Wednesday, July 31, 2013

Semester Kedua 2013, Konsumer Berpotensi Jadi Penggerak IHSG



Sektor konsumer diprakirakan mendorong pergerakan IHSG pada kuartal ketiga hingga akhir tahun. Pertama karena secara jangka panjang sektor konsumer memang masih memiliki permintaan yang tinggi. Kedua karena sektor-sektor lainnya diperkirakan masih berpotensi melemah. 

Sektor konsumer telah menguat 30,54% ytd dan 32,20% yoy. Potensi jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia yang mencapai 100 juta lebih dan terus tumbuh menjadi potensi pasar sektor konsumer meskipun dibayangi perlambatan ekonomi global. Ditambah lagi, Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di dunia setelah China. Emiten konsumer akan lebih fokus untuk memasok kebutuhan barang konsumsi domestik dibanding memprioritaskan pasar ekspor mengantisipasi perlambatan ekonomi global.

Perilaku orang Indonesia yang cenderung konsumtif berpotensi mendorong pertumbuhan sektor konsumer. Hal ini mendorong permintaan terhadap barang konsumsi dari tahun ke tahun konsisten meningkat. Pertumbuhan ekonomi RI dalam 9 tahun terakhir lebih banyak ditopang dari sektor konsumsi rumah tangga. 

Perilaku manajer investasi yang selalu mencadangkan portofolionya pada sektor ini membuat permintaan terhadap saham sektor konsumer selalu tinggi. Saat ini, Mandiri Investasi dan Saratoga Investama telah menyatakan akan menambah portofolio mereka pada sektor konsumer mulai kuartal ketiga mengantisipasi perlambatan ekonomi global. Tren bahwa saham konsumer selalu mengalami pertumbuhan laba dan dengan disertai likuiditas tinggi juga mendorong manajer investasi memegang saham konsumer. Umumnya Manajer Investasi memilih emiten sektor konsumsi yang memiliki produk makanan atau minuman. 



Faktor psikologis bahwa saham konsumer selalu memberikan marjin 15% hingga 40% di tengah resesi sekalipun mendorong potensi pertumbuhan saham sektor konsumer. Marjin tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan seluruh industri di pasar yang hanya memberikan marjin sekitar 15% hingga 20%.  

Namun pada jangka pendek, sektor konsumer masih dihadapkan permasalahan seperti pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS, kenaikan bahan bakar minyak, inflasi, kenaikan tarif dasar listrik, upah buruh dan ancaman produk kompetitor. 

Lagi, secara valuasi saham, sektor konsumer dinilai relatif mahal dibandingkan dengan rata-rata pasar.  Rasio laba per lembar saham (PER) rata-rata sektor konsumer pada angka 26 kali jauh lebih tinggi dibandingkan rasio PER IHSG pada kisaran 17 kali. Namun, fakta bahwa beberapa emiten unggulan sektor konsumer membagikan dividen hampir 100% dari laba bersih yang dibukukan menjadi daya tarik tersendiri

Sementara sektor lain dalam jangka pendek diproyeksikan akan tertekan karena berbagai faktor. Seperti sektor properti dan finansial yang selama awal tahun 2013 telah menjadi motor penggerak indeks. Paska tingginya inflasi dan kenaikan suku bunga Bank Indonesia, diproyeksikan kedua sektor ini akan tertekan karena akan menekan penyaluran kredit perbankan. Kebijakan Bank Indonesia yang menaikkan uang muka kepemilikan properti kedua dan ketiga akan menekan kinerja kedua sektor ini.
Sektor tambang dan pertanian di tengah masih melemahnya harga komoditas, masih akan tertekan setidaknya hingga akhir tahun. Harga komoditas dunia cenderung tertekan karena kelebihan pasokan. Diprakirakan keseimbangan antara pasokan dan permintaan akan terjadi setidaknya tahaun 2014.

Sektor industri dan manufaktur akan diuji dengan melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS. Pembelian bahan baku industri dan manufaktur yang rata-rata menggunakan denominasi Dollar akan mendorong kenaikan beban produksi. 

Sektor Infrastruktur paling mungkin menjadi pesaing sektor konsumer dalam menggerakkan IHSG. Sektor ini relatif bertahan di saat tekanan makroekonomi semakin tinggi seperti sektor konsumer. Belanja modal pemerintah yang ditambah porsinya dalam APBN 2013, menjadi ruang aman untuk saham-saham infrastruktur untuk mencapai target pendapatannya. 

No comments:

Post a Comment