yang tercatat 9,82% dan 4,93%.
  2. Beban bunga PTPP masih sangat tinggi, yaitu Rp 134,87 miliar dibandingkan WIKA yang efisien di Rp 15,96 miliar. Leverage yang tinggi ditunjukkan oleh rasio utang jangka panjang terhadap ekuitas PTPP sebesar 1,13 dibandingkan WIKA di 0,57x. Beban bunga ini memberikan tekanan terhadap kinerja laba dan arus kas PTPP.
 

Tuesday, October 29, 2013

Bumi Serpong Damai Bukukan Laba Bersih Rp 2,12 T



Jakarta, 30 Oktober 2013 – PT Bumi Serpong Damai, Tbk (BSDE), pengembang real estate berkapitalisasi terbesar,  bukukan laba bersih sepanjang 9 bulan tahun 2013 sebesar Rp 2,12 triliun. Kinerja laba bersih ini ditopang peningkatan pendapatan penjualan residensial yang mencapai Rp 4,22 triliun akibat penjualan kepada beberapa partner strategis.

Laba bersih Bumi Serpong capai Rp 2,12 triliun atau meningkat 135,41% dibandingkan periode yang sama tahun 2012 yang di level Rp 902,44 miliar. Sementara pendapatan meningkat menjadi Rp 4,22 triliun atau  naik sebeasr 60,14% dibandingkan triwulan III- 2012 di level Rp 2,63 triliun. Dengan kinerja ini, Bumi Serpong mencatatkan marjin laba bersih yang luar biasa pada 50%.

Peningkatan pendapatan luar biasa ini mungkin tidak akan berulang di tahun 2014, akan tetapi telah menjadi pondasi pertama dari peningkatan recurring income dari Bumi Serpong. Saat ini penghasilan dari sewa hanya 8% dari total pendapatan usaha, dan pengelola gedung baru 4%, sementara hotel 2%. Diharapkan ke depannya, kontribusi ini makin meningkat, apalagi dengan baru saja diakuisisinya PT Plaza Indonesia, Tbk (PLIN) yang telah memiliki kontribusi recurring income cukup tinggi.

Sampai 30 September 2013, Bumi Serpong Damai mencatatkan aset sebesar Rp 21,47 triliun dengan ekuitas Rp 12,8 triliun. Kapitalisasi pasar Bumi Serpong Damai mencapai Rp 28,7 triliun per tanggal 30 Oktober 2013, terbesar dibandingkan perusahaan-perusahaan properti lainnya.
 
Posisi kas Bumi Serpong masih sehat di Rp 3,88 triliun. Tingginya posisi kas ini sangat penting di tengah kondisi yang tipis likuiditas dari industri perbankan.

Thursday, October 17, 2013

Peraturan Baru Perkebunan Tidak Ditanggapi Pasar

Jakarta, 18 Oktober 2013 - Menteri Pertanian mengeluarkan peraturan baru sebagai panduan di bisnis perkebunan. Ini akan mendorong perusahaan sawit untuk meningkatkan nilai tambah produk sekaligus melakukan divestasi tanaman. Peraturan ini menguntungkan bagi perusahaan-perusahaan raksasa yang sudah lama bergelut di sektor ini, dan meningkatkan halangan pemain baru.

Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 98/2013 tentang Izin Usaha Perkebunan ini menekankan 4 hal:
1. Kewajiban integrasi sisi hulu dan hilir industri perkebunan kelapa sawit (CPO), tebu, dan teh, untuk tiap 1.000 ha kelapa sawit, 240 ha teh, dan2.000 ha tebu.
2. Kewajiban divestasi saham pabrik pengolahan CPO kepada masyarakat minimal 5% dalam 5 tahun pertama dan 15% dalam tahun ke-15.
3. Pembatasan luas maksimal lahan perkebunan yang dimiliki oleh satu grup usaha. Pembatasan ini tidak berlaku surut, sehingga konglomerasi bisnis kini tak tersentuh aturan ini
4. Kewajiban pengusaha membangun kebun plasma bagi petani yang luasnya minimal 20% dari luas lahan kebun milik pengusaha, bila luas lahan di atas 250 ha.

Positifnya, pabrik-pabrik kelapa sawit akan banyak dibangun di Indonesia. Dampaknya, ada lowongan pekerjaan bagi tenaga-tenaga pekerja non petani. Lagi, produksi CPO di daerah membuat sistem resi gudang dan kontrak berjangka akan lebih jalan dan hasilnya akan lebih merata terasa di daerah perkebunan.

Negatifnya, petani-petani sawit partikelir kini akan sulit untuk menjadi besar dan bersaing dengan perusahaan-perusahaan raksasa yang ada karena kurangnya modal untuk membangun pabrik . Hal ini lama kelamaan akan membuat kebun-kebun di Indonesia akan dimiliki segelintir orang bahkan orang asing.

Sementara itu di pasar modal sendiri tidak terlihat ada sentimen positif terkait dengan keluarnya peraturan ini. Kenaikan beberapa saham blue chip perkebunan lebih terkait dengan kenaikan IHSG secara keseluruhan. Tiadanya respon ini lebih dikarenakan wacana tentang peraturan ini sudah lama, dan telah didiskon oleh pasar beberapa waktu yang lalu.

1 Lot = 100 Lembar, Mulai Desember 2013

Jakarta, 18 Oktober 2013 - Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menurunkan jumlah lot saham dari 500 lembar per lot menjadi 100 lembar per lot. Rencananya, peraturan bursa 2a itu akan mulai efektif pada 2 Desember 2013.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI Samsul Hidayat mengatakan, ketentuan tersebut bertujuan untuk meningkatkan likuiditas, efisiensi dan pendalaman pasar.

Samsul menjelaskan, untuk bisa meningkatkan likuiditas di pasar saham, selain memperkecil lot saham, pihaknya juga akan memperkecil fraksi harga dan kelompok harga.

Saat ini, kata dia, pihak bursa masih memberlakukan 5 kelompok harga. Nantinya, kelompok ini akan diperkecil menjadi 3 kelompok saja dengan fraksi harga yang lebih kecil.

Kelompok-kelompok harga di aturan yang baru yaitu kelompok harga di bawah Rp 200 per saham, Rp 200-5.000 per saham, dan harga di atas Rp 5.000 per saham.

Sumber: Detik Finance

Wednesday, October 16, 2013

Thohir Beli Inter Milan, Saham ABBA Bergerak Sedikit

Jakarta, 16 Oktober 2013 - Pengusaha Erick Tohir membeli 70% saham Inter Milan dari Massimo Moratti. Hal ini sempat berimbas positif kepada saham salah satu perusahaan miliknya, PT Mahaka Media Tbk (ABBA) walaupun tanpa likuiditas. Secara fundamental, kinerja perusahaan ini fluktuatif dan sulit untuk diprediksi.

Inter Milan, salah satu klub sepakbola ternama di Italia dijual ke Erick Thohir dengan nilai €250 juta atau ekuivalen US$  340 juta. Nilai klub ini sendiri diestimasi US$ 480 juta, sementara Forbes mengestimasi nilai wajarnya adalah US$ 401 juta. Inter Milan masuk peringkat 14 dalam penilaian klub sepakbola bernilai tertinggi di dunia, dimana peringkat pertama dan keduanya dipegang oleh Real Madrid dan Manchester United.

Pada klub ini Thohir secara efektif akan mengontrol 35%, sementara Moratti 30%. Sisanya dibagi dua antara Rosan Roselani dan Handy Soetedjo sebagai partner. Thohir  kini telah memiliki portofolio klub olahraga internasional yang mencakup NBA Philadelphia 76ers dan MLS team D.C. United.

Di media internasional, pembelian ini dianggap sebagai berkat sekaligus kutuk. Banyak spekulasi yang muncul tentang apakah Thohir memiliki ‘ambisi dan semangat’ yang tinggi yang dapat menuntun tim kepada kesuksesan yang lebih besar lagi. Namun yang pasti, uang bukan menjadi masalah lagi, demikian menurut harian olahraga Italia, Gazzetta dello Sport.

Pembelian spektakuler ini sempat mengangkat saham Thohir, ABBA, yang dalam sehari sempat naik 10% ke Rp 93. Namun karena kurangnya fundamental maupun likuiditas, ABBA kembali turun ke level Rp 91 di hari berikutnya.

Kinerja Mahaka Media sendiri yang mayoritas bisnisnya bergerak di media, bisa dibilang kurang dapat diprediksi karena banyaknya faktor-faktor yang menyebabkan fluktuasi, baik di top line (pendapatan) maupun bottom line (laba).

Mahaka Media saat ini membawahi 16 unit usaha termasuk surat kabar, majalah, penerbit buku, televisi, radio, media luar ruang, animasi, teater 4D, serta media digital. Termasuk di dalam portofolio tersebut adalah Republika, Golf Digest Indonesia, JakTV, JakFM dan Mahaka Advertising. Penerbit di bawah Mahaka Media juga telah menerbitkan buku-buku popular seperti Ayat-ayat Cinta yang juga telah difilmkan di bawah Mahaka Media.


Dengan aset Rp 444,77 miliar dan ekuitas Rp 120,94 miliar, Mahaka Media memiliki kapitalisasi pasar sebesar sekitar Rp 250 miliar. Terlihat dari grafik di atas , Mahaka Media memiliki pendapatan yang cukup stabil walaupun laba bersih dan arus kas operasionalnya fluktuatif. Ini disebabkan oleh model bisnis media yang mengandalkan pada ada tidaknya iklan, serta kekuatan ekonomi Indonesia yang menentukan bagaimana perusahaan membuat keputusan tentang pembelanjaan iklannya.