Tuesday, September 3, 2013

Bumi Serpong Beli Plaza Indonesia, Beri Ruang PLIN untuk Ekspansi



Jakarta, 3 September 2013 - PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) membeli saham PT Plaza Indonesia Realty Tbk (PLIN) sebesar 4,22% senilai Rp 270,15 miliar. Dengan demikian PT Paraga Artamida yang juga merupakan pemegang saham utama dari BSDE, menguasai 34,21% dari PLIN, sementara pemegang saham lainnya (di bawah 5%) hanya memiliki 10,94%. AFN melihat pembelian ini merupakan kesempatan bagi PLIN untuk ekspansi, namun likuiditas perdagangannya akan menipis.

Dalam keterangan BSDE di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (30/8/2013) dijelaskan bahwa BSDE pada Rabu (28/8/2013) telah membeli saham PLIN yang beredar di pasar sebanyak 150.082.500 lembar, dengan harga Rp1.800/saham. Dana yang dikeluarkan BSDE untuk pembelian ini sejumlah Rp270,15 miliar dan berasal dari kas internal perusahaan. Dengan peningkatan ini porsi kepemilikan BSDE menjadi 8,22%.

Portofolio Plaza Indonesia yang beberapa di antaranya adalah Plaza Indonesia Shopping Center, Grand Hyatt Jakarta, FX Sudirman, dan The Plaza Office Tower. Portofolio ini menarik untuk dieksplorasi oleh BSDE yang memang memiliki kemampuan pengelolaan high-rise building melalui anak-anak perusahaannya seperti PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI) dan PT Sinarmas Teladan. Lokasi yang terletak di tengah-tengah Jakarta ini dapat memberikan nilai tambah kepada BSDE ke depannya.

Akan tetapi karena berkurangnya floating share (saham yang beredar di pasar) menjadi hanya 10,94% atau sekitar 355 juta lembar saham, likuiditas PLIN akan berkurang. Kini saja PLIN sering kali tidak mengalami perdagangan. Untuk investor minoritas yang ingin mendapat capital gain jangka pendek lebih baik tidak Hold terlalu lama saham PLIN.

Sumber: Laporan keuangan 30 Juni 2013 Perusahaan
Sumber: Laporan keuangan 30 Juni 2013 Perusahaan
AFN melihat pembelian ini positif baik untuk BSDE maupun untuk PLIN.
  1. Memberikan tambahan laba bersih kepada BSDE sebesar Rp 15,2 miliar pada tahun 2013 (dianualisasikan berdasarkan laba bersih semester I)
  2. BSDE memiliki portofolio yang lebih terdiversifikasi dan mengarah ke pusat Jakarta. Sebelumnya BSDE juga telah membeli tanah milik Bakrieland Development di bilangan Kuningan. Hal ini menunjukkan indikasi keinginan BSDE untuk merambah ke pusat Jakarta selian juga mengembangkan properti di wilayah-wilayah lain di Indonesia, seperti Makasar, Surabaya. 
  3. BSDE melakukan pembelian dengan kas internal tanpa ada tanda-tanda akan menganggu aktivitas operasionalnya sendiri;
  4. PLIN memiliki keuntungan menjadi bagian dari grup properti Sinarmasland melalui kepemilikan Paraga Artamida dan BSDE dalam hal pencitraan, profesionalisme, dan perencanaan strategis


Monday, September 2, 2013

BATA Tumbuh Moderat, Tapi Harus Perhatikan Persediaan

Jakarta, 2 September 2013 - PT Sepatu Bata Tbk (BATA) mencatatkan pendapatan 1 semester sebesar Rp 383 miliar, meningkat 16% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2012. Laba bersih dari penjualan ini adalah Rp 23,52 miliar, mencerminkan marjin laba bersih 6,14% dan imbal hasil atas ekuitas (ROE) 11,89%. Di tengah peningkatan pendapatan ini, AFN merekomendasikan perusahaan untuk mengamati perkembangan peningkatan persediaan yang signifikan.

Sumber: laporan keuangan 30 Juni 2013 perusahaan
BATA, produsen sepatu dengan berbagai merek termasuk merek Bata sendiri yang sudah terkenal, memang memiliki kinerja keuangan yang baik pada semester I ini. Pertama, ada pertumbuhan pendapatan sebesar 16%. Kedua, tingkat leverage yang rendah tercermin dari rasio liabilitas terhadap ekuitas yang hanya 0,78x. Ketiga, rata-rata hari piutang cukup pendek yaitu 22 hari yang artinya arus kas mengalir dengan lancar.

Sumber: laporan keuangan 30 Juni 2013 perusahaan
Akan tetapi peningkatan persediaan terjadi secara signifikan yaitu sebesar 48% sejak penutupan tahun 2012 menjadi Rp 328,8 miliar. Rata-rata hari persediaan mencapai 287,4 hari, artinya Rp 1 persediaan disimpan selama 287,4 hari. Sebagian besar dari persediaan tersebut adalah persediaan barang jadi. Perusahaan juga melaporkan adanya peningkatan mutasi cadangan persediaan yang lambat pergerakannya sebeasr 11% menjadi Rp 12,34 miliar.

Sumber: laporan keuangan 30 Juni 2013 perusahaan
Hal ini sejalan dengan pengamatan AFN ditambah dengan interview ringan bahwa sepatu merek BATA dan merek-merek lain yang di bawah grup tersebut kini tidak lagi menjadi prioritas. Di pangsa kelas atas BATA kalah dengan berbagai merek yang masuk di ruang-ruang komersial seperti Rockport dan Brain Buffel. Sementara di pangsa kelas untuk sepatu remaja, BATA kalah dengan Converse dan Crocs yang juga baru masuk.



Rekomendasi AFN terhadap perusahaan adalah BATA perlu mendefinisikan ulang pasar yang ingin disasarnya sehingga dapat meningkata penjualan dengan lebih signifikan dan menurunkan persediaan.

Friday, August 30, 2013

Buyback Saham: Efektifkah?

Jakarta, 30 Agustus 2013 - Kondisi pasar saham yang bearish dalam beberapa pekan belakangan ini telah menyulut minat para emiten untuk melakukan pembelian kembali (buyback) saham-sahamnya. Walaupun tindakan ini serupa dengan yang terjadi pada tahun 2008 - 2009, namun AFN melihat bahwa buyback kali ini tidak akan se-efektif saudara tuanya.

Minat buyback saham ini mengikuti peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang resmi diberlakukan sejak 26 Agustus 2013, yaitu mengijinkan emiten melakukan buyback tanpa persetujuan RUPS. Tujuannya adalah untuk meredam gejolak pasar yang tertekan dari titik tertingginya di 5.251 menjadi hanya 4.195 setelah sempat di bawah level 4.000 pada pekan ini.

Secara umum tujuan buyback ada dua. Pertama adalah untuk memberi sinyal pada pasar bahwa harga wajar saham ada di atas harga pasarnya. Kedua, adalah perusahaan memiliki potensi laba dari selisih buyback dan penjualan kembali saham treasuri tersebut.

Pada tahun 2008, banyak buyback dilakukan untuk memberikan sinyal dan kepercayaan kepada pasar bahwa harga saham ada di bawah nilai wajarnya (undervalued). Beberapa saham yang di-buyback tahun 2008 memiliki P/E di bawah 10, seperti PT Wijaya Karya, Tbk (WIKA). Waktu itu IHSG hanya di level 1.200.

Kini, IHSG sudah 4 kali lipat dari level tersebut. Artinya harga sudah berada di sekitar nilai wajar - kalau tidak melampauinya (overvalued). Apakah sinyal yang akan ditransmisikan perusahaan melalui buyback itu akan diterima oleh pasar? AFN melihat bahwa penurunan ini disebabkan oleh sudah overvalued-nya pasar dan pasar malah sedang mencari titik ekuilibrium yang lebih wajar.

Bila dilihat pada tabel, beberapa saham malah sudah memiliki harga di atas 3 kali nilai buku, seperti Semen Gresik, dan MNC Sky Vision. Apakah pertumbuhan ekonomi Indonesia akan sedemikian agresifnya di tengah pelemahan ekonomi dunia, sehingga harga tersebut dapat dijustifikasi, bahkan ditingkatkan lagi?

Karena alasan-alasan ini, maka AFN merekomendasikan supaya buyback yang dilakukan oleh emiten harus:
1. Mempertimbangkan dengan lebih hati-hati nilai wajar dari saham, bukan hanya melihat kepada harga tertinggi yang pernah dicapai tetapi juga ekonomi secara keseluruhan;
2. Melakukan buyback untuk menjaga likuiditas, terutama untuk saham-saham yang kurang likuid seperti Mitra Pinasthika Mustika (MPMX) dan Perdana Gapuraprima (GPRA);
3. Buyback dilakukan bukan untuk memberikan sinyal naik, namun untuk membantu saham kembali ke harga wajarnya melalui penyusutan jumlah saham beredar. Hal ini nampak sekali pada saham-saham yang memiliki nilai buku lebih dari 5 seperti MNC Sky Vision (MSKY) dan Media Nusantara Citra (MNCN);
4. Tidak berasal dari dana leverage (utang) atau dana yang akan digunakan oleh operasional dan investasi ke depan, serta harus siap dengan adanya kerugian dari buyback tersebut (harga jual di bawah harga beli). 

Monday, August 26, 2013

Pertumbuhan Moderat, Saham Indofood Tidak Bergerak

Jakarta, 27 Agustus 2013 - PT Indofood Sukses Makmur, Tbk (INDF) mencatatkan pertumbuhan moderat, 9,3% menjadi Rp 26,86 triliun. Pertumbuhan ini sesuai dengan ekspektasi, dan tidak berhasil mengangkat harga saham INDF yang terus turun selama 2 hari ini sampai ke Rp 5.850.

Penjualan neto Indofood tercatat tumbuh 9,3% sementara laba kotor dan laba usaha turun masing-masing 4,01% dan 18,08%. Penurunan laba ini terutama dikarenakan penurunan kinerja Grup Agribisnis yang terimbas harga komoditi yang melemah. Hasilnya, tingkat marjin profitabilitas perusahaan juga turun.


Pertumbuhan moderat dan penurunan laba ini tidak berimbas banyak kepada kinerja saham INDF. Saham INDF sudah turun sejak 19 Agustus setelah sebelumnya fluktuatif di kisaran Rp 6.200 - 7.200. Walaupun kinerja tersebut tertekan juga oleh faktor pasar, tetapi rilis laporan keuangan hari ini tidak mampu mengangkat kinerja harga. Bahkan saham INDF sempat tertekan sampai Rp 5.700, level yang setara dengan akhir Desember 2012.

Riset yang dikeluarkan oleh Danareksa Sekuritas menyatakan bahwa peningkatan penjualan yang moderat serta penurunan laba ini telah diekspektasi. Pertumbuhan penjualan tetap didukung oleh Grup CBP yang terdiri dari divisi Mi Instan, Dairy, Makanan Ringan, Penyedap Makanan dan Nutrisi & Makanan Khusus yang menyumbang 44,8% dari total penjualan serta Bogasari yang menyumbang 26,6%.


Danareksa tetap mematok harga wajar INDF pada Rp 7.050 atau 20% di atas harga kini di Rp 5.850.

Harga CPO Naik, Astra Agro Catatkan Pertumbuhan Penjualan

Jakarta, 27 Agustus 2013 - Harga minyak sawit naik tertinggi selama 8 bulan akibat cuaca yang tidak baik bagi kedelai. Kenaikan ini akan dirasakan Astra Agro Lestari di kuartal keempat 2013 dan pertama 2014. Sementara itu, sampai bulan Agustus, AALI mencatatkan pertumbuhan penjualan 14,1%.

Harga sawit naik karena kekuatiran bahwa panen kedelai di Amerika Serikat, produser terbesar kedelai, tidak mampu memenuhi kontrak akibat cuaca yang kering. Akibatnya kontrak untuk delivery November naik 3,6% menjadi RM 2.451 ($743) per metrik ton di Bursa Derivatif Malaysia. Kenaikan ini tertinggi sejak 21 Desember di RM 2.440.

Sementara itu PT Astra Agro Lestari, Tbk (AALI) mencatatkan volume penjualan CPO sebesar 884.180 ton, naik 14,1%. Kenaikan ini adalah hasil dari kenaikan produksi CPO sebesar 8,2% pada tujuh bulan pertama tahun 2013. Sebesar 868.681 ton adalah penjualan lokal sementara ekspor sebesar 15.499 ton, dengan kenaikan masing-masing sebesar 14,1% dan 14,9%. Namun untuk harga
yang diperdagangkan turun sebesar 14,1%.
Sumber: Rilis perusahaan

Pada periode ini, kontribusi kenaikan volume penjualan kernel sebesar 71,5% atau sebesar 186.191 ton, dengan harga rata-rata penjualannya sebesar Rp 2.967 /kg turun sebesar 25,1% dari Rp
3.962 /kg di tahun 2012.

Produksi CPO AALI sampai dengan bulan Juli 2013 mencapai 835.094 ton. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, produksi CPO AALI Januari – Juli 2013 meningkat sebesar 8,2%. Selama periode tersebut, produksi TBS AALI mencapai 2,84 juta ton, turun sebesar 4,5% dengan yield
rata-rata sebesar 11,86 ton /ha. Dari seluruh TBS AALI yang dihasilkan, 42% berasal dari area Sumatera, sementara area Kalimantan dan Sulawesi masing-masing memberi kontribusi sebesar 38,7% dan 19,3%.

AFN ekspektasi bahwa kenaikan harga CPO ini akan berdampak positif kepada pendapatan AALI di kuartal keempat 2013 dan kuartal pertama 2014.Namun di pasar modal, ekspektasi ini sudah mengejawantah menjadi peningkatan harga yang sangat signifikan apalagi di dalam pasar yang sedang bearish.

Dalam laporan keuangan AALI untuk Semester I tahun 2013, AALI mencatatkan pendapatan bersihnya sebesar Rp 5,5 triliun atau turun sebesar 2,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 5,6 triliun, dengan perolehan laba bersih sebesar Rp 717 miliar turun sebesar 25,2% dari Rp 958,6 miliar pada tahun lalu, hal ini sebagai dampak dari turunnya harga CPO AALI sepanjang Semester I tahun 2013 sebesar 15,8%, yaitu dari Rp 7.886 /kg pada periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 6.638 /kg.

AALI: Harga Sudah Terbang Mengantisipasi Kenaikan Pendapatan


Sampai dengan Juli 2013, Malaysia meningkatkan produksi CPO menjadi sebesar 10,07 juta ton, meningkat sebesar 5,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yaitu sebesar 9,51 juta ton. Kenaikan produksi tersebut utamanya berasal dari perolehan produksi di bulan Juli yang mencapai 1,68 juta ton. Sementara untuk perkiraan produksi CPO Malaysia tahun 2013 mencapai 19,23 juta ton atau naik sebesar 2,4% dari produksi tahun lalu sebesar 18,79 juta ton.