Thursday, December 18, 2014

Tema Pekan Ini: Pergerakan Rupiah

Jakarta, 19 Desember 2014 – Rupiah sempat terpuruk hingga mendekati Rp 13.000, sementara level nyaman Bank Indonesia adalah Rp 11.900 – 12.300. Indeks Harga Saham Gabungan sempat turun dan menyentuh level psikologis 5.000 sebelum kemarin melesat kembali karena penguatan Rupiah serta pernyataan positif dari the Fed.

Beberapa sektor yang terkena dampak terbesar sektor industri dasar dan pertambangan, walaupun sektor pertambangan juga terkena dampak ganda akibat penurunan harga minyak menjadi USD 55/ barel. Sementara sektor-sektor yang pada hari ini mampu melampaui level 1 Desember, yaitu ketika Rupiah melewati batas atas Rp 12.300,  hanya sektor property, industri aneka, serta infrastruktur.

Pelemahan Rupiah ini, walaupun telah diantisipasi, namun secara tak terduga terjadi secara cepat ketika menuju akhir tahun. Hal ini terkait dengan apa yang terjadi di Rusia, yaitu krisis politik terkait perlawananan terhadap Ukraina.

Bank Indonesia merasa nyaman dengan level Rp 11.900 – 12.300. Untuk itu Bank Indonesia menyatakan beberapa strategi: (1) current account deficit (CAD) atau defisit transaksi berjalan berada pada level yang suistanable yang bisa dibiayai oleh pendanaan; (2) inflasi terkendali, dimana kenaikan BBM direspon dengan kenaikan suku bunga 25 bps; (3) pengelolaan utang luar negeri swasta agar tidak berimbas ke makro ekonomi.

Bank Indonesia mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir Oktober 2014 sudah cukup terkelola, yaitu tumbuh 10,7% (year-on-year)-  Sedikit lebih melambat dibandingkan dengan pertumbuhan September 2014 sebesar 11,2% (yoy).

Sementara itu Pemerintah mengubah asumsi rupiah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) 2015 yang akan dibawa ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada awal tahun depan. Asumsi rupiah akan ditaruh di atas level Rp 12.000, naik dari sebelumnya Rp 11.900.  

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyatakan rupiah yang dinaikkan dalam anggaran tidak akan membuat defisit besar. Defisit masih tetap bisa mengarah ke level 2% dari pendapatan domestik bruto (PDB). Kenaikan Rupiah hanya akan membuat kenaikan bunga cicilan.

ASCEND merekomendasikan beberapa tips pemilihan saham di tengah pelemahan Rupiah:
  1. Mencari saham-saham yang tidak memiliki, atau hanya sedikit memiliki utang bervaluta asing. Makin tinggi level exposure terhadap utang luar negeri, maka pelemahan Rupiah akan makin menekan kinerja laba dan arus kas perusahaan;
  2. Mencari saham-saham yang memiliki natural hedging, yaitu di mana arus kas masuk berdenominasi sama dengan arus kas keluar. Apabila utang luar negerinya besar, namun pendapatannya pun dengan mata uang asing yang sama, hal ini berarti perusahaan tersebut telah menghilangkan risiko kursnya;
  3. Mencari saham-saham dengan basis pendapatan domestik yang besar serta tidak memiliki biaya-biaya impor misalnya property dan infrastruktur. Dengan alasan itu pula kedua sektor ini termasuk yang rebound tercepat pada hari ini. 




Wednesday, December 17, 2014

Asuransi Jiwa Nasional Diincar Perusahaan Asing

Jakarta, 18 Desember 2014 – Empat investor asing dikabari sedang mencari peluang bisnis asuransi jiwa di Indonesia. Hendrisman Rahim, Ketua Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menyebut, empat calon investor asing itu sedang menjajaki calon mitra lokal. Kerjasama dengan perusahaan asuransi internasional selalu mendapat persepsi positif di mata pasar keuangan.

Sebelumnya Dai-ichi Life, perusahaan asuransi dari Jepang,  sudah mengadakan kerjasama strategis dengan PT Panin Financial, Tbk (PNLF) pada tanggal 3 Juni 2013 dengan nilai transaksi Rp 3,3 triliun melalui penerbitan saham baru pada PT Panin Internasional, Tbk (PNIN) dan PT Panin Dai-ichi Life. Kerjasama ini meningkatkan nilai saham Panin Financial yang naik dari level Rp 210 di bulan Juni 2013 menjadi Rp 289 hari ini, atau naik 37,6%.

Setahun setelah kerjasama ini, Panin Financial membukukan penurunan pendapatan dan peningkatan laba. Pendapatan turun 8,1% menjadi Rp 2,69 triliun, sementara laba bersih naik 29,77% menjadi Rp 1,19 triliun. Kenaikan ini disebabkan oleh penurunan klaim dan manfaat bruto menjadi hanya Rp 1,82 triliun dibandingkan tahun sebelumnya Rp 2,39 triliun, serta penurunan beban umum dan administrasi menjadi Rp 105,78 miliar dari sebelumnya Rp 111,90 miliar.

Sebaliknya, PT Lippo General Insurance, Tbk, memilih untuk tidak bekerjasama dengan perusahaan internasional, dan tetap mampu mencatatkan pertumbuhan yang cukup baik. Pendapatan 9 bulanan tahun ini naik 14,0% menjadi Rp 554,13 miliar, sementara laba naik 15,3% ke Rp 59,18 miliar.


Walaupun demikian, pasar tetap memberikan apresiasi tinggi pada perusahaan yang bekerjasama dengan Siloam Hospitals Group ini, sehingga naik dari Rp 2.500 di pertengahan tahun 2013, menjadi  Rp 4.300 pada hari, setelah sempat naik ke level tertinggi di Rp 5.800. Pergerakan saham ini sayangnya kurang diikuti dengan tingkat likuiditas yang memadai yang juga ditekan oleh kurangnya jumlah saham beredar yang hanya 88,3 juta lembar. 
PNLF: Pergerakan Saham

LPGI: Pergerakan Saham

Tuesday, December 16, 2014

Acset Bisa Tumbuh Pesat Paska Alih Saham

Jakarta, 17 Desember 2014 - PT Acset Indonusa Tbk (ACST) perusahaan konstruksi dan pondasi, menargetkan pendapatan 2015 tumbuh 20% dari pencapaian tahun ini. Target pertumbuhan 2015 ini akan lebih tinggi paska selesainya transaksi PT United Tractors, Tbk (UNTR) resmi menjadi pemegang saham mayoritas.

Sampai dengan September 2014, Acset telah mencatatkan Rp 857,66 miliar, dan berharap akan berhasil mencapai target Rp 1,33 triliun. Pendapatan Acset dari kontrak konstruksi maupun kontrak pondasi berimbang, dan pondasi pada khususnya telah mendorong pertumbuhan pendapatan perusahaan yang dikuasai PT Cross Plus Indonesia dan PT Loka Cipta Kreasi ini  sampai 45,37%. Kinerja pendapatan tersebut telah mendorong pertumbuhan laba 43,6% menjadi Rp 68,6 miliar.

Acset berencana melepas 50,1% saham atau 250,5 juta lembar saham ke United Tractors. Pelepasan saham akan dilakukan dalam dua tahap, sebanyak 40 persen pada kuartal-I 2015 dan sisanya dengan penawaran ulang.

Sebelumnya Acset sedang merintis bisnis sewa alat melalui pendirian anak perusahaan. Tercatat, sejak 2013 perusahaan sudah mengoleksi tiga anak perusahaan di bidang perdagangan
dan penyewaan alat. Yang terbaru, Acset mendirikan  PT AMTC Pump Services, yang fokus menyewakan alat konstruksi, seperti alat cor pada kuartal III-2014.

Sementara dua anak perusahaan lain yang sudah lebih dulu berdiri adalah PT Sacindo Machinary dan PT Aneka Raya Konstruksi. Sacindo yang didirikan awal 2013, bergerak di bidang penyewaan dan perdagangan alat berat. Sedang Aneka Raya yang akan menggeluti usaha penjualan dan penyewaan alat berat vertikal. Aneka Raya resmi berdiri April 2014. Ketiganya masih belum memberikan kontribusi pendapatan kepada perusahaan.

ASCEND berpendapat bahwa walaupun saham Acset terlihat tidak merespon kabar baik akan dialihkannya saham kepada United Tractors, tetapi Acset memiliki banyak keuntungan dengan peralihan ini. Pertama, Acset tidak perlu merintis sendiri bisnis sewa alatnya, melainkan dapat bekerjasama dengan produk-produk United Tractors.

Kedua, pendapatan yang berasal dari perusahaan terafiliasi baik langsung dari United Tractors maupun perusahaan-perusahaan terafiliasi dengan United Tractors akan menjadi basis pendapatan segar bagi perusahaan yang akan meningkatkan kinerja labanya serta kepastian kontrak.


Ketiga, walaupun Acset telah mencatatkan rasio harga atas laba (P/E) 18x dan rasio harga atas nilai buku ekuitas (PBV) 2,7x, tetapi ASCEND melihat bahwa potensi pertumbuhan yang dimiliki oleh Acset masih cukup untuk mendorong harga saham sampai ke Rp 4.000 yaitu pada rasio P/E 22x dan PBV 3,3x.

Monday, December 8, 2014

Delisting Merck Masih Tunggu Investor

Jakarta, 9 Desember 2014 – Paparan Publik PT Merck Sharp Dohme Pharma, Tbk (SCPI)  pada hari ini mengetengahkan bahwa proses delisting masih berlanjut dan perseroan telah menyisihkan dana yang cukup untuk investor yang belum menjual kembali saham miliknya. Kinerja laba Merck meningkat cepat paska pengumuman delisting ini.

Merck menyatakan di dalam paparan publik yang bertempat di kantornya bahwa delisting dilaksanakan karena perseroan tidak memiliki kebutuhan dana yang harus dipenuhi dari publik. Seiring dengan revisi regulasi Penanaman Modal Asing (PMA) yang tidak lagi mengharuskan perusahaan asing untuk go public, maka perseroan memutuskan untuk keluar dari bursa.

Perseroan sebelumnya dikenal sebagai PT Schering-Plough Indonesia, Tbk yang memproduksi berbagai produk farmasi termasuk obat-obat analgesic Garamycin. Bagian dari Merck Sharp & Dohme Corporation, AS menyampaikan permohonan Voluntary  Delisting (delisting secara sukarela) pada tanggal 1 Februari 2013.

Sejak saat itu Bursa telah mensuspensi saham SCPI di level harga Rp 29.000. Suspensi ini sesuai dengan peraturan bursa nomor I-1 tentang Penghapusan Pencatatan (Delisting) dan Pencatatan Kembali (Relisting) Saham di Bursa pasal III.2.2.6 yang berbunyi: “Bursa melakukan Suspensi atas saham Perusahaan Tercatat yang berencana untuk melakukan Delisting saham atas permohonan Perusahaan Tercatat.”

Perseroan sendiri menawarkan untuk membeli kembali saham yang masih beredar dengan harga Rp 100.000 per lembarnya, jauh lebih tinggi daripada harga tertinggi saham SCPI sebesar Rp 43.000.

Ini sesuai dengan peraturan bursa yang sama pasal III.2.1.4 yang berbunyi: “Penentuan harga pembelian saham sebagaimana dimaksud dalam ketentuan III.2.1.3 di atas adalah berdasarkan salah satu harga yang tersebut di bawah ini, mana yang tertinggi: (1) harga nominal; (2) harga tertinggi di Pasar Reguler selama 2 (dua) tahun terakhir sebelum iklan pemberitahuan RUPS setelah memperhitungkan faktor penyesuaian ditambah premi berupa tingkat pengembalian investasi selama 2 (dua) tahun; (3) nilai wajar berdasarkan penilaian pihak independen.”

Harga tersebut tetap tidak berubah bagi sebagian kecil (1,57%) pemegang saham yang sampai kini masih belum menukarkan sahamnya dengan berbagai faktor ketidaktahuan dan pindah alamat. Perseroan juga tetap melaksanakan berbagai cara untuk mencari para pemegang saham ini.

Yang menarik adalah setelah 1 tahun mengumumkan proses delisting, rugi usaha perseroan turun signifikan dari US$ 140,7 miliar menjadi hanya US$ 8,72 miliar. Manajemen di dalam paparan publik mengatakan bahwa peningkatan penjualan yang sangat tinggi, baik dari ekspor maupun domestik telah  berkontribusi langsung kepada kenaikan kinerja ini. Pendapatan perseroan naik 140% menjadi US$ 691,17 miliar dari sebelumnya US$ 285,88 miliar.

Sampai saat ini ekuitas perseroan masih negatif US$ 960 juta. Apabila kinerja dapat dipertahankan seperti tahun ini, maka besar kemungkinan tahun depan ekuitas perseroan sudah kembali positif.






Sunday, December 7, 2014

Indika Energy Cairkan Pinjaman (Lagi), Peringkat Turun 2 Notch

Jakarta, 8 Desember 2014 -  PT Indika Energy Tbk (INDY) menarik pinjaman bank senilai US$ 30 juta. Pinjaman ini kemudian diteruskan ke anak usaha, Indika Capital Investments Pte Ltd (ICI). Rasio utang terhadap ekuitas setelah pencairan ini menjadi 1,5 kali.

ICI merupakan entitas anak yang bergerak di bidang perdagangan batubara. Kendati pasar batubara masih lesu, namun, Indika yakin ICI memiliki kemampuan untuk bisa menjalankan usahanya. Indika dan ICI telah menandatangani perjanjian pinjaman pada 3 Desember 2015.

Pinjaman dicairkan dari Bank Mandiri dan Citibank N.A Cabang Jakarta dengan nilai masing-masing sebesar US$ 20 juta dan US$ 10 juta. Pinjaman ini selanjutnya diberikan ke ICI sebagai utang dari pihak terafiliasi. Anak usaha yang berdomisili di Singapura ini akan menggunakan dana tersebut untuk memenuhi kebutuhan usaha.

Sampai akhir September tahun ini, ICI mencatatkan kerugian US$ 25.981, naik dari tahun lalu sebesar US$ 12.239. Sedangkan Indika sendiri mencatatkan kerugian US$ 9.61 juta, naik dari tahun lalu sebesar US$ 3.20 juta.

Kinerja operasional pemilik Santan Batubara dan Kideco Jaya Agung yang kurang baik ini ditambah dengan kecenderungan untuk terus meningkatkan utang mendorong pelaku pasar untuk menempatkan obligasi Indika di kategori obligasi non investasi (junk bonds), atau turun sekitar 2 notch bila dilihat dari current yield-nya.  

Obligasi senilai US$300 juta dengan kupon 7 persen yang jatuh tempo Mei 2018 sudah turun jadi US$ 84.79 sen untuk tiap dolar. Pada saat diterbitkan at par tahun 2011, Moody’s Investors Service memberikan peringkat B1, sementara Fitch Ratings member peringkat B+.


Harga saham Indika pun terus tertekan sejak September 2014.